Top 10 Penulis

Jodoh Tidak Kelam, Karma Tidak Mengerikan

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Photo by Enq 1998

Jodoh adalah misteri. Tiada bedanya dengan lahir dan mati. Konon setiap orang sudah memilikinya. Bagi para jomlo, hanya memerlukan kesabaran penuh arti. 

Namun, apa yang terjadi jika usia sudah berlanjut, wajah tak lagi bersambut, karena angka yang sudah semakin semrawut? 

Itulah yang dirasakan oleh Nadia (nama samaran). Ia adalah seorang wanita karir yang dengan prestasi yang moncer. 

Sudah 10 tahun ia berkiprah di perusahaan multinasional. Berbagai negara sudah dikunjunginya, demi urusan kerja. 

Semua orang menghormatinya, karena memang ia piawai dalam menjalankan roda bisnis, menyiasati strategi, hingga merawat pelanggan. 

Sayangnya, Nadia tidak terlalu piawai merawat cintanya. Standar yang terlalu tinggi telah ia canangkan dalam hatinya yang tidak selembut salju. Cemen, katanya. 

Namun, bukan berarti kerasnya baja tidak membutuhkan belaian. Perkawinan adalah suatu hal yang sakral. Nadia pun selalu berkeinginan untuk berada di atas pelaminan. Mengucapkan ikhtiar. Dengan lelaki pujaan hatinya. 

Lirik punya lirik, takada yang cocok dengannya. Para lelaki pun segan mendekatinya, karena takut terlibat intrik. Rasanya susah untuk beristrikan eksekutif yang tidak lagi muda. Persoalan klasik. 

Nadia yang ingin jatuh hati, kini mulai frustasi. Dari biro jodoh hingga pilihan orangtua, semua sudah ia terima. Lelaki apa pun. Tidak peduli jika ia bodoh. 

Frustasi terus datang menghampiri. Jika manusia tidak mampu, mungkin saatnya doa membantu. 

Namun, Nadia tak paham doa. Harapannya selalu menjadi kenyataan. Mungkin saja Tuhan memang menyanyanginya. Sehingga takada lelaki manapun yang berani mendekatinya. 

Kutukan terlalu kejam. Tapi, ada karma yang mungkin kelam. Nadia takut karma. Jangan sampai itu adalah jalan hidupnya. Tak boleh punya suami yang menyukainya. 

Sehingga ia bertemu seorang lelaki tua bijaksana. Di vihara depan rumah jompo. 

Meskipun tiap hari melihat “karma” – orang yang sedang susah ditinggalkan oleh mereka yang disuka. Namun, menurut sang tua bijaksana, karma itu tidaklah mengerikan. Bukan kutukan, bukan pula kematian. 

Nadia hanya perlu menjalankan sebuah amaran. Berbagi kasih dalam kehidupannya. Agar ia layak menerima cinta, berbagi kebahagiaan dengan kekasih. 

Disuruhlah Nadia untuk menjadi tenaga suka rela di rumah jompo. Menjadi teman berbagi kepada para nenek dan sekaligus kakek. Entah sekadar memberi semangat atau mengelap keringat. 

Tidak berapa lama, Nadia bertemu jodohnya. Tidak sampai sebulan lamanya. Pria gagah entah dari mana. Yang pasti, ia tampan dan juga kaya. 

Apakah yang diberikan oleh sang tua bijaksana? Bukan jimat, bukan pula batu keramat. 

Sang kakek paham karma. Apa yang ditabur itu yang dituai. Ada kalanya padi belum bisa dipanen, karena memang belum waktunya. 

Sang kakek hanya meminta Nadia untuk mematangkan karmanya. Pada saat yang sama, mengembangkan metta (perasaan cinta) bagi mereka yang membutuhkan. Dalam bentuk tindakan, ucapan, dan pikiran. 

Ternyata sang lelaki gagah adalah donatur terbesar rumah jompo tersebut. Mendambakan gadis yang menyanyangi orang tua. Agar bisa merawatnya sampai tua. 

Sang tua bijaksana memang benar. Ia tidak punya sulap, apalagi sihir. Ia hanya menyakini kebenaran. Sebuah hakiki yang tak terelakkan. Oleh manusia, maupun dewa. 

Apa yang ditanam itulah yang dituai. Tidak perlu diragukan apalagi diperdebatkan. Itulah karma yang sebenar-benarnya. 

Tidak mengerikan. Oh… tidak mengerikan sama sekali.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

A family gathering for Chinese New Year, exchanging red envelopes and wearing traditional attire indoors.
Tetesan air mata dari kedua orang tua dan juga dari anak dan para cucu yang melakukannya dengan hikmah. Dilanjutkan dengan wejangan singkat (atau harapan) dari orangtua kepada anak cucunya, saling berpelukan, dan ditutupi dengan ucapan saling memaafkan.
children, boys, play
Menu yang anda suka, belum tentu tidak disukai oleh para sahabat. Namun jangan menjadi rakus, karena kapasitas perut mempunyai batas. Jika anda mengambil sup jagung dari sahabat, berikanlah perkedel jagung sebagai gantinya. 

Tulisan Terkait