Suatu hari seorang ibu berkunjung ke Lapas (lembaga pemasyarakatan) Perempuan di suatu kota. Di sana dia sempat berbicara dengan seorang narapidana (napi) dan napi itu bercerita kejadian yang menimpanya sehingga dia dipenjara. Sebelum menjadi napi, dia memiliki seorang kekasih. Mereka menjalin hubungan kurang lebih satu tahun lamanya. Karena hubungan mereka cukup dekat dan merasa ada kecocokan, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.
Kejadiannya, wanita itu dijebak oleh kekasihnya yang waktu itu sudah menjadi suaminya. Sebelum menikah, dia tidak tahu bahwa suaminya adalah pengedar sabu. Karena sudah terlanjur menikah dan suaminya menjamin dia aman bersamanya dan selama ini belum pernah ada kejadian yang membuat hidupnya terpuruk karena menjadi pengedar sabu.
Pada suatu waktu, mereka ingin berlibur ke luar negeri berdua. Sebelum berangkat ke bandara mereka bersiap-siap untuk membawa sabu. Di rumah, suaminya menyuruh dia membawa beberapa bungkus sabu yang nantinya akan dijual di luar negeri. Mereka menyelipkan sabu tersebut ke dalam sepatu dan perutnya di mana kebetulan dia sedang hamil muda. Jadi di dalam perutnya diselipkan beberapa bungkus sabu.
Kemudian mereka berdua berangkat ke bandara. Kondisi awal tidak mencurigakan dan berjalan dengan lancar. Namun pada saat memasuki area pemeriksaan untuk menuju ke pesawat, mereka diperiksa dan tiba-tiba salah satu petugas mencurigai mereka. Lalu ada petugas yang mendatangi mereka dan akhirnya mereka diperiksa di ruangan khusus.
Dia yang baru pertama kali menghadapi kejadian seperti ini, sangat kaget dan takut sekali. Namun suaminya berbisik, “Jangan takut, jangan mengaku, dan jangan sampai ketahuan.” Setelah mengucapkan kalimat itu, dia dan suaminya harus berpisah tempat untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Suaminya diperiksa di bagian pria dan dia diperiksa di bagian wanita. Pertama, dia ditanya, “Apakah Anda membawa barang terlarang?” Dia menjawab, “Tidak!” “Yakin kalau tidak membawa apa-apa? Nanti jika diperiksa dan ketahuan maka hukumannya akan semakin berat,” tanya si petugas. Karena dia mengingat pesan suaminya agar jangan mengaku dan jangan sampai ketahuan, berarti dia harus berbohong. Dia harus terlihat yakin dengan jawabannya bahwa dia sama sekali tidak membawa barang terlarang apapun.
Di dalam ruang pemeriksaan, dia bersiap diperiksa seluruh tubuhnya, demikian juga dengan sepatunya. Karena takut ketahuan dan saat itu di ruang pemeriksaan baru ada dia sendiri, pada saat membuka sepatu, sabu yang ada di sepatu dan di badannya secepatnya dibuang ke tong sampah ruang pemeriksaan.
Kemudian petugas masuk ke ruang pemeriksaan lalu memeriksa seluruh tubuh termasuk sepatunya. Tidak ditemukan apapun. Namun petugas dengan pintarnya langsung melihat ke tong sampah yang ada di sudut ruang pemeriksaan itu.
“Ini apa? Dan ini milik siapa?” tanya si petugas sambil mengambil sabu yang ada di tong sampah. Mengingat pesan suaminya bahwa dia harus berbohong, diapun langsung menjawab, “Saya tidak tahu. Itu bukan punya saya.” Si petugas bertanya lagi, “Apakah benar ini bukan punya Ibu?” Dia menjawab lagi, “Benar, itu bukan punya saya.” Setelah ditanya berulang kali oleh si petugas, dia masih juga tidak mengaku. Akhirnya si petugas pergi ke ruangan yang terdapat rekaman CCTV. Dari rekaman CCTV, terlihat jelas dia meletakkan sabu itu ke dalam tong sampah. Lalu dia dibawa dan dinyatakan bersalah.
Bagaimana dengan suaminya? Karena tidak ditemukan sabu dalam diri suaminya, akhirnya dia dibebaskan. Ternyata si suami tidak mau bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa dirinya. Si suami setelah tahu dia ditangkap dan dipenjara, malah pergi meninggalkan dirinya dan tidak pernah berkunjung ke penjara untuk menjenguknya.
Singkat cerita, dia dibawa ke penjara dan dikenakan hukuman lima tahun penjara. Di dalam penjara karena kondisinya sebelum masuk penjara memang sedang hamil muda, dia pertahankan kehamilannya hingga sembilan bulan. Akhirnya dia melahirkan anak pada saat masih di dalam tahanan. Setelah melahirkan di rumah sakit dan dirawat selama beberapa hari, dia harus kembali lagi ke lapas dan anaknya dititipkan kepada ibunya.
Waktu berjalan begitu cepat. Hampir lima tahun dia dipenjara dan kini tinggal satu minggu lagi dia akan dibebaskan dari tahanan. Dia bercerita bagaimana dia membohongi anaknya dengan mengatakan bahwa dia tidak di tahanan. Dia menyesali apa yang telah dilakukannya. Dia harus menjadi “Pembohong yang harus konsisten dengan kebohongannya” sehingga ketika bertemu anaknya, dia harus berbohong bahwa dia selanjutnya tidak bisa bertemu anaknya karena harus bekerja di luar negeri untuk membiayai kehidupan keluarganya. Padahal dia harus menyelesaikan terlebih dahulu masa tahanannya.
********
Kisah “Pembohong harus konsisten dengan kebohongannya” adalah suatu contoh yang tidak patut kita tiru. Jadikanlah cerita tersebut sebagai suatu pengalaman yang berharga untuk direnungkan agar jangan sampai peristiwa seperti itu terjadi dalam kehidupan kita.
Ada pepatah mengatakan, “Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya akan tetap tercium juga.” Suatu kejahatan atau keburukan mungkin bisa ditutup-tutupi dalam jangka waktu tertentu, namun tidak akan mungkin selamanya ditutupi. Suatu saat, akan terungkap juga. Kita harus menyadari bahwa kebohongan bagaimanapun kita tutupi, pada akhirnya akan ketahuan juga.
Kejadian si napi wanita menyimpan kebohongan selama bertahun-tahun terhadap anaknya yang masih kecil, menjadi beban untuk dirinya sendiri. Dia menjadi tidak tenang dalam menjalani kehidupannya.
Janganlah menjadi pembohong. Tetaplah mempraktikkan kejujuran dalam kehidupan ini karena kejujuran adalah sesuatu yang patut kita perjuangkan secara maksimal sebagai seorang manusia yang baik.
Dengan terus memegang teguh kejujuran sepanjang kehidupan, kita akan lebih mudah mengeluarkan diri kita yang terbaik, yakni mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita. Kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih luas dalam kehidupan niscaya akan menjadi milik kita.
“Janganlah menjadi pembohong. Tetaplah mempraktikkan kejujuran dalam kehidupan ini karena kejujuran adalah sesuatu yang patut kita perjuangkan secara maksimal sebagai seorang manusia yang baik untuk mencapai hasil terbaik dalam kehidupan.”
(Diambil dari Buku “MotivAction – Motivation for Action”)

















