Seorang guru memberikan sebuah nasihat untuk dipraktikkan. Awalnya beliau menanyakan apa yang pertama-tama saya lakukan begitu bangun pagi. Saya menjawab, ”Pergi ke kamar mandi.” “Apa ada cermin di kamar mandimu?” tanya beliau melanjutkan. “Tentu saja,” jawab saya.
“Bagus,” katanya. “Nah, setiap pagi, sebelum kamu menggosok gigi, saya ingin kamu menatap cermin dan tersenyum kepada dirimu sendiri.”
Saya menjawab, “Saya terbiasa tidur agak larut malam, guru. Ketika bangun tidur di pagi hari, saya sering merasa tidak nyaman melihat wajah sendiri di cermin, boro-boro tersenyum.”
Guru terkekeh, menatap mata saya dan lalu berkata, ”Jika kamu tidak bisa tersenyum secara alami, kamu dapat memakai dua jarimu, taruh di kedua sudut mulut, dan tekanlah ke atas. Seperti ini,” guru menunjukkan caranya.
Wajah beliau terlihat menggelikan. Saya terkekeh-kekeh melihatnya. Beliau menyuruh saya untuk mencobanya, dan saya menurutinya.
Pada pagi berikutnya, saya turun dari tempat tidur, lalu melangkah ke kamar mandi. Saya menatap diri saya di cermin. Ooh, ini bukan pemandangan yang manis. Sebuah senyum alami tidak bisa muncul. Jadi saya meletakkan dua jari telunjuk di kedua sudut mulut dan menekannya ke atas. Lantas saya melihat diri saya di cermin. Saya tidak tahan melihat wajah saya di cermin. Akhirnya muncul sebuah senyuman alami. Saya melihat diri saya tersenyum kepada saya. Saya pun tersenyum lebih lebar lagi, dan orang yang ada di cermin pun membalas dengan senyum lebih lebar lagi. Dalam beberapa detik, kami mengakhirinya dengan tertawa bersama-sama.
Saya terus mempraktikkan nasihat itu setiap pagi selama dua tahun. Setiap pagi, tak peduli bagaimana perasaan saya saat bangun tidur, saya segera tertawa begitu melihat diri saya di cermin. Biasanya dengan bantuan dua jari. Sekarang orang-orang mengatakan bahwa saya adalah orang dengan banyak senyum. Barangkali itu karena otot-otot di sekitar mulut saya jadi menetap dalam posisi seperti itu.
Tertawa telah terbukti bisa melepaskan hormon endorphin ke dalam aliran darah kita. Hormon ini dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh kita dan membuat kita merasa bahagia.
Hal yang lebih menguntungkan lagi jika kita sering tersenyum dan tertawa adalah membuat kita lebih menarik. Namun tentu saja janganlah setelah sering latihan di cermin kita malah jadi sering tersenyum sendiri. Tertawa bisa membuat kita merasa lebih mudah memiliki hari yang baik ketika bangun tidur. Jadi singkatnya, kebahagiaan itu datang dari dalam diri kita sendiri.
Apresiasi atau pujian yang wajar dan pantas kepada diri sendiri dapat menghemat uang, meningkatkan kekebalan tubuh, dan menciptakan kebahagiaan. Kita perlu lebih sering memberi apresiasi dan pujian yang wajar dan pantas kepada diri sendiri dan kepada orang terdekat kita, serta kepada orang-orang lain di sekitar kita.
Sebenarnya tanpa kita sadari, orang yang paling sulit untuk kita puji adalah diri kita sendiri. Jika seseorang sejak kecil sering mendapat pujian maka dia akan menjadi orang yang percaya diri. Apalagi jika pujian itu dari diri kita sendiri maka kita akan menjadi besar hati. Memuji kualitas baik dari diri kita sendiri berarti membesarkan hati dengan cara yang positif.
******
Banyak yang salah mengerti mengenai kebahagiaan. Kebahagiaan itu jangan dicari karena kebahagiaan itu akan datang sendiri ketika kita mulai terlatih diawali dengan belajar tersenyum di cermin dan kemudian masuk ke tahap lanjutan di mana kita harus memikirkan dan mempedulikan orang lain.
Terkadang kita mencari kebahagiaan dengan mengejar keinginan kita, memastikan bahwa yang dicita-citakan tercapai dan selalu menolak apa yang tidak kita inginkan. Kenyataannya bukan kebahagian yang kita dapat namun penderitaan karena apa yang kita harapkan itu belum tentu terjadi dan selalu ada keinginan baru yang muncul.
Jika kita sudah terbiasa tersenyum dan mulai mempedulikan orang lain maka kebahagiaan akan datang dengan sendirinya. Kebahagiaan yang ada dalam diri kita dapat mendukung kita agar lebih mudah mengeluarkan diri kita yang terbaik, yakni mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita.
Kebahagiaan akan datang ketika kita belajar melepas apa yang kita inginkan dan mulai mempedulikan orang lain. Perlahan rasa welas asih kita akan timbul dan kemudian berkembang menjadi kebahagiaan.
“Kebahagiaan akan datang ketika kita belajar melepas apa yang kita inginkan dan mulai mempedulikan orang lain. Perlahan rasa welas asih kita akan timbul dan kemudian berkembang menjadi kebahagiaan.”
(Diambil dari Buku “MotivAction – Motivation for Action”)

















