Top 10 Penulis

Kisah Seorang Ahli Roda

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

two brown carriage wheels learning on brown house
Photo by Jon Cartagena

Di zaman dinasti Han hiduplah seorang ahli pembuat roda. Dia bernama Han Fei, berusia lima puluh tahun dan hidup seorang diri tanpa keluarga.


Dia sangat ahli dalam membuat roda dan sangat mencintai pekerjaan tersebut yang sudah dirintis sejak masih muda. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan Suhu Fei.

Raja sering memerintah menterinya agar meminta Fei membuat beberapa roda. Roda-roda hasil karya Fei akan dipasang pada kereta pengangkut barang.

Fei sangat bersukacita dalam hal membuat roda. Dia selalu menggunakan kayu yang sangat kuat dan lentur. Semua didapati dari penjual kayu setempat.

Setelah semua bahan kualitas tinggi diperoleh, dia mulai bekerja pagi, siang, dan sore di tokonya. Hasilnya dia mampu membuat beberapa roda dalam kurun waktu sehari.

Pada suatu masa di musim kemarau yang sangat panjang, Fei memiliki urusan yang membuatnya harus ke luar kota. Dan tentu saja dia harus meninggalkan tokonya untuk beberapa hari.

Dikarenakan cuaca yang panas dan kering saat itu, maka banyak sekali peristiwa kebakaran terjadi di kota tempat Fei membuka usahanya. Nahas, toko Fei tak luput dari ancaman tersebut.

Saat api berkobar pada malam hari di toko Fei, para tetangga mencoba memadamkan api. Mereka saling membantu tetapi tidak mampu berbuat banyak untuk menyelamatkan toko itu.

Ketika api berhasil dipadamkan, toko Fei sudah mengalami kerugian yang besar. Semua bahan, perlengkapan, dan roda-roda berubah menjadi abu dalam hitungan satu malam.

Mendengar kabar bahwa tokonya terbakar habis, Fei segera pulang ke kota.

Dalam perjalanan pulang yang memakan waktu sehari, Fei akhirnya tiba di kota dan dengan tergesa-gesa menuju toko kesayangannya sebagai satu-satunya sumber pendapatan.

Begitu dia sampai di toko itu, ada rasa sedih dan kecewa yang sangat mendalam. Dia menangis dengan keras, dunia seakan runtuh. Dadanya sesak dan dia berharap itu hanyalah sebuah mimpi buruk.

Para tetangga mencoba menghibur tetapi suhu Fei terlalu sedih untuk menerima semua itu. Usaha kerasnya selama puluhan tahun menjadi abu dalam waktu semalaman.

Semenjak itu, dia menjadi sangat kurus karena hanya makan sedikit. Dia selalu melewatkan hari dengan termenung. Masih diingatnya ketika tokonya ramai dalam mendapatkan permintaan membuat roda. Dia telah banyak mengahabiskan waktu dan keringat dalam menjalankan usaha tersebut.

Kondisi Fei semakin memburuk selama beberapa bulan. Dia hanya bangun dan makan sedikit sekali. Tidak banyak yang dikerjakan olehnya setiap hari selain duduk meratapi nasib.

Hingga suatu hari ada pemuda yang sangat bijaksana mampir ke rumah Fei. Dia menjenguk dan menanyakan keadaan Fei.

“Apa kabar Suhu Fei?”

Fei menarik napas panjang dan menghembusnya dengan berat.

“Saya sangat sedih. Ingin saya meninggal dunia saja.”

Pemuda itu melihat wajah Fei yang sangat putus asa.

“Bersemangatlah kembali. Suhu Fei dapat bangkit kembali.”

Fei berpikir bahwa pemuda itu tidak tahu apa-apa karena bukan dia yang mengalami peristiwa nahas tersebut, lalu berkata;

“Kamu tahu apa? Semua itu kurintis sejak saya masih muda, semua usaha keras telah saya kerjakan di sana. Kebakaran itu menyebabkan saya sangat bersedih karena kehilangan semua yang saya miliki.”

Pemuda bijaksana mencoba menghibur Fei dengan sangat terampil dan lalu percakapan mengalir bak air di sungai.

“Apakah Suhu Fei ahli dalam membuat roda?”

“Ya, saya sangat ahli. Saya mengetahui bagaimana memperoleh dan memilih bahan untuk membuat roda, cara membuat mereka melengkung dan menggabungkan semua menjadi satu roda utuh.”

“Lalu bagaimana setelah roda telah dibuat dengan segala kelengkapannya?”

“Saya akan mencoba melihat kualitas roda yang telah jadi dengan memutarnya di atas pemukaan jalan yang rata.”

“Bagaimana dengan laju roda tersebut?”

“Laju roda seharusnya rata menyentuh permukaan tanah, lalu berputar lurus tanpa berbelok dan kokoh ketika berputar.”

“Apakah satu bagian permukaan roda selalu menyentuh jalan, atau bagian lain harus silih berganti berputar terus agar dapat berjalan untuk sampai tujuan?”

“Tuan, kita semua tahu ketika roda berputar, semua bagian permukaan roda akan berputar silih berganti apakah bagian atas, bawah, dan diantaranya.”

“Lihatlah, Suhu Fei adalah seorang ahli pembuat roda. Mengetahui cara membuat roda dan cara berputar hingga bisa bergerak sampai pada tujuan.”

“Iya, itu memang keahlian saya.”

“Tetapi apakah Suhu Fei mengetahui sebagaimana roda berputar, kehidupan ini juga berputar?”

Fei tersendak, seakan mendapatkan pelajaran yang menohok dari percakapan  tersebut. Ini adalah suatu pencerahan atas kesedihan mendalam yang telah dia alami.

“Tuan, terima kasih. Sekarang saya menyadari bahwa kehidupan selalu berputar layaknya sebuah roda. Roda harus selalu berputar untuk berjalan sampai tujuan. Posisi bagian atas roda akan bergantian dengan posisi bagian bawah. Begitu pula sebaliknya.”

Pemuda itu melanjutkan.

“Ya. Begitulah, kehidupan ini selalu berputar bagai sebuah roda. Kadang kita di atas dan kadang kita di bawah.”

Mendengar itu semua, Suhu Fei menjadi bahagia dan berjanji untuk segera bangkit dari keterpurukannya.

“Tuan, saya sangat berterima kasih kepada Anda. Saya akan bangkit hari ini karena telah tersadarkan.”

Pemuda itu tersenyum dan merasa bahagia setelah membuat Fei menyadari bahwa kehidupan ini selalu berputar bagaikan sebuah roda.

Kadang kita mengalami kebahagiaan dan penderitaan tetapi kedua kondisi tersebut tidaklah selalu bertahan lama, akan berlalu silih berganti.

Kita harus segera bangkit ketika sedang terpuruk dan harus senantiasa waspada ketika kita sedang mengalami kebahagiaan agar tidak hanyut di dalamnya.

****

Penulis : Willi Andy.



Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

Hand with red nails showing four fingers
Rasa kecewa sebenarnya merupakan perasaan yang wajar dan pasti akan terjadi karena memang semuanya bukan milik kita dan tidak ada “aku” atau “tuan” yang sebenarnya.

Tulisan Terkait