Sang Buddha mengajarkan penyebab dari dukkha (penderitaan) adalah taṇhā. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai ketagihan, tapi dalam tulisan ini kita sebut taṇhā saja.
Sang Buddha menjelaskan bahwa: Taṇhā yang menyebabkan tumimbal lahir, disertai dengan nafsu indria yang mengejar kesenangan ke sana-sini. Penjelasan selengkapnya ada di tulisan ini.
Singkatnya, pikiran selalu mengejar kesana-kemari tiada henti dan tidak bisa diperintahkan untuk berhenti. Ketika kita ingin tidak memikirkan sesuatu, tetap tidak bisa menghentikan pikiran untuk tidak memikirkannya, terus saja mengejar. Pengalaman teman secara langsung mungkin dapat memberikan inspirasi.
***
Beberapa tahun lalu, sahabat saya bercerita. Beberapa waktu sebelum kami bertemu ia bersama rombongannya pergi mengikuti wisata di daerah Bandung, berkunjung ke sebuah tempat yang memproduksi daging olahan, tujuannya melihat bagaimana daging diolah menjadi makanan olahan.
Singkatnya, setelah tau bagaimana prosesnya saya tidak berminat lagi makan daging olahan jenis itu, karena tau bagaimana diolahnya. Padahal sahabat saya biasanya masih menikmati makanan olahan itu, setelah melihat langsung dengan mata nya sendiri, ia paham bagaimana sebenarnya.
***
Jika saja teman saya dipaksa untuk makan, mungkin ia akan mual, karena jijik. Rasa mual memiliki sensasi unik, sensasi seperti ingin muntah, tapi tidak jadi.
Seringnya sensasi mual ini dikaitkan dengan penyakit atau makanan, tetapi kenyataannya tidak selalu. Naik kendaraan bisa mual, melihat sesuatu yang menjijikan bisa mual, cium sesuatu yang tidak menyenangkan mual. Kata orang ada orang melihat orang yang menyebalkan juga bisa mual.
***
Kembali ke taṇhā, yang menyebabkan tumimbal lahir, disertai dengan nafsu indria yang mengejar kesenangan ke sana-sini.
Seperti kisah makanan olahan tadi, semula menyukai, artinya suatu saat akan mengejar kalau perlu. Begitu mengetahui dan melihat langsung, tidak mau mengejar lagi, bahkan jika diberikan akan menolak, jika dipaksa makan bisa mual.
Itu sebabnya Sang Buddha menjelaskan dalam Sabbāsava Sutta:
Para Bhikkhu, Aku katakan bahwa hancurnya noda-noda adalah untuk seorang yang mengetahui dan melihat, bukan untuk seorang yang tidak mengetahui dan tidak melihat.
Untuk pemahaman lebih lengkap, silahkan baca sutta selengkapnya.
Berdasarkan Sutta ini, artinya untuk benar-benar menghentikan taṇhā, maka harus mengetahui dan melihat secara langsung apa sebenarnya yang dikejar-kejar itu. Ketika dapat mengetahui dan melihat secara langsung, barulah paham apa sebenarnya dan akan tidak mau lagi mengejar. Sedikit penjelasan mengenai melihat, dapat dibaca di link ini.
***
Dalam Anattalakkhana Sutta, Sang Buddha mengajarkan untuk melihat lima kelompok kehidupan (pañcakkhandha) sebagai yang tidak kekal (Anicca), tidak memuaskan (Dukkha), tidak bisa dianggap milikku, diriku, aku (Anatta).
Bagi mereka yang memahami, maka akan enggan (Nibbidā) terhadap lima kelompok kehidupan, dengan adanya keenganan, maka akan menghindari, meninggalkan, mual, mejauhi (Virāga). Dengan adanya Virāga, maka akan mengarah ke pembebasan (Vimutti).
Pada bagian akhir Sutta disebutkan:
Apabila dia telah bebas, timbullah Pengetahuan bahwa dia telah bebas. Dia memahami: Tumimbal lahir telah lenyap, Telah tercapai hidup suci, Tidak ada lagi yang harus dikerjakan, Tidak kembali lagi ke dunia ini.
Dengan tidak ada lagi kelahiran, artinya taṇhā sudah tidak ada lagi, karena: taṇhā yang menyebabkan tumimbal lahir, disertai dengan nafsu indria yang mengejar kesenangan ke sana-sini.

















