Top 10 Penulis

Lima Hal Yang Membahagiakan

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

man raising right hand
Photo by Zan

Tiap hari adalah hari untuk bahagia. Ketika mata terbuka dari lelapnya tidur dan menyadari bahwa kita masih bernafas, kebahagiaan pertama sudah datang. Tak perlu susah, repot atau mati-matian mencari kebahagiaan. Dia sudah ada di sini bersama kita. Dan tugas kita  pun sederhana. Kita hanya perlu merasakannya. Sadari bahwa kita sudah punya semua hal di dunia ini yang bisa membuat bahagia.  Masih ada udara yang bisa dihirup tanpa bantuan tabung oksigen. Masih ada kedua kaki untuk berjalan dengan normal. Masih ada degup jantung yang berdetak dengan indah untuk bersama kita merangkai hari yang indah.

Dan masih banyak lagi hal-hal indah yang bisa kita rasakan dan nikmati tanpa kita perlu bersusah payah mencarinya. Caranya pun sederhana. Bersyukur dan berterimakasih. Itu saja. Sederhana tapi penuh makna. Bersyukur dan menerima membuat kita mampu untuk menjadi lebih bahagia lagi. Semakin bersyukur, semakin mampu kita untuk melihat dan menyadari hal-hal yang selama ini kita tidak anggap sebagai sumber kebahagiaan. Hati pun semakin terbuka dan kebahagiaan pun semakin besar.

Itu cara pertama untuk bahagia. Selain bersyukur dan berterima kasih, cara kedua untuk berbahagia adalah menerima semua hasil yang ada dengan hati dan tangan terbuka. Ini mirip dengan bersyukur dan berterimakasih tapi tetap ada bedanya. Hasil di sini adalah kondisi, keadaan yang terjadi tanpa kendali kita. Macet dan semrawutnya jalan, kendaraan umum dan kawananannya yang siap menghalangi jalan kita di mana saja, hujan yang turun tanpa permisi, dan masih banyak lagi keadaan, kejadian dan kondisi yang kita tidak inginkan selalu siap untuk mengacak-acak mood dan perasaan kita.

Ada banyal hal di luar kendali kita. Kita tidak mungkin bisa mengendalikan semua hal. Untuk hal-hal di luar yang kita tidak bisa kendalikan, jangan sampai mereka mengendalikan diri kita. Apa pun yang terjadi di luar, di dalam harus tetap damai dan tenang. Saat angin kencang menyebabkan ombak bergelombang, air di dasar laut tetap tenang. Kita harus menjadi seperti air di dasar laut.

Cara ketiga adalah melepas. Pada cara pertama kita menerima, cara ketiga kita melepas.  Ini kedengaran klise tapi sungguh-sungguh nyata. Kita bisa belajar dari kisah monyet, toples dan pisang. Seekor monyet melihat sepotong pisang di dalam sebuah toples. Ia menjulurkan tangannya ke dalam toples untuk mengambil pisang itu. Sayangnya, ia tak bisa mengeluarkan tangannya dari dalam toples. Kecuali ia melepaskan pisang itu, leher toples tak cukup besar untuk tangannya lewat.

Ia ngotot, mati-matian berusaha menarik tangannya. Semakin ditarik, semakin sakit dan semakin menderita. Tangannya hanya bisa keluar jika ia melepaskan pisang itu. Ini mirip dengan kehidupan orang banyak yang mati-matian berusaha mendapatkan sesuatu tapi tak mampu. Kondisi dan keadaan tak mendukung sehingga hasil pun tak kunjung tiba. Jika sudah begini, melepas adalah pilihan yang tepat agar batin tak perlu terus-menerus terluka dan menderita.

Cara keempat adalah melakukan yang terbaik di setiap pekerjaan kita. Terus-menerus melepas jelas bukan satu pilihan bijak. Jika terus melepas, lama-lama kita bisa terjebak dalam kubangan kemalasan dengan alasan melepas. Kebahagiaan juga kita mampu dapatkan saat kita mendapatkan apa yang kita inginkan.  Mendapatkan itu akibat, sebabnya adalah melakukan. Bukan sembarang melakukan, tapi melakukan yang terbaik yang kita bisa lakukan. Kepuasan itu juga kebahagiaan. Puas dengan hasil terbaik yang bisa kita dapat adalah buah dari usaha yang terbaik.

Cara kelima adalah berbagi dengan bijak. Artinya, berbagi sesuai dengan kemampuan dan keikhlasan. Jika tidak mampu, dan tidak ikhlas, ketidakrelaan pasti hadir saat memberi. Kemampuan memberi pun tak perlu harus ada standar, harus sekian rupiah atau sekian jam. Saat kita senang dan bahagia, berarti kita memberi sesuai kemampuan. Saat tidak lagi mengungkit atau memikirkannya lagi, atau menyesal, di situlah kita ikhlas.

Lima hal tersebut selama ini telah membuat hidup saya berkelimpahan kebahagiaan. Saya bersyukur dan berterimakasih atas semua hal yang saya miliki dan nikmati. Saat pikiran tidak puas muncul, saya langsung  berpaling ke apa yang saya telah miliki. Banyak hal buruk terjadi dalam perjalanan hidup kita. Semuanya tiba-tiba. Menerima membuat saya jadi mampu untuk berpikir dengan jernih sebelum memberikan respon yang positif.

Keadaan tak bisa saya ubah dan kendalikan, tapi apa yang terjadi di batin saya sepenuhnya adalah kendali saya. Melepas juga membuat hidup menjadi indah. Banyak hal yang tidak bisa kita dapatkan. Banyak juga yang harus hilang. Melepas membuat hidup menjadi lebih indah. Selain melepas, saya juga perlu untuk mendapat agar bisa bahagia. Saya senang, puas dan bahagia saat saya selesai mengajar di kelas atau berbicara di seminar dan pelatihan yang saya lakukan dengan baik.

Semua materi bisa diajarkan dengan tepat, hadirin mengerti dan menerima. Itu adalah hasil dari melakukan persiapan yang baik untuk mendapatkan hasil yang baik. Yang terakhir, adalah selalu ingat untuk berbagi. Kebahagiaan saya terasa lengkap saat saya bisa berbagi. Meskipun sedikit, yang penting sesuai kemampuan dan ikhlas.

Semoga semua mahluk berbahagia

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

brown statue
Perilaku sombong merugikan karena umat tidak suka pandita yang sombong, dan tidak menghormati mereka. Kesombongan membangun tembok yang memisahkan pandita dengan umat sedangkan kerendahan hati adalah jembatan yang menghubungkan pandita dengan umat.

Tulisan Terkait