Tahun 2020 menjadi tahun yang akan dicatat dalam sejarah manusia, karena adanya wabah Covid yang menyebar di seluruh dunia, tetapi ada sebagian orang mencatanya jauh lebih dalam, kehilangan.
Sebelum tahun 2020, papa istri saya sudah mulai sering sakit, maklum umurnya sudah 87 tahun, beberapa bulan sehat lalu masuk rumah sakit. Setelah keluar, beberapa bulan kemudian masuk lagi.
Papa tidak banyak tuntutan, tidak mengeluh, beliau menjalaninya dengan tenang. Walaupun papa tidak mengeluh, tetapi istri selalu memikirkannya, maklum istri cukup mengerti soal kesehatan karena ia seorang dokter.
Karena terbiasa berhubungan dengan kesehatan, sehingga secara tidak langsung merasa bertanggung jawab dan tanpa disadarinya ia terbebani.
Sebagai suami berusaha menghibur, tetapi kalau sudah terkait dengan orang tua tidak banyak yang dapat dilakukan, karena hubungan ikatan dengan orang tua adalah hubungan yang paling spesial bagi setiap makhluk.
Teringat akan nasihat Sang Buddha mengenai syair yang harus direnungkan (Abhiṇhapaccavekkhaṇa Pāṭha), saya menyarankan istri saya untuk membaca arti setiap hari, tetapi kata “aku” diganti dengan “papa”.
Ketika kata “aku” diubah menjadi “papa” syair ini menjadi sangat bermakna bagi istri.
Papa wajar mengalami usia tua.
Papa takkan mampu menghindari usia tua.Papa wajar menyandang penyakit.
Papa takkan mampu menghindari penyakit.Papa wajar mengalami kematian.
Papa takkan mampu menghindari kematian.Segala papa miliki, yang papa cintai dan papa senangi wajar berubah, wajar terpisah darinya.
Papa adalah pemilik perbuatannya sendiri,
terwarisi oleh perbuatannya sendiri,
lahir dari perbuatannya sendiri,
berkerabat dengan perbuatannya sendiri,
bergantung pada perbuatannya sendiri.Perbuatan apa pun yang akan papa lakukan,
baik ataupun buruk;
perbuatan itulah yang akan papa warisi.Demikian hendaknya kerap kali aku renungkan.
***
Setelah membacakan syair perenungan ini setiap hari dalam beberapa bulan, istri menjadi lebih tenang, tetapi perhatiannya pada papa nya tidak berkurang.
Tahun 2020, papa meninggal pada usia 88 tahun. Ketika mendengar kabar papa meninggal, istri tenang, selama beberapa hari di rumah duka juga tetap tenang, ia melihat wajah papa di peti mati biasa saja, tidak sedih, katanya “Seperti melihat papa tidur”.
Setelah beberapa setelah hari penguburan selesai, tidak ada tanda-tanda kesedihan, hanya sekali suatu ketika ia membuka telepong genggamnya melihat foto papanya, keluar air mata, tetapi hanya sebentar.
Ikatan pada orang tua adalah ikatan yang sangat spesial, kehilangan orang tua bagi sebagian orang tidaklah mudah dihadapi.
Merenungkan bahwa orang tua akan menjadi tua, sakit dan akhirnya akan meninggal, merupakan sebuah persiapan, bahwa memang demikian kehidupan, ada kelahiran, akan mengalami sakit, usia tua dan akhirnya ada kematian.
Ditinggalkan oleh orang tua atau siapapun yang kita cintai sepertinya butuh persiapan, masalanya semua orang yang kita cinta pasti akan mengalami kematian, termasuk diri kita sendiri. Itulah sebabnya perenungan yang harus sering dilakukan, diajarkan oleh Sang Buddha utamanya ditujukan pada diri sendiri.
Karena terlahir, maka akan sakit, akan tua, dan akan menghadapi kematian. Tidak ada satupun manusia yang terlahir tapi tidak mati.

















