Top 10 Penulis

Indera Ke-enam

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

boy with gold eye
Photo by MohammadHosein Mohebbi

Yang umum dikenal adalah panca indera, penglihatan, pendengaran, penciuman, penyentuhan dan pengecap.

Jika tidak cacat apapun, tidak terhalang awan, mata mampu melihat objek yang ada di ribuan bahkan jutaan kilometer, seperti melihat matahari, bulan dan bintang. Telinga dapat mendengar suara yang beberapa kilometer. Hidung lebih dekat lagi, hanya dapat mencium bau-bauan sekitar beberapa meter saja.

Kulit hanya dapat merasakan kalau benar-benar tidak ada jarak, jarak sama dengan nol. Objek harus menempel di kulit. Lidah hanya dapat mengecap rasa kalau objek dimasukkan ke dalam mulut, jarak dengan objek minus.

Proses kognitif (mengenali) panca indera harus memenuhi syarat, yaitu adanya objek, indera secara fisik yang sehat, adanya media pengantar, kontak, perhatian, adanya kesadaran indera, barulah objek tersebut dikenali. Jika salah satu syarat tidak terpenuhi, maka proses kognitif tidak terjadi.

Misalkan proses melihat, adanya sepiring nasi dalam jangkauan penglihatan, mata dalam keadaan sehat, adanya cahaya, perhatian diarahkan, terjadilah kontak, kesadaran indera penglihatan muncul, barulah sepiring nasi dikenali. Semua proses ini dijelaskan secara detail, yang dikenal dengan istilah Citta Vīthi.

Selain panca indera yang umum dikenal, Buddha menyebutkan pikiran juga sebagai indera keenam, yang bekerja mengenali aktivitas pikiran/batin. Seperti mengenali perasaan kecewa, senang, netral, emosi benci, marah, serakah, iri dan lainnya. Indera-pikiran dalam bahasa Pali dikenal sebagai mano. Keenam indra ini disebut sebagai salayatana.

Proses kognitif yang indera-pikiran, sama seperti proses indera lainnya. Harus ada objek (pikiran), indera-pikiran dalam kondisi baik, perhatian, kontak, adanya kesadaran-pikiran (mano viññāṇa), barulah objek pikiran tersebut dikenali.

***

Dari panca indera, apa yang dikenali oleh lidah adalah yang paling sulit dijelaskan. Menjelaskan rasa buah matoa dengan kata-kata, tidak akan dapat dipahami orang lain.

Sama halnya apa yang dikenali oleh indera-pikiran tidak dapat dijelaskan pada orang lain, menjelaskan yang dikenali oleh lidah saja sudah sulit, apa lagi menjelaskan apa yang dikenali oleh indera-pikiran.

Satu-satunya cara untuk mengenali apa yang dikenali oleh lidah adalah dengan cara mencicipi sendiri. Begitu mencicipi, maka sudah jelaslah apa yang dimaksud.

Indera-pikiran (selanjutnya disebut mano) jauh lebih sulit, karena objek pikiran tidak dapat dikenali oleh indera lainnya. Jika buah matoa dapat dilihat, dapat dipegang, tidak demikian objek pikiran. Objek mano adalah dhamma (biasanya ditulis dengan huruf kecil), yang merupakan aktifitas batin.

***

Dalam kondisi tertentu kita mengetahui kita marah, yang mengetahui kita marah adalah mano. Hal ini terjadi karena mano sedang aktif, tetapi pada umumnya lalai.

Tidak seperti objek panca indra yang dapat dikenali oleh orang lain, objek dari mano tidak dapat dikenali oleh orang lain. Satu-satunya cara untuk mengenali semua objek mano adalah dengan melihat langsung pada diri masing-masing, yang dikenal sebagai ehipassiko.

***

Untuk meningkatkan kemampulan melihat objek indera-pikiran atau aktivitas batin, mano dilatih dengan citta bhavana, yang kita kenal sebagai meditasi. Meditasi adalah salah satu ajaran pokok yang diajarkan oleh Buddha Gautama, bahkan beliau sendiri yang memberikan instruksi secara langsung pada murid-muridnya, banyak sekali petunjuk-petunjuk meditasi tercatat dalam kitab suci Tripitaka.

Karena mano tidak terlatih, maka tidak mampu mengenali objek pikiran dan juga karena pikiran terlalu sibuk. Ketika berlatih meditasi, dilatih untuk mengamati satu objek saja, misalkan keluar masuknya nafas, ketika sudah terlatih maka akan dapat mengamati keluar masuknya nafas dengan lebih baik, dapat mengenali ketika pikiran meninggalkan objek meditasi, dapat mengenali adanya kemalasan, kegelisahan/kekhawatiran, niat buruk, keraguan, nafsu dan lainnya.

Sesuai kebiasaan, begitu mengenali objek pikiran, jika objek menyenangkan biasanya dikejar. Ketika hal ini terjadi, pikiran menjadi sibuk kembali. Jika objek tidak menyenangkan, berusaha untuk menolaknya, akibatnya pikiran menjadi sibuk menolak.

Karena sibuk, mano tidak bekerja. Tapi dalam kondisi baik, kita dapat mengetahui bahwa pikiran sedang mengembara, sedang melamun. Ketika hal ini diketahui, artinya mano bekerja.

Mano yang tidak terlatih, seperti seseorang menetap di negara asing, apapun menjadi asing baginya. Tinggal di daerah asing, mula-mula mengenal jalan pergi pulang ke rumah, lalu jalan ke pasar, ke kantor, ke sekolah, mengenali gendung, rumah, jembatan, toko, restaurant, makanan dan lainnya. Banyak yang harus dikenali, karena semua asing. Demikian juga mano, harus belajar mengenali objek nya satu-per-satu. Semakin terlatih semakin banyak yang dapat dikenali.

Tentu saja yang paling sulit dikenali adalah noda batin, Sang Buddha (dalam Saṃyutta Nikāya, Khandhavagga, e-book dapat diunduh di sini) mengatakan, bahwa hanya mereka yang mampu mengenali noda, barulah dapat menghancurkan, bukan seseorang yang tidak mengenali noda.

***

Buddha Gautama mengajarkan untuk melihat semua aktivitas itu sebagaimana apa adanya, bahwa semua aktivitas tersebut hanya muncul, sebentar, lalu lenyap, tidak kekal (anicca).

Ketika aktivitas pikiran dikenali, muncul, sejenak lalu lenyap. Muncul lagi lenyap lagi, semua aktivitas pikiran tersebut hanya muncul lenyap, tidak bertahan lama. Jika bertahan lama, sebenarnya aktivitas yang sama yang muncul berturut sehingga sepertinya ada bertahan lama atau selalu ada, padahal tidak demikian.

Melihat muncul lenyapnya semua aktivitas pikiran/batin dan hubungan satu dengan lainnya secara langsung merupakan ehipassiko, yang menimbulkan keyakinan sangat kuat bahwa tidak ada yang kekal.

Keyakinan yang didasarkan pada pengalaman langsung ini disebut saddha, secara perlahan menumbuhkan kebijaksanaan bahwa tidak ada satupun yang pantas dilekati, karena semuanya akan berlalu.

***

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

persons face in close up
Anatta artinya tidak dapat disebut diri (bukan diri), sehingga membingungkan. Dari kalimat “sabbe dhamma anatta”, mengapa ajaran Sang Buddha disebut bukan diri, bukan aku?.
an empty road with mountains in the background
Bhikkhu, apakah Para Tathāgata muncul di dunia atau tidak, terdapat kondisi yang tetap dari segala sesuatu, terdapat hukum yang pasti dari segala sesuatu....

Tulisan Terkait