Top 10 Penulis

I Suara-Suara Hati

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

A woman holding a heart
Photo by Bart LaRue

Bagian pertama dari konsep Etos Kerja Catur Dharmadas+

“Rapat jam 7, ini sudah jam 8, yang hadir baru 2 orang. Yang lain di mana?

“Pengurus yang lain entah di mana semua. Mereka sulit sekali untuk diminta membantu. Tetapi mereka kecewa dan merasa tidak dilibatkan bila kegiatan telah mulai dilaksanakan”.

“Rapatnya lama sekali, pembahasannya muter-muter, banyak yang ngobrol sendiri.

“Keputusan yang dibuat selalu mendahulukan kepentingan dia”

“No respond. Tidak ada yang memberi tanggapan atas pesan saya di grup WA’

“Ini bukan urusan Pusat, ini urusan pengurus daerah”

“Kamu hanya PP, ini urusan DPP”.

dan sebagainya dan lain-lain

. . .

. . . .

Pernahkah Anda mendengar ungkapan-ungkapan di atas? Tidak harus persis, tetapi nadanya serupa. Intinya adalah keterkejutan, kekecewaan, bahkan terkadang kemarahan. Teman menjadi musuh, sahabat menjadi orang asing. Mengabdi dan melayani untuk Buddha Dharma pun tidak luput dari goresan luka dan sakitnya duka. Anda boleh tidak percaya, tetapi itu memang kenyataan yang ada.

Masalah adalah kesempatan. Menerima duka adalah pintu menyembuhkan luka. Yang buruk tidak perlu dipungkiri apalagi ditutup-ditutupi. Wajah dunia pengabdian memang seperti itu. Tidak perlu alergi, apalagi antipati. Jujur apa adanya adalah awal untuk mengatasi masalah.   Sebagai Buddhis, kita sudah akrab dengan masalah, rintangan, atau apa pun itu namanya.

Salah satu ajaran utama Buddha adalah kenyataan tentang dukkha. Satu dari tiga ciri kehidupan adalah dukkha. Fakta bahwa dukkha ada harus dipahami (SN 56.11). Kita tidak akan pernah luput dari duka dan luka dalam pengabdian dan pelayanan supaya Buddha Dharma tetap lestari dan memberikan manfaat seluas-luasnya kepada banyak makhluk. Ia adalah ciri-ciri kehidupan yang sudah pasti, dan di wihara atau organisasi Buddhis tempat banyak orang mengabdi pun tetap terjadi. 

Apakah kita akan diam saja tatkala mendengar suara-suara hati seperti itu? Geming berarti membiarkan semakin banyak jiwa yang tidak bahagia. Suka cita dan kegembiraan semakin menjauh. Tawa riang sayup terdengar, digantikan senyum kecut dan penyesalan yang datang terlambat. Oleh sebab itu, kita bergerak. Solusi harus dicari dan dieksekusi. Kita harus peduli agar semakin banyak sahabat yang hepi  saat mengabdi dan melayani untuk Buddha Dharma yang kita cintai.

Bersambung ke bagian 2

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

brown statue
Perilaku sombong merugikan karena umat tidak suka pandita yang sombong, dan tidak menghormati mereka. Kesombongan membangun tembok yang memisahkan pandita dengan umat sedangkan kerendahan hati adalah jembatan yang menghubungkan pandita dengan umat.

Tulisan Terkait