Top 10 Penulis

Keburukan Tidak Sepenuhnya Buruk

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

ai generated, donkey, horse
Photo by AlanFrijns

Suatu ketika ada seekor keledai yang sedang menjelajahi hutan dengan riang. Dia sibuk dengan kesenangannya sendiri, mengunyah dedaunan, dan menikmati keindahan hutan. Ternyata ada sebuah sumur tua di tengah hutan yang tertutup ranting dan dedaunan. Malangnya, keledai tersebut terperosok ke dalam sumur tua itu. Untungnya sumur itu kering dan tidak begitu dalam sehingga keledai tersebut tidak mengalami patah tulang. Namun ia berada di dasar sumur itu dan keledai itu tidak bisa memanjat. Jadi bagaimana ia bisa keluar dari sana?

Ia melakukan satu-satunya hal yang bisa diperbuatnya. Ia menjerit minta tolong, ”Eoo! Eeooo! Eeeoooo!” Ia telah menjerit begitu lama hingga seorang petani mendengar suara aneh dari dalam hutan, suara seperti keledai dari dalam tanah. Suara itu memancing rasa ingin tahunya dan ia kemudian menemukan keledai itu di dasar sumur. Keledai itu berpikir, ”Akhirnya….. aku akan selamat!”

Tetapi petani itu orang yang sangat kejam. Ia benci keledai, apalagi keledai yang berisik ini. Ia berkata, “Rasakan!” Namun petani itu berpikir bahwa ia tidak bisa membiarkan keledai ini begitu saja. Sumur ini pun bisa jadi sumber bahaya karena seseorang bisa terjatuh ke dalamnya. Ia mendapat ide cemerlang untuk menyingkirkan dua masalah sekaligus.

Petani itu lalu membawa sekop dan mulai mengisi sumur itu dengan tanah. Ia hendak mengubur keledai itu hidup-hidup dengan menyekop tanah menutupi sekujur tubuh keledai dari atas sekaligus menutup sumur tersebut. Begitu keledai itu menyadari apa yang sedang terjadi, ia menjerit keras. Ia benar-benar sedih, ia sedang dibunuh dengan perlahan-lahan.

Namun setelah beberapa menit, keledai itu mendapat akal. Sabar… keledai itu tak bersuara hingga petani itu berpikir, “Ha! Sudah ku kubur keledai bego itu!”

Petani tersebut tidak menyadari bahwa oleh keledai itu, setiap sekop tanah yang menimpa punggungnya, dia menggoyang luruh tanah itu, lalu menginjak-injaknya hingga padat. Dengan tambahan tanah yang sudah padat tersebut, keledai itu bisa naik beberapa sentimeter lebih tinggi.

Sekopan tanah berikutnya, keledai itu meluruhkan, injak-injak, dan dia naik beberapa sentimeter lebih tinggi lagi. Petani itu begitu sibuk menyekop tanah hingga ia tidak menyadari sepasang telinga mulai tampak di mulut sumur.

Ketika pijakan keledai itu sudah cukup tinggi, ia melompat keluar dari sumur, dan lalu menggigit bokong petani itu sebagai tanda kejengkelan sekaligus terima kasih, dan baru melarikan diri ke dalam hutan.

******

Saat kita mengalami masalah seperti keledai tadi, hendaknya kita bersabar dan mengamati apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan diri. Semua masalah itu sebenarnya adalah pupuk bagi kehidupan. Jadi itulah mengapa kita harus bersabar, menyadari saat ini, dan melakukan apa yang bisa dilakukan secara maksimal.

Kejadian buruk yang telah kita alami bisa menjadi pelajaran bagi kita agar lebih berhati-hati dan tidak tertimpa lagi kejadian tersebut untuk kedua kalinya di kemudian hari. Jika kita selalu waspada, pasti kita akan menemukan sesuatu yang lebih baik dalam diri kita untuk menghadapi dan mengatasi berbagai kendala dan tantangan kehidupan.

Kejadian yang menimpa diri kita tentu tidak serta merta datang kepada kita jika kita tidak pernah melakukan kesalahan. Amatilah apakah kita pernah melakukan sesuatu yang buruk sehingga kita bisa mengalami kejadian yang membuat kita sial. 

Ketika kita mengalami kesialan dan ingin terbebas dari kesialan itu maka kita harus menerima apa yang kita alami itu dengan lapang dada. Kalaupun hasil yang kita terima tidak sesuai dengan harapan kita, namun setidaknya kita bisa merasa lebih terbantu dengan menerimanya terlebih dahulu, dan tidak terlalu tertekan menghadapi kesialan atau masalah yang sedang terjadi.

Jadilah “Pembawa sial yang beruntung”. Walaupun kita mengalami hal yang negatif, jika kita dapat mengubah cara berpikir kita, sangat mungkin kita bisa membuat yang tadinya sial menjadi tidak sial lagi bahkan mungkin malah menjadi beruntung. Dalam hal ini, menjadi beruntung adalah jika kita bisa membuat batin kita lebih menerima dengan apa yang terjadi. Batin kita akan menjadi lebih baik, tidak terlalu terpuruk, dan bisa menjadi diri yang lebih baik. Dengan mengambil langkah-langkah ini sewaktu kita mengalami kesialan atau hal buruk dalam kehidupan, kita akan lebih mudah mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita. Kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih luas dalam kehidupan niscaya akan menjadi milik kita.

“Jadilah ‘Pembawa sial yang beruntung’. Walaupun kita mengalami kesialan atau hal negatif dalam kehidupan, ubahlah cara kita berpikir dan memandang kesialan atau hal negatif tersebut. Niscaya kita bisa menyelesaikannya bahkan mungkin mengubahnya menjadi keberuntungan.”

(Diambil dari Buku “MotivAction – Motivation for Action”)

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

Red and white lighthouse with waves crashing against rocks under a stormy sky.
Suatu hari, teman sekelasnya mengancam dia agar tidak mengisi lembar ulangan dengan benar supaya temannya tersebut bisa mendapatkan nilai terbaik. Dia pulang ke rumah dengan menangis namun tidak berani menceritakan apa yang terjadi

Tulisan Terkait