Top 10 Penulis

Laku Benar Seorang Buddhis

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

buddha, buddha statue, shakyamuni
Photo by nyochi

Dalam dunia korporasi, populer penggunaan metode evaluasi dan penilaian karyawan yang dikenal dengan nama “360 derajat” (360 degree evaluation/assessment). Berdasarkan metode ini, penilaian seorang karyawan tidak saja dilakukan oleh atasan langsung ataupun atasan kedua di atasnya, tetapi juga oleh rekan sekerja yang satu level (peer) maupun dari bawahan langsung (subordinate) yang bersangkutan. Umumnya kontribusi atau persentase penilaian terbesar berasal dari atasan langsung dan atasan kedua di atasnya.

Jika penilaian hanya diberikan oleh jalur vertikal yang lebih tinggi (atasan langsung dan atasan tidak langsung), karyawan cenderung bersikap “ABS” (Asal Bapak Senang) atau menjadi ”Yes Man” untuk mengambil hati dan menjilat atasannya dengan tujuan mendapat penilaian bagus. Harapannya nanti saat penentuan promosi jabatan, penentuan bonus, dan kenaikan gaji, bisa mendapatkan yang maksimal.

Sebaliknya, karena merasa memiliki kuasa (power) dan hak atas bawahannya, seorang atasan bisa berlaku sewenang-wenang kepada bawahannya. Atasan tidak merasa perlu mempertimbangkan pemikiran dan perasaan bawahannya. Atasan tidak mau terlihat kalah pintar jika menerima pendapat atau masukan dari bawahannya.

Banyak juga orang menjadi cuek atau tidak mengacuhkan rekan sekerja yang satu tingkat dengannya. Apalagi jika rekan tersebut tidak ada kaitan kerja langsung dengannya. Rekan sekerja yang satu tingkat juga biasanya tidak berperan dalam penentuan kemajuan karirnya. Karena merasa tidak butuh, banyak karyawan merasa tidak perlu memberikan perhatian atau mendukung rekan sekerjanya.

Tiga tipe karyawan tersebut merupakan fenomena umum di lingkungan kerja dalam korporasi, yakni “bermuka manis ke atas” (ke atasan), “bermuka cuek ke kiri, kanan,  depan,  dan belakang” (ke rekan sekerja yang satu tingkat),  dan “bermuka pahit ke bawah” (ke bawahan).

Implementasi metode penilaian “360 derajat” diharapkan bisa menghindarkan perusahaan dari perilaku karyawannya seperti tiga tipe tersebut. Sekali pun tidak bisa menghilangkan sama sekali, minimal bisa mengurangi perilaku kerja dan interaksi antar karyawan yang kurang baik.

Implementasi metode penilaian “360 derajat” diharapkan juga bisa mendorong praktik perilaku dan budaya kerja yang lebih harmonis, saling menghormati, dan saling mendukung. Metode ini bisa mendorong hubungan yang lebih erat dan konstruktif untuk kemajuan pribadi dan perusahaan.

Prinsip-prinsip penilaian “360 derajat” sebaiknya dipraktikkan tidak hanya dalam kehidupan profesional sebagai pekerja, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sosial kemasyarakatan dan religius. Penerimaan dan dukungan terhadap diri kita pasti akan meningkat drastis. Ujung-ujungnya, keberhasilan, kesuksesan, dan kebahagiaan akan lebih mudah kita raih.

Prinsip yang bersesuaian dengan konsept “360 derajat” ini sebenarnya sudah lama diajarkan oleh Buddha. Jadi hal ini pada dasarnya bukanlah hal baru bagi para buddhis. Malahan Buddha mengajarkan hubungan dan interaksi dengan orang lain dalam skema yang jauh lebih lengkap dibanding konsep “360 derajat”. Ajaran Buddha mencakup penghormatan kepada berbagai jenis orang yang berinteraksi dengan kita sepanjang kehidupan ini.

Suatu ketika, Buddha membabarkan ajaran kepada pemuda Sigala. Ajaran ini kemudian dikenal sebagai Sigalovada Sutta. Ini terjadi di suatu waktu, ketika hari masih sangat pagi. Buddha bertemu dengan pemuda Sigala pagi-pagi sekali, yang dengan rambut masih basah, sedang memberikan penghormatan ke empat penjuru mata angin, langit (atas), dan bumi (bawah).

Penghormatan tersebut dilakukan oleh Sigala karena mematuhi pesan ayahnya sebelum meninggal. Akan tetapi, sebenarnya Sigala tidak tahu persis arti penghormatan yang harus dilakukannya di setiap pagi hari tersebut. Fenomena seseorang melakukan sesuatu karena sudah menjadi tradisi atau karena diminta oleh seseorang yang dihormati, di zaman tersebut sangat umum.

Bahkan di zaman sekarang pun masih terdapat kebiasaan-kebiasaan yang sudah turun temurun. Meskipun dasar atau alasan kenapa kebiasaan tersebut dilakukan di waktu lampau, sudah tidak lagi relevan di zaman sekarang. Situasi dan kondisi berubah dengan berjalannya waktu. Dasar atau alasan yang relevan di suatu waktu, belum tentu akan tetap relevan di waktu kemudian. Oleh karena itu, seyogyanya kebiasaan diturunkan lengkap dengan alasannya sehingga tidak menjadi kebiasaan membuta tanpa makna.

Buddha kemudian menjelaskan kepada Sigala bahwa penghormatan ke enam arah mengartikan: ayah dan ibu sebagai arah Timur, guru sebagai arah Selatan, istri atau suami dan anak sebagai arah Barat, sahabat dan relasi sebagai arah Utara, para pertapa dan orang-orang suci sebagai arah Atas (langit), dan pelayan dan buruh sebagai arah Bawah (bumi).

Yang terpenting, penghormatan ke semua orang tersebut harus dipraktikkan di keseharian kehidupan. Penghormatan tersebut mewakili ungkapan terima kasih kita terhadap begitu banyak jasa dan kebaikan yang sudah kita terima dari begitu banyak orang sepanjang kehidupan kita. Meskipun tentu saja tidak semua dari mereka berlaku baik atau positif kepada kita. Mereka yang berlaku tidak baik atau negatif pun sebenarnya mengajarkan arti kehidupan dan menyediakan wadah berlatih kesabaran dalam diri kita.

Orang tua adalah orang dan guru pertama yang menyambut kehadiran kita di dunia dan mengajarkan tentang kehidupan. Meskipun orang tua kita tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, jasa mereka luar biasa besar kepada kita anak-anaknya. Meskipun kebanyakan orang tua tidak mengharapkan balas jasa dari anaknya, ibarat matahari menyinari bumi untuk mendukung kehidupan manusia dan alam semesta tanpa pamrih, kita wajib mengingat dan membalas jasa orang tua.

Guru-guru telah mengajarkan kita berbagai pengetahuan, keterampilan, dan etika serta tingkah laku yang baik dan benar. Guru-guru adalah pembuka jendela pengetahuan dan kehidupan kita. Tanpa mereka, kita akan menjadi orang “buta” atau orang dengan “penglihatan” yang terbatas.

Pasangan dan anak-anak melengkapi serta menjadi bagian dari kebahagiaan hidup kita. Mereka menjadi motivasi kita untuk mengisi dan meraih kehidupan terbaik. Mereka menjadi sumber inspirasi yang tidak ada pernah habisnya. Selalulah kembali ke keluarga, niscaya kehidupan yang berarti akan menjadi milik kita.

Para sahabat dan relasi menjadi bagian penting dari kehidupan kita. Mereka adalah bagian dari teman-teman yang mendukung (kalyanamitta). Kita tidak bisa hanya mengandalkan diri sendiri dalam kehidupan ini, sehebat apa pun diri kita. Tanpa relasi dan jaringan, jangkauan kita ibaratnya hanyalah sejauh tangan terentang.

Para pertapa dan orang suci mengajarkan kita banyak hal baik. Mereka menjadi contoh dan teladan kita. Mereka menjadi motivasi dan pendorong kita untuk menempuh kehidupan benar dan memperbanyak perbuatan baik sepanjang kehidupan. Mereka menyediakan dirinya menjadi “ladang” yang subur bagi kita untuk menanam benih-benih kebajikan luar biasa.

Yang terakhir, walaupun ada di “bawah”, kontribusi mereka tidaklah kecil dalam kehidupan dan keberhasilan kita. Mereka adalah para karyawan, pelayan, buruh, pembantu, atau orang-orang lainnya yang berada di “bawah” kita. Ibarat rumah besar nan megah bukan dibuat hanya dari satu atau beberapa batu besar. Melainkan dari banyak rangkaian batu kecil. Kejatuhan kita juga umumnya bukan disebabkan oleh satu batu besar. Melainkan oleh batu-batu kecil yang sering terabaikan. Batu-batu kecil yang menyusun rumah besar mau pun yang menyebabkan kejatuhan, ibarat orang-orang kecil yang ada di “bawah” kita. Kemampuan memposisikan dan memperlakukan mereka akan menentukan keberhasilan dan pencapaian kita. Jangan pernah melupakan atau merendahkan orang-orang yang berada di “bawah” kita.

Penghormatan dan penghargaan kita ke semua orang tersebut tidak melulu berarti pemberian barang atau materi. Yang tak kalah penting adalah dalam bentuk lunak (soft things), seperti ucapan yang sopan dan ramah, senyum, pujian dan ucapan terima kasih yang tulus, perhatian, sapaan selamat pagi-siang-sore-malam, dan banyak lagi bentuk-bentuk non-kebendaan lainnya. Sederhana dan mudah sebenarnya untuk dilakukan, namun banyak orang mengabaikannya.

Seorang buddhis seyogyanya mempraktikkan penghormatan yang sudah diajarkan oleh Guru Agung Buddha terhadap berbagai jenis orang yang berinteraksi dengan kita sepanjang kehidupan ini. Dengan cara itu, kita akan menjadi orang “besar” yang tahu berterima kasih. Kita akan aman kemana pun kita pergi dan dimana pun kita berada. Berbagai kesuksesan dan keberhasilan yang mungkin dicapai dalam kehidupan ini akan menjadi lebih mudah kita raih karena mendapat dukungan tulus dari semua orang.

Manajemen modern baru ”mengadopsi” apa yang sudah diajarkan oleh Buddha hampir 26 abad yang lalu. Jangan ketinggalan untuk berpraktik memperlebar lingkaran penghormatan kepada mereka yang ”sejajar” maupun yang di ”bawah” kita, tidak melulu kepada mereka yang di ”atas” kita. Niscaya keberhasilan, kesuksesan, dan kebahagiaan akan lebih mudah kita raih dalam kehidupan ini maupun di kehidupan-kehidupan selanjutnya.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

red apple fruit on four pyle books
Untuk mengerti dengan tepat gambaran besarnya, setiap orang seharusnya takut menjadi tertutupi secara mental dan terobsesi dengan satu bagian kecil saja dari kebenaran. Xun Zi
woman, field, happiness, thank you, terima kasih
Suatu ketika ada seorang pemuda yang merasa hidupnya sangat sulit. Seperti lazimnya manusia, dia ingin mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupannya.

Tulisan Terkait