Pagi ini, 26 September 2023, seorang rekan alumni di WAG Ikatan Doktor Ilmu Manajemen UNJ menulis (atau mengirimkan tulisan) tentang Kaesang yang baru sehari menjadi anggota PSI telah diangkat sebagai Ketua Umum. Tulisan tersebut bernada kritik tentang pragmatisme PSI yang secara kilat mengangkat Kaesang sebagai orang nomor satu di partai dengan mengabaikan sistem kaderisasi dan kompetensi. Partai juga tidak risih menujuk seorang kader baru tanpa pengalaman selain berstatus anak presiden, tambahnya.
Jabatan berbanding lurus dengan kompetensi. Pilot adalah salah satu contoh yang tepat. Ia adalah salah satu profesi yang ketat. Maklum. Urusannya nyawa. Tidak sembarang orang dapat menjadi pilot. Peraturannya ketat. Kompetensinya jelas Pelatihannya berkelanjutan. Sekian jam belajar di kelas, sekian jam pelatihan lapangan, sekian jam di simulator, dan sekian jam sekian jam yang lain. Oleh sebab itu, saya selalu yakin dengan pilot, apa pun maskapai yang saya tumpangi. Saya percaya bahwa orang yang (akan) menerbangkan pesawat yang saya tumpangi pasti sudah lolos semua persyaratan. Dia sudah memenuhi semua kualifikasi dan kompetensi sehingga dia pantas menyandang gelar pilot.
Selesai membaca, saya langsung ingat betapa mudahnya dalam agama Buddha seseorang diangkat menjadi pandita tanpa menilai lebih jauh kompetensi orang tersebut. Dulu, ada seseorang yang baru pindah ke agama Buddha tidak lebih dari tiga tahun sudah diangkat menjadi pandita, ada yang ikut pelatihan dua hari sudah jadi pandita, donatur wihara dan dekat dengan biksu lalu jadi pandita, bendahara organisasi lalu diangkat jadi pandita, dan lain sebagainya. Ukuran kompetensi yang digunakan tidak jelas. Dampaknya fatal. Di salah satu kota, seorang teman menceritakan tentang pandita yang sama sekali tidak datang untuk menunaikan tugas ceramah yang telah diberikan, bahkan tidak dapat dihubungi untuk dikonfirmasi. Saat berdiskusi dengan salah seorang biksu yang juga prihatin dengan para pandita yang tidak kompeten, beliau mengisahkan pandita A atau B yang tidak dapat melakukan apa-apa. “Mimpin Liam Keng tidak mampu, ceramah juga tidak, mimpin kebaktian pun tidak pernah”, demikian kira-kira ungkapan suara hati beliau.
Beberapa saat lalu ada video yang isinya memprediksi agama Buddha akan punah. Orang Buddha jelas tidak ingin ramalan itu terjadi. Oleh sebab itu, perubahan harus dilakukan. Ini dapat dimulai dengan mengubah pendekatan yang dulunya ke hasil sekarang ke proses, dari kuantitatif ke kualitatif. Dalam hal pemuka agama Buddha perumahtangga (pandita), gunakan pendekatan objektif. Dulu pernah dilakukan, tapi malah ditentang dan ditolak dengan alasan mempersulit yang mau jadi pandita. Ini mengherankan. Di satu sisi mau meningkatkan kualitas SDM tapi di sisi yang lain pendekatan objektif menggunakan berbagai tolok ukur kompetensi malah ditolak.
Kembali ke tulisan tentang ketum PSI yang baru, saya kemudian berpikir tentang sisi pragmatis dari pengangkatan pemuka agama Buddha secara kilat ini. Para pelakunya menganggap ini perlu dilakukan karena tujuan politis yang diharapkan akan memberikan dampak positif belakangan. Tetapi sisi pragmatis ini sebaiknya diimbangi dengan sisi idealis-praktis. Konsep kompetensinya harus dibuat jelas, lengkap dengan dimensi dan indikatornya. Ketika diterapkan di lapangan, penyesuaian sesuai kebutuhan dilakukan.
Semoga Kaesang dapat membuktikan kompetensinya, bukan hanya sekadar anak presiden, sehingga dia mampu memberikan dampak kemajuan positif bagi PSI dan Indonesia.

















