“When you show deep empathy toward others, their defensive energy goes down, and positive energy replaces it. That’s when you can get more creative in solving problems.”
“Ketika Anda menunjukkan empati yang mendalam terhadap orang-orang lain, energi pertahanan mereka menurun, digantikan oleh energi positif. Saat itulah Anda bisa menjadi lebih kreatif dalam pemecahan masalah-masalah.”
~ Stephen Covey ~
Ada orang yang merasa senang jika melihat orang lain mengalami kesusahan atau tertimpa masalah. Orang-orang seperti ini umumnya juga merasa susah jika melihat orang lain senang atau bahagia. Seharusnya dibalik, yaitu ikut merasa susah di saat orang lain susah dan ikut merasa senang di saat orang lain senang.
Kisah berikut menggambarkan kenyataan yang sering terjadi dalam kehidupan masyarakat. Kita sibuk memperhatikan apa yang sudah dan belum dilakukan orang lain. Bahkan kadang kala kita sibuk mengomentari orang lain. Alhasil, kita terlupa untuk memperhatikan apa yang sudah dan belum kita sendiri lakukan.
*************
Suatu ketika ada dua orang laki-laki sedang berdiri di sebuah halte di pinggir jalan. Yang satu adalah bapak tua bertubuh kurus. Yang lainnya adalah anak muda berpostur gemuk. Keduanya sedang menunggu bus untuk menuju ke tempat masing-masing. Karena tidak saling mengenal maka keduanya menunggu tanpa saling bicara.
Tidak berapa lama mereka menunggu, tiba-tiba angin bertiup agak kencang. Tak disangka wig yang dipakai oleh si bapak tua mulai terangkat ditiup angin. Refleks kedua tangan si bapak diangkat ke atas mencoba menahan wignya. Namun upayanya tidak berhasil karena wig sudah terlanjur terbang dari kepalanya. Kedua tangannya lalu mencoba menutupi kepalanya yang botak. Dia terlihat malu karena ketahuan bahwa kepalanya botak.
Tiba-tiba terdengar tawa terbahak-bahak dari si anak muda di sebelahnya. Ternyata dia melihat kejadian yang dianggapnya lucu tersebut. Lalu si anak muda berjalan ke arah wig yang jatuh di atas tanah. Ia membungkuk untuk mengambil wig tersebut. Tiba-tiba terdengar suara “breeetttt“ yang cukup keras. Ternyata celana bagian belakangnya robek lumayan lebar karena tidak mampu menahan tubuh belakangnya yang besar sewaktu mencoba membungkuk. Celana dalamnya jadi kelihatan. Dia merasa sangat malu sehingga berupaya dengan kedua tangannya menutupi bagian celananya yang robek.
Sekarang giliran si bapak tua yang tertawa terbahak-bahak. Dia puaskan dirinya dengan tertawa sekerasnya untuk membalas kelakuan si anak muda yang mentertawakan kejadian terbangnya wig dia sebelumnya. Dia merasa senang karena ternyata bukan dia saja yang harus menanggung malu di hari itu.
Ternyata ada seorang pejalan kaki yang memperhatikan tingkah pola kedua orang tersebut. Dengan tersenyum geli sambil asyik memperhatikan keduanya, dia terus berjalan perlahan. Karena perhatiannya tidak diarahkan ke jalan yang sedang dilalui, dia lalu menabrak tiang listrik yang ada di pinggir jalan. Si bapak tua dan anak muda yang dikagetkan oleh kejadian tersebut sekarang serentak tertawa bersama tergelak-gelak sambil menunjuk ke pejalan kaki itu. Sekarang keduanya merasa lebih ringan hatinya karena ternyata ada orang lain yang juga mengalami kesusahan di hari itu.
************
Dalam keseharian, tidak sedikit orang yang merasa senang melihat orang lain mengalami kesusahan. Apalagi bagi mereka yang juga sedang mengalami kesusahan. Mereka merasa senang karena ada orang lain juga yang kesusahan. Mereka merasa senang karena bukan hanya mereka saja yang mengalami kesusahan.
Tentu saja dalam praktiknya, kesenangan melihat orang lain mengalami kesusahan ini biasanya tidak diperlihatkan secara berterang seperti dalam kisah sebelumnya. Bahkan kadang-kadang mereka terlihat turut berempati terhadap orang lain yang kesusahan padahal di dalam hatinya belum tentu demikian. Hal ini lumrah ditemui di dalam masyarakat. Jangan-jangan kita pun juga berlaku demikian.
Orang yang senang melihat orang lain susah biasanya disebabkan oleh perasaan serakah, benci, iri, dengki, dan takut kalah. Perasaan-perasaan negatif ini membuatnya senang melihat orang lain jatuh atau mengalami kesusahan.
Kita pasti pernah mengalami dan merasakan kesusahan atau kesulitan dalam hidup ini. Setiap orang tidak terlepas dari kesusahan atau kesulitan. Pada waktu melihat orang lain mengalaminya, kita perlu lebih mengembangkan empati yang tulus terhadapnya. Dengan cara ini, kita sebenarnya mempersiapkan diri kita sendiri untuk menjadi lebih kuat dan tabah sewaktu kita mengalami kesusahan atau kesulitan nantinya.
Berempati kepada orang lain yang sedang mengalami kesusahan sebetulnya membuka jalan bagi pengeluaran diri kita yang terbaik. Berempati membuat kita lebih peka terhadap perasaan orang lain. Berempati juga membuat kita lebih peka terhadap diri kita sendiri sehingga lebih mudah bagi kita untuk mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita. Niscaya kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih luas dalam kehidupan akan menjadi milik kita.
“Janganlah senang melihat orang lain susah ataupun susah melihat orang lain senang. Yang seharusnya adalah senang melihat orang lain senang dan susah melihat orang lain susah.”
(Diambil dari Buku “MotivAction – Motivation for Action”)

















