“Character cannot be developed in ease and quiet. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired, and success achieved.”
“Karakter tidak bisa dikembangkan dengan mudah dan tenang. Hanya melalui pengalaman dari percobaan dan penderitaan maka jiwa dapat diperkuat, visi diperjelas, ambisi diinspirasi, dan keberhasilan dicapai.”
~ Helen Keller ~
Apa jawaban kita jika dihadapkan kepada pertanyaan, manakah yang lebih baik apakah mengembangkan kepribadian atau karakter? Banyak orang yang salah dalam menjawab pertanyaan ini. Karena tidak mampu membedakan mana yang lebih baik, sebagian orang kemudian salah dalam mempraktikkannya sehingga dampaknya tidak sesuai dengan yang diinginkan.
Definisi “kepribadian” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang yang membedakannya dari orang lain. Kepribadian merupakan keseluruhan cara seseorang berinteraksi dan bereaksi terhadap orang lain. Adapun definisi “karakter” dalam KBBI adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Karakter dianggap akumulasi dari sifat, watak, dan kepribadian seseorang.
Berarti karakter lebih luas dan dalam dibanding kepribadian. Karakter bisa menjadi dasar kepribadian seseorang walaupun tidaklah serta merta demikian. Kepribadian seseorang lebih mudah dan cepat terbentuk, namun karakter harus melalui proses pembelajaran yang panjang dan terjadi seumur hidup. Oleh karenanya, John C. Maxwell, seorang penulis dan pembicara kepemimpinan terkenal di dunia, mengatakan bahwa kebanyakan orang lebih suka membangun kepribadiannya ketimbang karakternya. Maxwell melanjutkan bahwa pengembangan kepribadian membawa hasil yang lebih cepat, tidak terlalu menuntut, dan dalam kebanyakan kasus hanya memerlukan sedikit pengorbanan.
Seseorang yang terlihat memiliki kepribadian yang hangat dan ramah kepada semua orang, sangat mungkin memiliki karakter yang selaras yakni menghargai orang lain. Namun tidaklah harus demikian. Mungkin saja karakternya malah tidak atau kurang menghargai orang lain. Dia bisa tampil hangat dan ramah di depan umum karena secara sadar ia ingin membentuk persepsi positif dari orang-orang lain terhadap dirinya.
Kisah berikut sangat umum ditemui di dalam masyarakat. Kisah ini menggambarkan bahwa kepribadian dan karakter belum tentu sejalan. Karakter adalah jauh lebih berharga untuk dikembangkan dibanding dengan kepribadian walaupun memerlukan upaya besar.
**********
Seorang pemuda sedang jatuh hati kepada seorang gadis. Karena gadis itu baik, cantik, dan berasal dari keluarga yang baik, kandidat yang akan diterima sebagai pasangan si gadis tentu saja haruslah seorang pemuda yang baik dan memiliki latar belakang yang tidak cacat.
Banyak sekali pemuda dari berbagai latar belakang yang menyatakan cinta kepada si gadis. Berbagai janji manis diobral oleh mereka. Bahkan dalam janjinya, mereka rata-rata menyatakan siap berkorban nyawa sekalipun jika terpilih mendampingi si gadis.
Setelah melalui proses seleksi yang cukup panjang, pada akhirnya terpilihlah seorang pemuda. Sebenarnya ada selentingan yang sampai ke telinga si gadis dan orang tuanya bahwa si pemuda sebenarnya tidak sebaik yang terlihat. Namun selama ini si pemuda sudah menunjukkan kepribadian yang baik dalam bergaul dan berinteraksi dengan si gadis maupun orang tua si gadis. Pemuda tersebut akhirnya berhasil menjatuhkan hati si gadis dan orang tuanya.
Di hari yang sudah ditentukan, berlangsunglah pemberkatan secara agama yang disambung dengan resepsi pernikahan yang meriah. Pasangan mempelai terlihat sangat serasi. Keduanya terlihat mesra satu dengan yang lain.
Selesai pesta tersebut, keduanya hidup berdua di rumah kecil yang sudah disiapkan untuk mereka. Masa awal pernikahan dan kehidupan yang dijalani berdua berlangsung dengan baik dan lancar. Masa-masa bulan madu terasa demikian manis dan menyenangkan.
Namun tidak membutuhkan waktu lama, mulai terlihat bahwa karakter si pemuda sesungguhnya kurang baik. Kepribadian baik yang selama ini diperlihatkan sewaktu pacaran, ternyata hanyalah cara untuk mengambil hati si pacar dan orang tuanya. Setelah gadis yang diincar diperoleh, barulah kelihatan seperti apa sebenarnya karakter dari si pemuda. Biduk rumah tangga keduanya pun tidak berlangsung lama. Setelah beberapa tahun hidup bersama yang dilalui dengan banyak pertengkaran, keduanya sepakat bahwa berpisah adalah jalan terbaik.
**********
Seseorang yang memiliki karakter yang buruk belum tentu menampilkan kepribadian yang buruk pula. Bisa jadi kepribadiannya terlihat baik karena ada tujuan tertentu yang ingin dicapai. Di balik kepribadian yang baik ternyata ada karakter yang buruk. Namun orang dengan karakter yang baik pasti kepribadiannya baik pula. Artinya karakter adalah yang pertama dan utama. Pengembangan karakter haruslah menjadi prioritas setiap orang.
Kepribadian seumpama kulit luar sedangkan karakter adalah isi yang dibungkus oleh kulit luar. Kepribadian seumpama pemain yang tampil di layar, sedangkan karakter adalah sutradara atau aktor intelektual di belakang layar yang merencanakan semuanya. Pemain seharusnya melakukan yang sesuai atau mengikuti arahan sutradara. Namun kenyataannya tidaklah selalu demikian. Bisa terjadi pemain berimprovisasi sendiri di luar arahan sutradara.
Oleh karenanya, pupuk dan kembangkan karakter baik dalam diri kita, niscaya kepribadian yang baik akan menjadi milik kita. Jika hanya kepribadian baik saja yang kita kembangkan, tidak serta merta karakter kita menjadi baik pula. Dengan memupuk karakter yang baik, lebih mudah bagi kita untuk mengeluarkan diri kita yang terbaik, yakni mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik yang masih terpendam di dalam diri kita. Niscaya kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih luas dalam kehidupan akan menjadi milik kita.
“Utamakan karakter daripada kepribadian. Bangun karakter yang baik maka kepribadian yang baik akan mengikuti.”
(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

















