Bangku nomor 21 itu sudah ditempati oleh beberapa orang ketika saya naik. Setelah secara sopan memberitahukan bahwa itu tempat duduk saya, dan juga dua orang penumpang lain di belakang saya, mereka akhirnya bangun dan pergi. Ternyata, tiket KA Lokal relasi Cianjur-Sukabumi ini dijual tanpa duduk. Berdiri atau duduk harganya sama, Rp 3.000,-. Penumpang lebih memilih berdiri daripada menggunakan transportasi umum lain yang lebih mahal dan sulit untuk diandalkan. Mereka tetap membeli tiketnya sambil berharap ada bangku kosong yang mereka dapat tempati.
Risiko yang 99,9 persen pasti mereka hadapi karena semua penumpang yang membeli tiket berdiri pasti punya harapan yang sama. Ada bangku kosong. Makanya tidak heran bila bangku saya sudah ditempati orang ketika saya tiba.
Ada satu pengalaman kurang menyenangkan pada suatu perjalanan. Kasusnya sama, tempat duduk ditempati orang lain. Kali ini peristiwanya terjadi di pesawat beberapa tahun yang lalu. Kejadiannya menimpa penumpang di tempat duduk 1A. Dia sudah duduk nyaman ketika seorang penumpang (wanita hamil) ingin duduk di tempat itu. Wanita hamil ini bahkan tidak mau masuk ke kabin pesawat hingga si penumpang 1A ini pindah. Wow bukan! Si 1A tidak mau pindah, yang hamil tidak mau duduk di tempat lain. Penerbangan ini tertunda hampir 1 jam. Dampaknya? Penumpang di sebelah saya ketinggalan pesawat Jakarta – Jepang – Amerika. Entah siapa yang salah?
Karena beberapa kali tempat duduk jendela saya ditempati orang, belakangan saya lebih memilih kursi di pinggir. Aman dari drama meminta penumpang pindah dari kursi hak saya. Saya juga bersedia bertukar kursi bila ada penumpang yang terpisah. Kadang pasangan, orang tua dengan anak, atau rekan sejawat yang terbang bersama. Bila pas check-in dapat tempat duduk di tengah, saya terima saja. Lebih damai dan tenang. Yang penting pesawat segera terbang dan mendarat dengan selamat.
Menghargai hak sesama penumpang bukan hanya sekedar urusan kursi. Untuk perjalanan udara, datang tepat waktu juga bersumbangsih dalam menentukan pesawat terbang tepat waktu. Saat nama sudah dipanggil berkali-kali di bandara. itu bukan tanda Anda orang penting. Itu berarti nasib Anda bergantung kepada kebaikan pilot. Beda cerita dengan kereta. Apakah Anda ada atau tidak ada di dalam gerbong, masinis tetap berangkat saat waktunya sudah tiba.
Sebagai siswa Buddha, peduli kepada sesama adalah bentuk praktik Dharma. Tidak merugikan diri sendiri dan orang lain dan melakukan perbuatan bermanfaat/melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya adalah praktik yang dapat dilakukan berdasarkan salah satu inti ajaran Buddha dalam syair Dhammapada 183. Dasar pemikirannya adalah setiap makhluk tidak ingin susah. Anda dan saya juga tidak ingin susah, bukan? Kita mau duduk di kursi yang merupakan hak kita.
Orang lain juga mau duduk di kursi hak dia. Makanya, mari kita duduk di kursi masing-masing. Bila tidak mau berdiri, beli tiket jauh-jauh hari. Praktik yang lain adalah menghargai waktu sesama penumpang, khususnya dalam perjalanan udara. Supaya pesawat terbang tepat waktu, tibalah lebih awal di bandara. Jangan merasa sok penting hingga nama dipanggil-panggil. Dengan praktik Dharma, kita buat perjalanan menjadi lancar dan hidup kita jadi hepi.
Ngomong-ngomong, tulisan ini dibuat di kursi 13D eksekutif 2 kereta Pangrango, Sukabumi-Bogor. Kereta ini biasa selalu penuh di akhir pekan. Hampir tidak ada kursi kosong. Tapi kali ini saya duduk sendiri. Mungkin penumpang 13C telat datang.

















