Top 10 Penulis

“Kapan saya dapat keluar dari neraka ini?”

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Unhappy African American woman in warm sweater sitting and touching head while crying and looking at camera against beige background
Photo by Liza Summer

Ada anak yang tidak akur dengan orang tuanya. Mereka sering ditindas, ditekan, dan merasakan penderitaan karena orang tua sering menyusahkan mereka dengan berbagai jenis perbuatan. Tidak jarang anak gagal untuk mengendalikan diri sehingga keributan pun terjadi. Keluarga menjadi tidak harmonis. Bagaimana seorang Buddhis menyikapi hal seperti ini?

Pangeran Siddhartha telah bersama dengan putri Yasodhara sejak mereka pertama kali bertemu di zaman Buddha Dipamkara. Hubungan antar manusia yang sering bertemu dari satu kehidupan ke kehidupan lain terjadi karena mereka memiliki ikatan perbuatan ke satu sama lain; perbuatan baik maupun buruk. Salah satu kisah dalam Dhammapada adalah tentang dua perempuan yang bertemu dalam banyak kehidupan dan saling menyakiti. Mereka baru sadar akan hal tersebut ketika Buddha menjelaskan asal mula permusuhan mereka. Kisah tersebut adalah latar belakang dari syair Dhammapada 5 yaitu “kebencian hanya berakhir dengan kasih sayang, bukan dengan kebencian lagi”.

Orang tua tidak sama dengan orang bijaksana. Bila mereka tidak menyempatkan diri untuk belajar dan mengembangkan kualitas diri, mereka akhirnya hanya akan menjadi manusia yang hidup dengan kebiasaan sehari-hari. Mereka tidak mampu untuk melihat realita kehidupan dan belajar menjadi lebih baik. Berbagai persoalan hidup yang mereka hadapi terkadang membuat mereka menjadi orang yang mudah kecewa, jengkel, dan kecewa. Anak-anak kadang menjadi korban dari penderitaan mereka.

Lahir di keluarga yang orang tua tidak bijaksana adalah sebuah kondisi yang tidak dapat dipungkiri. Mereka tidak mengerti bahwa banyak ucapan dan perbuatan mereka menyakiti hati, bukan sekali tetapi sudah berkali-kali, dan rasanya tidak ada harapan bahwa itu semua akan berhenti. Sebagai anak, kita hanya dapat mengumpat dalam hati. “Kapan saya dapat keluar dari neraka ini?”

Manusia, apalagi yang sudah tua, sangat sulit untuk berubah. Ibarat kayu, mereka sangat keras sehingga sulit untuk dipatahkan. Cara pandang, kebiasaan, sifat, dan karakter mereka sudah terbentuk. Ilmu dan pengetahuan baru sulit untuk masuk ke dalam batin mereka. Oleh sebab itu, berharap, apalagi memaksa, mereka berubah adalah keinginan yang mustahil.

Tinggal bersama dengan orang yang selalu menyulitkan kita adalah kenyataan.Banyak benih karma negatif yang berbuah dalam bentuk ucapan yang menyakitkan. Bila kita renungkan lagi secara mendalam, bukankah semua itu adalah akibat yang kita harus terima. Mengapa kita harus mengalami banyak kepedihan selama tinggal di keluarga ini? Kenapa ketidakbahagiaan harus terus mendera? Kita memang akan memanen benih yang kita sudah tanam.

Karena orang tua yang tidak bijaksana adalah kayu keras yang sangat sulit dibengkokkan, yang realistis adalah kita yang berubah. Suatu masalah tidak lagi menjadi halangan bila kita sudah lebih besar dari masalah itu, bukan? Batu besar yang terasa berat saat kita masih bocah sekarang sudah menjadi ringan. Berat batu itu masih sama. Kekuatan kita sudah berbeda.

Ketika kemampuan sudah ada, pergi dari rumah mungkin adalah pilihan terakhir di antara semua pilihan. Pergilah karena kasih, agar mereka tidak terus menerus menabur benci yang mereka nanti juga akan petik sendiri. Saat kalian jauh, batin dapat menjadi damai dan tenang. Kirimkan cinta kasih dan doa agar mereka bahagia. Ketika waktu menghendaki kalian bersua kembali, semoga dunia sudah berubah damai.
Lihat mereka dengan kaca mata kasih sayang. Bukankah orang yang sering menimbulkan penderitaan bagi orang lain sesunggguhnya adalah orang yang sedang menderita.

Jalan yang Buddha berikan memang terjal dan sulit. Berbagai rintangan dan tantangan akan datang silih berganti. Buah manisnya kadang tidak kunjung terjadi. Makanya, kesabaran dikatakan adalah tapa yang paling tinggi. Mohon maaf bila saya hanya dapat berteori karena saya tidak merasakan apa yang Anda pernah alami.

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

brown statue
Perilaku sombong merugikan karena umat tidak suka pandita yang sombong, dan tidak menghormati mereka. Kesombongan membangun tembok yang memisahkan pandita dengan umat sedangkan kerendahan hati adalah jembatan yang menghubungkan pandita dengan umat.

Tulisan Terkait