Top 10 Penulis

Parenting Tip: Jangan Ajarkan Anak Mencari Kambing Hitam

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Black Goat Sticking its Tongue Out
Photo by Krissie

“Training moments occur when both parents and children do their jobs. The parent’s job is to make the rule. The child’s job is to break the rule. The parent then corrects and disciplines. The child breaks the rule again, and the parent manages the consequences and empathy that then turn the rule into reality and internal structure for the child.”

“Saat-saat pelatihan terjadi ketika orang tua dan anak melakukan tugas mereka. Tugas orang tua adalah membuat aturan. Tugas anak adalah melanggar aturan. Orang tua kemudian mengoreksi dan mendisiplinkan. Anak lalu melanggar aturan lagi, dan orang tua menegakkan konsekuensi dengan empati yang kemudian mengubah aturan menjadi pegangan dan bagian internal anak.”

~ Dr. Henry Cloud & Dr. John Townsend ~

Banyak orang tua yang secara tidak sadar mengajarkan anak untuk tidak bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukan. Padahal bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukan atau atas apa yang sudah menjadi kewajibannya, merupakan ciri positif bahwa anak sudah bertumbuh kembang ke arah yang baik dan benar.

Alih-alih mengajarkan anak untuk bertanggung jawab, orang tua malah mengajarkan anak untuk menyalahkan orang lain atau lingkungan. Hal ini seringkali tidak hanya dilakukan satu atau dua kali oleh orang tua kepada anak, malahan sangat sering dilakukan. Lho koq bisa begitu?

Berikut adalah satu contoh yang sering terjadi. Banyak orang tua yang jika anaknya terjatuh karena tersandung, akan memukul-mukul benda yang dianggap membuat anaknya tersandung dan terjatuh. Atau orang tua memukul-mukul lantai di tempat anaknya tersandung dan terjatuh karena dianggap membuat anaknya lecet dan sakit.

Meskipun anaknya mungkin terjatuh karena kurang berhati-hati sehingga kedua kakinya saling mengait, orang tua mungkin mencari benda terdekat dan lalu memukulnya. Alih-alih menasihati dan mengajarkan anak untuk lebih berhati-hati dan memberikan perhatian terhadap apa yang sedang dilakukan, orang tua mengajarkan anak untuk menyalahkan orang lain atau benda lain atas keteledoran diri sendiri.

Tidak jarang selain memukul, orang tua juga memarahi dan memaki-maki benda atau lantai tersebut. Padahal benda atau lantai tersebut sama sekali tidak bersalah. Benda atau lantai tersebut memang sudah ada di sana. Benda atau lantai tersebut sama sekali tidak melakukan tindakan yang membuat anak tersandung dan terjatuh.

Orang tua kemudian membujuk anaknya supaya tidak lagi menangis dengan mengulang kembali “kesalahan” dari benda dan lantai (ataupun barang lainnya), sambil tidak lupa “melaporkan” kepada anaknya bahwa hal-hal tersebut semuanya sudah dimarah-marahi, dimaki-maki, bahkan sudah dihukum dengan dipukul karena sudah bersalah kepada anaknya. Berbagai upaya untuk menyalahkan orang lain atau benda lain akan dilakukan oleh orang tua agar anaknya tidak menangis dan rewel lagi.

Tindakan-tindakan tersebut dan semacamnya sangatlah mungkin seringkali dilakukan orang tua kepada anak. Dapat dibayangkan sifat dan karakter seperti apa yang akan terbentuk dalam diri anak yang orang tuanya sering berlaku demikian? Mudah ditebak bahwa anaknya akan tumbuh menjadi orang yang selalu menyalahkan orang lain dan lingkungan, mudah marah, gampang memaki, ringan tangan untuk memukul, dan lain-lain.

Memang ada juga orang tua yang menyalahkan anaknya, tidak menyalahkan yang lain, atas keteledoran dan kekuranghati-hatiannya. Namun hal ini dilakukan secara berlebihan, dengan keras, sambil berteriak-teriak atau memukul anaknya. Bayangkan anak yang sedang kesakitan karena terjatuh, lalu dimarahi bahkan dipukul oleh orang tuanya. Akankah anak yang sering diperlakukan seperti ini oleh orang tuanya, dapat bertumbuh kembang dengan baik dan benar?

Ingatlah wahai orang tua, anak belajar hal buruk jauh lebih cepat dan mudah dibanding belajar hal baik. Orang tua jangan mengajarkan anak untuk menyalahkan orang lain, benda lain, atau lingkungan atas kesalahan yang sudah dilakukan oleh diri sendiri. Orang tua harus memastikan agar dirinya tidak mencontohkan perbuatan yang salah, apalagi sampai dicontohkan berulang-ulang ke anak.

“Banyak orang tua yang secara tidak sadar mengajarkan anak untuk tidak berani bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukan. Orang tua malah mengajarkan anak untuk menyalahkan orang lain, benda lain, atau lingkungan. Orang tua harus menyadari dan memahami hal ini dengan tepat, lalu memastikan dirinya tidak mengajarkan yang salah kepada anak apalagi sampai berulang-ulang.”

(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

red apple fruit on four pyle books
Untuk mengerti dengan tepat gambaran besarnya, setiap orang seharusnya takut menjadi tertutupi secara mental dan terobsesi dengan satu bagian kecil saja dari kebenaran. Xun Zi
woman, field, happiness, thank you, terima kasih
Suatu ketika ada seorang pemuda yang merasa hidupnya sangat sulit. Seperti lazimnya manusia, dia ingin mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupannya.

Tulisan Terkait