Sebuah cerita pendek dari lereng Gunung Lawu
Kabut masih menggantung di lereng Gunung Lawu ketika sang kakak sudah sibuk di kebun, menyiram pohon labu yang ia tanam dan rawat hingga tumbuh besar dan berbuah lebat. Di rumah sederhana di kaki gunung itu, ia tinggal bersama adik dan kedua orang tuanya … hidup yang tidak berlebihan, tetapi cukup.
Suatu hari, kabar besar mengguncang kerajaan. Sang Raja jatuh sakit parah.
Tabib kerajaan mengatakan bahwa hanya labu kembar … dua buah yang tumbuh dari satu tangkai … yang dapat menyembuhkan penyakit baginda. Maka diumumkanlah sayembara: siapa pun yang memiliki labu kembar akan menerima satu peti penuh emas.
Kebetulan luar biasa terjadi. Di kebun sang kakak tumbuh sepasang labu kembar yang sempurna.
Sang kakak segera memberi tahu keluarganya. Sukacita memenuhi rumah kecil itu. Namun jauh di dalam hati, sang ibu mulai diliputi kegelisahan.
Ia pernah melihat saudara bertengkar karena warisan dan sahabat berpisah karena uang. Ia takut emas yang datang terlalu banyak dan terlalu cepat akan mengubah hati kedua anaknya. Ketakutan itu tumbuh sedikit demi sedikit hingga akhirnya mengaburkan kejernihan yang selama ini menuntunnya.
Pada pagi keberangkatan sang kakak, ibu memanggil si adik ke dapur.
Di atas meja ada dua potong kue: satu polos, satu lagi bergambar bunga.
“Nak,” kata ibu dengan suara berbisik, “berikanlah kue bergambar bunga itu kepada kakakmu. Karena Ibu telah memberi racun di dalamnya.”
Si adik terkejut.
“Kenapa, Bu? Bukankah Ibu juga menyayangi Kakak?”
Wajah sang ibu tampak ragu sekejap … seolah hatinya sendiri menolak kata-kata yang baru saja diucapkannya.
“Ibu menyayanginya,” jawabnya pelan. “Tetapi Ibu takut emas membuat hati kalian berubah.”
Si adik terdiam. Tangannya gemetar ketika menerima kue itu.
Di halaman, sang kakak telah siap dengan keranjang labu kembar di pundaknya. Wajahnya berseri-seri.
“Adikku,” katanya sambil tersenyum, “tunggulah Kakak pulang. Kakak akan membawakan banyak oleh-oleh untukmu. Dan peti emas itu … akan kita nikmati bersama.”
Mendengar itu, dada si adik terasa sesak.
Ia teringat bagaimana kakaknya selalu melindunginya sejak kecil, membelanya saat diejek teman-teman, dan diam-diam memberikan bagian makanan terbaik kepadanya.
Ia takut. Sangat takut. Ia masih ingin hidup. Masih ingin tumbuh dewasa.
Masih ingin melihat dunia yang lebih luas daripada desa kecil mereka di kaki Gunung Lawu ini.
Namun setiap kali mengingat kebaikan kakaknya, ketakutan itu kehilangan sebagian kekuatannya.
Jika salah satu dari mereka harus pergi, biarlah dirinya yang pergi.
“Kak,” katanya perlahan, “aku ingin kue yang bergambar bunga.”
Sebelum kakaknya sempat menjawab, ia mengambil kue itu dan memakannya sampai habis.
Sang kakak tertawa.
“Dasar adikku. Dari dulu memang suka yang cantik-cantik.”
Mereka berpelukan.
Lalu sang kakak melangkah pergi, meninggalkan jejak kaki di jalan berdebu yang menghilang di balik kabut lereng gunung.
Begitu kakaknya hilang dari pandangan, si adik kembali ke dalam rumah.
“Ibu,” katanya pelan, “kue beracun itu telah kumakan.”
Wajah ibunya seketika kehilangan warna.
“Kakak sangat baik kepadaku. Sejak kecil ia selalu melindungiku. Mana mungkin aku tega membunuhnya demi emas?”
Air mata mulai mengalir di pipinya.
“Aku sebenarnya takut, Bu.”
Suaranya pecah.
“Aku tidak ingin mati. Tetapi aku juga tidak sanggup hidup dengan mengetahui bahwa Kakak mati karena aku.”
Lalu ia menunduk.
“Kalau aku mati nanti, Bu… sayangilah Kakak seperti Ibu menyayangiku.”
Ia memejamkan mata dan menunggu.
Namun yang datang bukan kematian.
Melainkan pelukan ibunya.
Pelukan yang hangat dan basah oleh air mata.
“Anakku… anakku yang baik,” isak sang ibu. “Tidak ada racun. Tidak sedikit pun racun di dalam kue itu.”
Si adik membuka mata dengan bingung.
Sang ibu menangis semakin keras.
“Ibu hanya ingin tahu apakah emas dapat mengubah hatimu. Tetapi Ibu telah meminta terlalu banyak darimu. Maafkan Ibu, Nak.”
Mereka berdua menangis dalam pelukan.
Dan saat itu sang ibu mengerti bahwa kasih anaknya jauh lebih besar daripada ketakutannya sendiri.
Beberapa hari kemudian sang kakak pulang membawa peti emas.
Malam itu seluruh kisah diceritakan kepadanya.
Sang kakak terdiam lama.
Matanya berpindah dari ibunya kepada adiknya, lalu kembali lagi. Seolah-olahb untuk pertama kalinya ia melihat betapa dekatnya kehilangan itu pernah berdiri di depan pintu rumah mereka … di antara kabut pagi dan sepotong kue bergambar bunga.
Lalu ia memeluk adiknya erat-erat.
“Kau rela mati demi aku?” tanyanya dengan suara bergetar.
Si adik tersenyum.
“Karena Kakak lebih berharga daripada emas.”
Malam itu peti emas berdiri di sudut rumah.
Berkilau dan berharga.
Namun tak seorang pun memandanginya.
Yang mereka lihat hanyalah satu sama lain.
Dan untuk pertama kalinya, emas terlihat begitu kecil.
“Di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.”

















