“Every day we have plenty of opportunities to get angry, stressed or offended. But what you’re doing when you indulge these negative emotions is giving something outside yourself power over your happiness. You can choose to not let little things upset you.”
“Setiap hari kita memiliki banyak kesempatan untuk menjadi marah, stres atau tersinggung. Yang sesungguhnya kita lakukan ketika membiarkan emosi-emosi negatif tersebut adalah memberikan sesuatu di luar diri kita kekuasaan atas kebahagiaan kita. Kita dapat memilih untuk tidak membiarkan hal-hal kecil mengganggu kita.”
~ Joel Osteen ~
Jika dibuat penelitian, “galau“ kemungkinan besar akan menjadi salah satu kata yang paling banyak diucapkan terutama dalam pembicaraan tidak formal. Kata galau populer terutama di kalangan remaja dan anak muda.
Sebagian orang mencoba mendefinisikan galau dengan membuat kepanjangan dari huruf-huruf penyusunnya. Beberapa di antaranya yang terkenal adalah “Gelisah Antara Lanjut Atau Udahan“, “Gue Akan Lakukan Apapun Untukmu“, dan “God Always Listens And Understands“. Definisi-definisi tersebut tidak mencerminkan makna galau yang sesungguhnya. Namun bisa memberikan gambaran diri orang yang sedang dilanda galau.
Sesuai pengertian Bahasa Indonesia yang benar, galau adalah kondisi pikiran yang kacau, bingung, ruwet, semrawut, atau tidak mengerti apa yang mau dilakukan. Jadi galau berkenaan dengan kondisi pikiran seseorang.
Pikiran sangatlah penting dan menjadi awal dari perbuatan selanjutnya oleh ucapan dan badan jasmani. Oleh karenanya seorang Bijaksana pernah mengatakan:
“Segala perbuatan baik didahului oleh pikiran, dipimpin oleh pikiran, dan dihasilkan oleh pikiran. Bila seseorang bicara atau berbuat dengan pikiran suci, kebahagiaan pun akan mengikuti, seperti bayang-bayang tak pernah meninggalkan dirinya.”
“Segala perbuatan buruk didahului oleh pikiran, dipimpin oleh pikiran, dan dihasilkan oleh pikiran. Bila seseorang bicara atau berbuat dengan pikiran tidak suci, penderitaan pun akan mengikuti, seperti roda pedati mengikuti jejak kaki lembu yang menariknya.”
Banyak sekali kejadian dalam kehidupan kita yang bisa memunculkan galau. Kisah berikut menggambarkan bagaimana galau muncul dalam diri sepasang suami istri yang memiliki anak gadis yang sudah waktunya berpasangan.
**********
Suatu ketika ada sepasang suami istri yang memiliki anak tunggal seorang perempuan yang cantik. Putri mereka belum lama menyelesaikan kuliahnya dan sudah bekerja di sebuah perusahaan. Pasangan suami istri ini berpikir bahwa sekarang sudah waktunya mencari pasangan untuk putri mereka. Apa mau dikata, galau mulai menggelayut dalam diri mereka karena sudah sekian lama mencari pasangan yang tepat untuk putri mereka namun belum juga bersua. Semakin lama galau yang melanda keduanya semakin besar.
Demikian pula dengan putri mereka, yang semakin lama semakin galau. Dari sekian banyak pemuda yang menaksir dan mendekati dirinya, sudah ada beberapa yang diajaknya berkenalan dengan kedua orang tuanya. Awalnya dia sangat percaya diri memperkenalkan pria-pria baik dan pintar yang juga disukainya. Namun satu per satu gugur setelah berhadapan dengan kedua orang tuanya. Sudah berjalan beberapa lama, belum ada satu pun pria yang memenuhi kriteria yang sudah ditentukan.
Sebenarnya apa kriteria yang ditetapkan oleh pasangan suami istri itu untuk dipenuhi oleh calon pasangan anaknya supaya bisa mendampingi putri mereka?
Kriteria atau persyaratannya ternyata sangat singkat dan padat, yakni “berwi-bawa“ dan “berke-pribadi-an“! Sebagaimana orang tua pada umumnya, pasangan suami istri tersebut menginginkan pasangan terbaik untuk anaknya. Oleh karenanya, dibuatlah kriteria terbaik menurut mereka untuk mendapatkan pasangan terbaik bagi anaknya.
Lho apakah sudah sedemikian sulitnya untuk mencari pemuda yang bisa memenuhi kedua kriteria tersebut? Setelah dicek lebih lanjut, ternyata inilah biang keladi permasalahannya. Yang dianggap memenuhi kriteria adalah yang “Wi….. bawa kunci kendaran dan STNK nya atas nama pribadi, alias punya sendiri bukan menyewa atau meminjam. “ “Wi….. bawa kunci rumah dan sertifikatnya atas nama pribadi alias punya sendiri bukan menyewa atau menge-kos.“
Ternyata dua kriteria yang dipersyaratkan oleh pasangan suami istri itu, yakni “berwi-bawa“ dan “berke-pribadi-an“ tersebut ada hubungannya dengan harta yang dimiliki oleh para pria yang berminat kepada putri mereka. Sebenarnya yang mereka cari adalah calon pendamping yang kaya dan sudah mapan bagi putri mereka, selain tentu saja syarat-syarat umum lainnya, seperti baik, pintar, tampan, penyayang, bertanggung jawab, dan lain-lain.
*********
Galau umum terjadi dalam kehidupan setiap manusia. Galau sulit dihilangkan sama sekali dari pikiran seseorang. Namun keberadaan galau tidak boleh berlebihan, tidak boleh over dosis. Galau harus dikelola dengan baik supaya hidup menjadi lebih tenang dan produktif.
Galau yang tidak terkelola dengan baik dapat menimbulkan lingkaran negatif. Orang dengan pikiran yang galau, suasana hatinya akan mudah menjadi buruk (bad mood). Dalam kondisi ini, fokus, gairah, dan kreativitas orang tersebut akan menurun. Hal ini berakibat kepada hasil pekerjaan yang buruk atau tidak maksimal. Galau dalam pikirannya menjadi semakin besar.
Galau yang semakin besar ini lalu membuat suasana hatinya bertambah buruk. Fokus, gairah, dan kreativitasnya terdorong menjadi semakin menurun sehingga hasil pekerjaannya menjadi semakin buruk. Alhasil galaunya semakin parah. Lingkaran negatif ini terus berputar menjadi semakin parah.
Sebaliknya, jika galau dalam pikiran seseorang dapat dikelola dengan baik, suasana hatinya akan mudah menjadi baik (good mood). Dalam kondisi ini, fokus, gairah, dan kreativitas orang tersebut akan dapat dipertahankan atau meningkat. Hal ini membuat hasil pekerjaannya menjadi baik. Galau dalam pikirannya menjadi berkurang. Selanjutnya, galau yang semakin berkurang ini akan membuat suasana hatinya semakin baik. Fokus, gairah, dan kreativitasnya menjadi semakin meningkat sehingga hasil pekerjaannya menjadi semakin baik atau memuaskan. Alhasil galaunya semakin mengecil. Lingkaran positif inilah yang diharapkan terjadi melalui pengelolaan galau yang baik.
“Galau bukanlah monopoli remaja dan anak muda. Galau bisa menyerang siapa saja tanpa kecuali, apapun latar belakangnya, tanpa mengenal waktu.”
(Diambil dari Buku “MotivAction – Motivation for Action”)

















