Bagian ketiga dari konsep Etos Kerja Catur Dharmadas+
Dari berbagai penjelasan di atas, pengertian etos kerja dalam buku ini adalah budaya kerja individu dan kelompok sebagai wujud karakter dan perilaku positif yang memengaruhi peningkatan kinerja, yang kemudian akan menjadi budaya organisasi. Dengan kata lain, etos kerja adalah budaya organisasi dalam bekerja.
Pengembangan etos kerja bagi para abdi Dharma dan pandita/dharmaduta penting karena Planned Based Theory menyatakan bahwa sikap positif, dukungan dari orang sekitar, persepsi akan kemudahan akan meningkatkan minat seseorang untuk berperilaku.
b. Etos Kerja dan Buddha Dharma
Ada empat hal yang diinginkan di dunia namun sulit didapat; kekayaan, nama baik, menikmati usia tua, dan kelahiran mendatang yang baik (AN 4.61). Kaya raya, sukses, dan terkenal dapat diraih dengan menjadi seorang pebisnis atau karyawan di berbagai bidang, yang terbaik adalah yang tidak bertentangan dengan ajaran Buddha tentang lima jenis perdagangan yang terlarang yaitu senjata, makhluk hidup, daging, minuman memabukkan, dan racun (AN 5.177). Pengumpulan kekayaan oleh Buddhis perumahtangga dilakukan tanpa menimbulkan penderitaan bagi makhluk lain dan menyebabkan kemunduran batin.
Setiap orang punya kesempatan untuk meraih empat keinginan tersebut selama mereka mampu menciptakan sebab dan kondisi yang tepat. Ini ada karena itu ada, ini tidak ada karena itu tidak ada (SN 12.21). Lampu minyak membutuhkan minyak dan sumbu (SN 36.7), kekayaan dikumpulkan dengan cara yang sah, dan usaha dengan penuh tenaga dan semangat (AN 4.61). Kekayaan akan dikumpulkan dan sukses akan diraih siapa saja yang berhasil memenuhi syarat-syaratnya.
Salah satu faktor yang merefleksikan kesuksesan bisnis adalah etos kerja (Soekanto & Mustikarin, 2017). Komitmen pribadi dalam melakukan aktivitas untuk mencapai kesuksesan secara individu dan tujuan organisasi juga dipengaruhi oleh variabel etos kerja (Hamid et al., 2021). Huda (2016) menjelaskan bahwa etos kerja sebagai pola pikir terhadap semangat dalam bekerja didasari oleh nilai yang menjadi keyakinan.
Buddha mengajarkan tentang keteguhan untuk melakukan apa yang harus dilakukan dan menegaskan bahwa suatu perbuatan yang tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh hanya akan mendapatkan hasil yang kecil (SN 2.8). Dalam SN 12.22 tertulis bahwa mereka yang bersemangat merasakan kebahagiaan, jauh dari keburukan yang tidak berguna, dan mendapatkan kebaikan pribadi yang sangat besar. Menggunakan metafora gagang kapak yang tidak diketahui berapa banyak ia telah aus, Buddha menjelaskan kepada para biksu tentang manfaat berdiam tekun dalam pengembangan karena ketika nodanoda lenyap, pengetahuan muncul bahwa nodanoda itu telah lenyap (SN 22.101). Manfaat dari ketekunan akan didapatkan dan dirasakan pada akhirnya. Menerapkan etos kerja dengan tekun dan bersungguh-sungguh dalam melakukan ketekunan pasti akan berguna dan menghasilkan berkah.
Bersambung ke bagian empat
Daftar Pustaka
Soekanto, A., & Mustikarin, C. (2017). Faktor Pendorong Kesuksesan Bisnis Start-Up Di Surabaya. Performa: Jurnal Manajemen Dan Start-Up Bisnis, Agustus, 2(3), 306–315.
Hamid, N., Shaleha, W. M., & others. (2021). Etos Kerja dan Pengembangan Karir Terhadap Komitmen Organisasi Karyawan pada Hotel Claro Kota Kendari. Valuasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Manajemen Dan Kewirausahaan, 1(1), 200–215. https://doi.org/10.46306/vls.v1i1
Huda, C. (2016). Etos Kerja Pengusaha Muslim (Studi Kasus pada Pengusaha Muslim Alumni UIN Walisongo Semarang). Economica: Jurnal Ekonomi Islam, 7(2), 79–107.

















