“When dealing with people, let us remember we are not dealing with creatures of logic. We are dealing with creatures of emotion, creatures bristling with prejudices and motivated by pride and vanity.”
“Ketika berurusan dengan orang-orang, ingatlah bahwa kita tidak berurusan dengan makhluk-makhluk logika. Kita berhadapan dengan makhluk-makhluk emosi, makhluk-makhluk yang lengkap dengan prasangka dan termotivasi oleh kebanggaan dan kesombongan.”
~ Dale Carnegie ~
Kritik adalah hal yang umum dalam kehidupan manusia. Ada kemungkinan kita juga sering menerima atau pun malah mengeluarkan kritik. Sangat mudah mengeluarkan kritik namun biasanya orang sulit menerima kritik. Dampak dari kritik bisa sangat besar dan bertahan lama.
Kritik bisa mengakibatkan orang yang dikritik melakukan hal-hal yang tidak terbayangkan sebelumnya. Bagaimana pun salahnya seseorang, jika dikritik, akan muncul kecenderungan dalam dirinya untuk mempertahankan atau membela diri. Ini dikarenakan kritik itu melukai rasa kebanggaan diri, menghancurkan perasaan penting, dan membangkitkan rasa benci dan sikap melawan. Alhasil, orang yang dikritik akan mencari berbagai cara untuk membalas orang yang telah mengkritiknya, sekalipun kritik yang ditujukan kepadanya itu benar adanya.
Apabila di kemudian hari kita tergoda untuk mengeluarkan kritik kepada orang lain, ingatlah kisah Abraham Lincoln berikut ini.
*************
Abraham Lincoln adalah salah satu pemimpin terbesar dan paling dicintai oleh rakyat Amerika. Saat Lincoln terbaring sekarat setelah ditembak oleh John Wilkers Booth pada tanggal 15 April 1865, Menteri Angkatan Bersenjata Stanton berkata, “Di sana terbaring lelaki paling sempurna yang pernah ada di dunia.”
Apa rahasia sukses Lincoln dalam berhubungan dengan manusia? Awalnya Lincoln adalah seorang pengkritik yang hebat. Namun kemudian dia belajar banyak dari dampak-dampak negatif atas berbagai kritik yang pernah dia keluarkan. Akhirnya dia menjadi orang hebat yang hampir tidak pernah mengkritik orang lain. Lincoln telah menjalani banyak pelajaran hidup sebelum akhirnya dipuji dan dikenang orang hingga sedemikian rupa.
Salah satu pelajaran hidup paling berharga bagi Lincoln terjadi di musim semi tahun 1842. Kejadian ini membuat dia yang sebelumnya sangat suka mengkritik, menjadi orang yang hampir tidak pernah mengkritik siapapun dalam hal apapun. Di tahun itu, Lincoln mengejek seorang politikus yang suka berkelahi bernama James Shields melalui sepucuk surat tanpa nama.
Akhirnya ketahuan bahwa Lincolnlah yang menulisnya. Shields yang tidak bisa menerima kritikan tersebut lalu menantang Lincoln menyelesaikannya dengan perkelahian menggunakan senjata.
Lincoln diberikan kesempatan untuk memilih senjata dalam duel yang akan dilakukan. Karena memiliki lengan yang sangat panjang, dia memilih pedang kavaleri. Lalu dia belajar berkelahi dengan menggunakan pedang di West Point. Pada waktu yang sudah ditentukan, Lincoln dan Shields bertemu di tepi Sungai Mississipi, bersiap untuk bertarung sampai mati. Untungnya, di menit terakhir sebelum duel berlangsung, para pendukung mereka memisahkan dan menghentikan duel tersebut.
Kejadian dengan James Shields tersebut menjadi salah satu insiden yang paling mengerikan dan sangat membekas dalam hidup Lincoln. Kejadian itu mengajarinya satu pelajaran tak ternilai harganya dalam seni berhubungan dengan manusia. Setelah itu, Lincoln tidak pernah lagi menulis surat yang menghina orang lain. Tidak pernah lagi dia mengolok-olok seorang pun, seburuk apapun orang tersebut.
Lincoln menyadari bahwa kritik bagaimana pun akuratnya, akan lebih berefek negatif dibanding positifnya. Orang yang dikritik akan menjadi defensif dan mendendam alih-alih menjadi lebih baik. Di kemudian hari ketika dimintakan pendapatnya mengenai kritik, Lincoln berkata, “Jangan mengkritik orang lain. Mereka hanya bertindak dengan cara yang sama seperti yang akan kita lakukan kalau kita berada dalam situasi yang sama.”
************
Marilah kita sadari bahwa kritik itu akan berlaku seperti bumerang. Kritik yang kita keluarkan akan kembali kepada kita kadang kala bahkan dalam bentuk yang lebih dahsyat. Sadarilah bahwa jarang sekali atau sangat sedikit orang yang dikritik akan berdiam diri atau menerima kritik dan menindaklanjutinya dengan melakukan perbaikan diri. Seringkali orang yang dikritik menunggu waktu atau cara yang tepat guna membalas kritikan kita.
Lain kali, di saat kita akan mengkritik orang lain secara langsung, pikirkan ulang berkali-kali. Cobalah temukan cara atau pendekatan lain yang lebih baik daripada mengkritik sehingga pesan kita tetap tersampaikan tanpa menimbulkan efek negatif.
Seseorang yang mampu mengeluarkan diri dia yang terbaik adalah seseorang yang mampu mengelola dirinya dengan baik dalam mengeluarkan kritik kepada orang lain. Seseorang yang ingin mengeluarkan diri dia yang terbaik seharusnya menggunakan kritik akurat yang ditujukan kepadanya untuk mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam dirinya. Niscaya kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih luas dalam kehidupan akan lebih banyak mendatanginya.
“Kritik ibarat bumerang yang akan kembali kepada pemberi kritik. Kritik haruslah menjadi cara terakhir yang dilakukan jika sudah tidak ada cara lainnya lagi.”
(Diambil dari Buku “MotivAction – Motivation for Action”)

















