Top 10 Penulis

Ibuku Seorang Pelacur

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Gelap, malam, dark, lampu, Unsplah bokey photography of red and blue light

Di Kawasan pinggiran, hiduplah seorang wanita bersama anak lelakinya. Ia adalah seorang pelacur.

Sang anak lelaki yang sangat mencintai ibunya. Meskipun, ia selalu dicela masyarakat. Ibunya adalah seorang Pelacur!

Menjadi anak pelacur bukanlah kutukan. Sang anak bertekad untuk menjadi baik. Agar ia tidak akan lagi mendengar cemohan. “Ibumu adalah seorang Pelacur!”
Pesantren pun jadi pilihan. Menjadi seorang santri yang berbudi luhur. Selalu membantu masyarakat, membangun citra yang baik, agar ia bisa diterima apa adanya – Anak dari seorang Pelacur!

Usaha sang anak berhasil. Masyarakat bisa menerima dirinya, sebagai seorang santri yang Budiman. Plus cemohan, “kamu tetap anak seorang Pelacur!”

Syahdan, suatu hari ibunya meninggal dunia. Sang anak bersedih, rindu muncul dari hatinya yang beku. Ingin rasanya bertemu sang ibu. Walau ke akhirat pun akan kukejar. Tidak akan jauh dari neraka, “karena Ibuku adalah seorang Pelacur!”
“Aku ingin ke neraka, di sanalah tempat ibuku berada,” sang anak bertekad.
Tapi, manalah mungkin. Sang anak adalah seorang yang soleh. Menjadi santri adalah jaminan masuk surga. Ia rajin menolong orang, neraka tidak akan mau menerimanya. “Tidak sama seperti ibuku yang seorang Pelacur!”

Sang anak berduka, sang anak gundah. Hatinya penuh amaran, jiwanya diliputi kenestapaan. “IBUKU ADALAH SEORANG PELACUR!”

Sang anak muak dengan kebaikan. Ia ingin masuk neraka. Bertemu dengan ibunya. Rencana pun dijalankan, golok terhunus tajam.

Kakinya melangkah keluar dari pesantren. Tempatnya menuntut ilmu. Pikirannya sudah tidak lagi menentu. Hasratnya sudah menggebu. “Aku ingin bertemu ibuku yang seorang Pelacur!”

Golok ditebas, membabi buta melibas. Semua orang yang ditemuinya mati digilas. Masyarakat tidak terima. Sang anak dikeroyok. Pantaslah ia mati, karena “Ia adalah anak seorang Pelacur!”

Neraka sekarang ia berada. Rasa takutnya tidak ada. Rasa rindunya membuncah. Ia mencari ibunya, takada di sana.

“Di manakah ibuku,” sang anak bertanya kepada malaikat penjaga.
Lalu sang malaikat menjawab. Dulunya ia di sini. Menantimu dalam sepi. Tapi, ia tahu jika neraka bukanlah tempatmu.

Kini ia sudah berada di surga. Dengan kecantikannya, ia berhasil merayu malaikat penjaga.

Ibumu sudah bukan pelacur lagi!

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

silhouette of man and woman under yellow sky
Kemarahan menjadi konten yang sangat berharga untuk disebarkan. Jika menjadi viral, kita turut bangga. Sangat tidak mengenakkan dan sangat tidak sehat.
grayscale photo of person holding glass
Sementara mereka yang bijak memiliki strategi yang tepat, yang dapat membuat mereka menang tanpa harus bertarung.

Tulisan Terkait