Top 10 Penulis

It Is Okay

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

girl, child, sugar
Photo by cetinkgan

Dunia selalu membutuhkan kasih. Udara menjadi segar, sungai-sungai bersih dan jernih, taman-taman menghijau dan indah, lalu lintai ramai tapi lancar, dan semua hal baik di dunia terjadi karena kasih. Dengan kasih, orang hanya ingin membahagiakan. Tak ada sedikit pun niat untuk menyakiti. Amati para pengendara mobil dan sepeda motor yang hatinya penuh kasih.  Dengan tulus dan iklas mereka berbagi jalan dengan orang lain. Tak sedikit pun mereka berniat untuk bertindak tidak sopan kepada sesama pengguna jalan. Rambu-rambu lalu lintas mereka taati. Bayangkan betapa bahagianya Jakarta jika saya 10 persen saja pengemudi di Jakara penuh kasih. 10 persen ini pasti akan menyebar kasih dan damai di jalan yang nantinya menginspirasi sisa 90 persen lag. Dan pelan-pelan, 100 persen pengemudi akan punya kasih. Ini memang mimpi di siang bolong, tapi bisa terwujud jika yang membaca ide sinting tapi mulia ini memulai penjadi pengendara yang penuh kasih.

Semua hal baik harus dimulai dari sini. Berharap yang lain memulai sepertinya pekerjaan sia-sia karena mungkin yang lain juga berharap orang lain yang memulai. Apa pun kondisi buruk yang sedang terjadi, semua bisa diperbaiki selama setiap orang mau memperbaiki diri. Tak seorang pun ingin hal yang buruk terus terjadi. Semuanya mau keadaan baik-baik saja. Menunggu keadaan menjadi lebih baik dengan sendirinya jelas hanya membuat semakin tidak hepi. Karena itu, mulailah kasih dari diri sendiri.

Tidak semua situasi dan kondisi terjadi sesuai harapan dan keinginan. Sekali dua kali pasti siapa pun pernah sial. Bahkan si Untung[1] pun pernal sial. Sesekali bensin habis di tengah perjalanan, ban motor terkena ranjaui paku, hujan turun mendadak di tengah teriknya matahari, ke bandara dengan paspor lama, dan seribu satu macam kisah kesialan bisa terjadi kepada siapa saja. Di momen seperti itulah kasih kepada diri sendiri menjadi penting. Kesal dan jengkel biasa muncul tanpa permisi. Hentikan mereka secepatnya sebelum berlarut dan membesar menjadi benci kepada diri. Ibarat api, semakin cepat disadari dan ditanggulangi, ia tak punya kesempatan untuk membesar dan melahap habis semua di sekitarnya. Hal yang sama juga berlaku kepada pikiran yang mulai jengkel kepada diri.

Saat pikiran jengkel muncul, saat itu juga ia harus ditangkap dan dipadamkan. Tarik dan hembuskan nafas tiga kali dengan penuh kesadaran dan katakan, “It is okay”, atau “Tidak apa-apa.” Ini mantra sakti. Jika pikiran masih juga bandel dan bersekutu dengan kekesalan dan kejengkelan, baca lagi mantranya sambil terus mengamati nafas. Ini penting agar pikiran menjadi tenang dan damai dan tidak sibuk dengan seribu satu cerita tentang betapa sialnya diri ini. Pikiran yang tenang dan damai 1000 kali lebih ampuh untuk memikirkan solusi dibanding pikiran yang kalut dan penuh benci. Oleh sebab itu, penting dan mendesak untuk segera menyadari setiap momen negatif yang muncul dalam pikiran.

Artikel ini pun selesai dulu sampai di sini. Jika anda jengkel karena tulisan ini harus berakhir saat anda baru mulai menikmatinya, ingat untuk segera mempraktikkan mantranya: “It is okay.”


[1] Karakter si Untung ada di dalam komik Donal Bebek. Ia diceritakan selalu beruntung dan mengalahkan Donal Bebek.

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

brown statue
Perilaku sombong merugikan karena umat tidak suka pandita yang sombong, dan tidak menghormati mereka. Kesombongan membangun tembok yang memisahkan pandita dengan umat sedangkan kerendahan hati adalah jembatan yang menghubungkan pandita dengan umat.

Tulisan Terkait