Top 10 Penulis

IV. Peduli-Melayani

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Two men walking down a street with a street sign
Photo by Aisiri Iyengar

IV. Peduli-Melayani

Bagian ke-empat dari konsep Etos Kerja Catur Dharmadas+

Dua kata kunci untuk dipahami para abdi Dharma serta pandita dan dharmaduta adalah ‘transformasi’ dan ‘diri’ yang membentuk frasa transformasi diri. Transformasi, menurut KBBI, adalah perubahan rupa (bentuk, sifat, fungsi, dan sebagainya). Transformasi sinonim dengan kata ubah, berubah, perubahan. Transformasi diri berarti diri yang berubah. Apa perubahan yang dimaksud dan siapa yang berubah? ‘

Siapa yang berubah’ adalah setiap Buddhis yang menjadi abdi Dharma serta pandita dan dharmaduta Mereka bertransformasi menjadi individu yang peduli dan melayani sebagai perwujudan welas asih dan kebijaksanaan. Welas asih direalisasikan dalam kepedulian. Kebijaksanaan ditunjukkan dalam melayani. Peduli tanpa melayani adalah omong kosong. Melayani yang baik didasari oleh kepedulian.

Para abdi Dharma serta pandita dan dharmaduta tidak hanya terjun ke lapangan, melainkan juga masuk ke kelas untuk mengasah kemampuan. Pengetahuan Buddha Dharma dan berbagai pengetahuan kontemporer, ditambah beragam keterampilan dipelajari kemudian dipraktikkan dalam berbagai bentuk latihan. Belajar akan menjadikan mereka orang-orang yang tepat untuk membawa organisasi ke tempat yang hebat; mampu mencapai misi, visi, dan tujuannya sehingga memberikan dampak dan manfaat bagi umat Buddha dan Buddha Dharma.

Peduli-Melayani adalah buah dari mempraktikkan ajaran Buddha, khususnya yang esensial dan kontekstual. Setiap abdi Dharma peduli dan melayani dengan tulus, cerdas, gotong royong, dan bertanggungjawab, plus rendah hati dan kompeten bagi pandita/dharmaduta.  

Bersambung ke bagian lima

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

brown statue
Perilaku sombong merugikan karena umat tidak suka pandita yang sombong, dan tidak menghormati mereka. Kesombongan membangun tembok yang memisahkan pandita dengan umat sedangkan kerendahan hati adalah jembatan yang menghubungkan pandita dengan umat.

Tulisan Terkait