Kejadian yang dialami oleh seorang ibu, sebut saja Khanti ini terjadi sekitar 10 tahun yang lalu. Waktu itu Khanti mengalami depresi yang lumayan serius. Setiap hari Khanti menangis selama hampir dua bulan lamanya. Matanya tiap hari bengkak seperti kungfu panda. Menangis terus-menerus itu membuat diri Khanti merasa sangat capek. Dia ingin terbebas dari depresi tersebut.
Sayangnya Khanti tidak tahu cara melepaskan dirinya dari depresi. Banyak orang menasihatinya termasuk di antaranya adalah suaminya, teman-temannya, bahkan anaknya yang masih kecil pun bisa menasehati dirinya. Apa yang Khanti alami termasuk ke dalam “Kenyataan Yang Terlupakan”. Apakah itu? Khanti lupa jika kemelekatan akan menimbulkan penderitaan.
Ada kalimat bijaksana yang berbunyi, ”Dari kemelekatan timbul kesedihan. Dari kemelekatan timbul ketakutan. Bagi orang yang telah bebas dari kemelekatan, tiada lagi kesedihan maupun ketakutan.”
Awal depresi ini adalah ketika anak Khanti akan berkuliah di luar negeri. Dari kecil Khanti sangat akrab dengan anaknya, bahkan sudah seperti teman. Ketika anak pertamanya berangkat ke luar negeri untuk berkuliah, Khanti sempat mengantarkan anaknya sampai ke tempat tinggalnya di luar negeri guna membantu mengurus berbagai keperluan anaknya di sana. Setelah lima hari di sana, tibalah saat Khanti harus pulang. Saat itu, taksi yang dipanggil sudah datang untuk mengantar Khanti ke bandara. Namun ketika Khanti bersiap melangkah keluar dari rumah kos anaknya, anaknya berteriak dan menangis. Anaknya sambil terus menangis bertanya kepada Khanti apakah benar dia akan ditinggal sendirian di sana.
Khanti sebagai orang tua tentu tidak tega. Khanti menasihati anaknya bahwa sebenarnya ini hanya untuk keperluan kuliah saja. Nantinya tentu saja anaknya bisa kembali ke rumah setelah lulus kuliah. Namun anaknya tidak juga berhenti menangis. Akhirnya Khanti menjadi sedih dan ikut menangis pula. Bolak balik Khanti berjalan menuju taksi yang sudah menunggu dan balik lagi ke rumah kos anaknya. Ibu kos anaknya mengingatkan Khanti bahwa jika terus demikian, Khanti pasti akan ketinggalan pesawat. Jadi Khanti harus secepatnya berangkat ke bandara.
Antara tega dengan tidak tega, Khanti akhirnya meninggalkan anaknya di sana dengan perasaan yang sangat sedih.
Di dalam taksi, Khanti masih terus menangis. Sangat mungkin sopir taksi heran meski tidak berani bertanya. Sesampai di bandara, Khanti masih terus menangis. Bahkan di dalam pesawat pun Khanti masih menangis. Penumpang yang duduk di sebelahnya, seorang bapak-bapak, bertanya kepada Khanti, “Ibu kenapa?” Khanti menghentikan tangisnya sebentar dan sambil menarik napas mencoba menjawab, “Saya… “ (belum sempat menjawab lengkap, Khanti sudah menangis lagi). Akhirnya si bapak berkata, “Sudah Bu, tidak usah dijawab tidak apa-apa.”
Singkat cerita, Khanti tiba di Jakarta. Waktu itu masih populer BBM (Blackberry Messenger). Khanti langsung mengirim BBM menanyakan kabar anaknya. Jawaban dari anaknya adalah bahwa dia baik-baik saja. Meskipun mendapat jawaban demikian dari anaknya, Khanti masih merasa sedih dan menangis lagi.
Selanjutnya, setiap hari Khanti ke kantor dengan mata bengkak. Ketika sedang sibuk bekerja di kantor, Khanti tidak menangis. Namun jika sedang bengong, Khanti langsung menangis lagi. Jika sudah pulang kerja, Khanti biasanya masuk ke kamar anaknya hanya untuk melihat-lihat lemari baju anaknya. Khanti seperti seseorang yang tidak memiliki harapan untuk hidup.
Begitulah hidup dilalui oleh Khanti hingga kurang lebih dua bulan. Setelah itu Khanti menyadari betapa bodoh dirinya. Mengapa dirinya begitu melekat kepada anaknya. Namun kenyataannya memang seperti itu. Orang-orang memberikan banyak nasihat kepadanya namun tidak bisa diterima oleh Khanti. Padahal Khanti seringkali menelpon anaknya untuk menanyakan apakah kondisinya di sana baik-baik saja. Anaknya juga sudah bercerita bahwa dia betah di sana dan memiliki banyak teman yang baik untuk belajar, jalan-jalan, dan makan bersama.
Pada suatu hari Khanti diajak temannya untuk ikut bermeditasi. Teman Khanti mengatakan bahwa dalam kondisi depresi, bagus jika bisa melakukan meditasi guna menenangkan pikiran.
Awalnya Khanti menolak dan mengatakan bahwa dia tidak bisa dan tidak mengerti apa itu meditasi. Kemudian teman Khanti menjawab bahwa dia ingin mengikuti meditasi namun tidak ada kendaraan untuk berangkat ke tempat meditasi. Temannya meminta bantuan Khanti untuk menjemputnya dan lalu bersama-sama pergi ke tempat meditasi.
Khanti berpikir bahwa ada baiknya dia membantu temannya dan sekaligus dia juga bisa belajar tentang meditasi. Akhirnya Khanti setuju dengan apa yang ditawarkan temannya tersebut.
Awal pertama Khanti ikut bermeditasi, dia merasa bahwa meditasi merupakan sesuatu yang sangat bagus, yang bisa membuat dia belajar melepas. Perlahan-lahan Khanti mulai menyadari ternyata dia selama ini sangat melekat kepada anaknya, melekat kepada orang yang dia cintai. Khanti mulai terus berlatih meditasi setiap minggunya dan mulai saat itu dia rutin ikut berbagai pelatihan meditasi.
****
Terkadang hal yang sederhana terlupakan. Khanti kemudian menyadari bahwa adalah suatu kenyataan seorang anak yang mau berkuliah di luar kota atau luar negeri, tentu berpisah dengan orang tuanya adalah hal yang wajar.
“Kenyataan yang terlupakan” di mana terkadang kita lupa bahwa kita harus melepas. Melepas yang baik dan benar adalah kunci kebahagiaan. Melepas membuat kita bisa berbagi kepada sesama. Melepas bisa dilakukan dengan cara berdana, berzakat, dan lain-lain banyak sekali caranya.
Belajarlah untuk menerima kenyataan bahwa kita harus bisa melepas apapun itu, karena dengan melepas akan meringankan penderitaan dalam batin kita. Dengan belajar melepas, kita bisa menjadi lebih dewasa dalam menghadapi apapun yang mungkin tidak kita inginkan. Dengan belajar melepas, kita akan mampu lebih memaksimalkan diri kita dalam mengeluarkan seluruh potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita. Niscaya kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih luas dalam kehidupan akan menjadi milik kita.
“Belajar melepas adalah sangat baik untuk meraih hidup yang lebih damai dan bahagia, serta dapat memaksimalkan diri dalam mengeluarkan seluruh potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri.”
(Diambil dari Buku “MotivAction – Motivation for Action”)

















