Saya pernah ingin menghapus satu luka dari hidup. Bertahun-tahun kemudian, saya sadar: mungkin bukan lukanya yang harus hilang, melainkan saya.
Jika waktu bisa diputar kembali, saya tahu persis bagian mana yang ingin saya hapus.
Bukan kegagalan.
Bukan kehilangan uang.
Bukan hari-hari ketika hidup terasa berat.
Saya ingin menghapus satu kejadian yang bahkan tidak pernah saya pilih.
Satu pagi.
Satu kabar.
Satu luka.
Aneh, karena bertahun-tahun kemudian saya justru bertanya:
bagaimana jika luka itu tidak pernah datang?
Hari itu tidak istimewa.
Matahari tetap terbit. Tukang sayur tetap berteriak. Motor-motor berebut lampu merah. Seekor kucing tidur di atas kap mobil tetangga, seolah dunia tidak sedang menyiapkan sesuatu.
Lalu telepon itu datang.
Beberapa kalimat.
Tidak panjang.
Tidak dramatis.
Namun setelahnya, hidup saya seperti rumah yang kehilangan satu dinding.
Saya membaca pesan itu berkali-kali.
Berharap susunan katanya berubah.
Tidak.
Hari itu saya belajar: kabar buruk tidak perlu berteriak untuk menghancurkan seseorang.
Kadang ia datang tanpa suara.
Berbulan-bulan saya membawa satu pertanyaan.
“Mengapa harus saya?”
Saya membawanya ke kamar, ke jalan, ke tempat ibadah, bahkan ke dalam doa yang semakin pendek.
Orang-orang datang membawa jawaban.
“Semua ada hikmahnya.”
“Ini kehendak Tuhan.”
“Ini mungkin yang terbaik.”
Ada yang menyebut kamma.
Ada yang menyebut ujian.
Saya diam.
Bagi seseorang yang sedang tenggelam, penjelasan tentang air tidak membuatnya bernapas.
Saya tidak membutuhkan jawaban.
Saya hanya ingin hidup saya yang lama.
Sayangnya, kehidupan tidak menyediakan tombol kembali.
Pada masa itu saya sering duduk di bangku tua dekat pohon flamboyan.
Di sana ada lelaki tua yang setiap sore memberi makan burung.
Saya tidak pernah bertanya namanya.
Saya memanggilnya Pak Tua.
Ia juga tidak pernah bertanya apa yang saya tanggung.
Mungkin itu sebabnya saya menyukainya.
Suatu sore ia menunjuk seekor burung kecil di tanah.
“Kakinya patah.”
Burung itu mencoba melompat.
Gagal.
Mencoba lagi.
Gagal lagi.
“Kenapa tidak dibawa pulang?” tanya saya.
Pak Tua tersenyum.
“Kalau semua yang terluka disembunyikan, bagaimana ia tahu masih punya sayap?”
Saya diam.
Kalimat itu mengganggu saya.
Mungkin karena terlalu mirip dengan dukkha.
Sejak hari itu saya memperhatikan burung tersebut.
Kakinya belum sembuh.
Tetapi sayapnya mulai bekerja.
Sedikit.
Pendek.
Tidak indah.
Kadang jatuh.
Kadang menabrak semak.
Pak Tua tidak mengangkatnya.
Ia hanya memindahkan makanan sedikit lebih tinggi setiap hari.
“Kenapa dibuat sulit?”
“Karena kalau terlalu mudah,” katanya, “ia tidak akan tahu sayapnya berguna.”
Saya tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Mungkin karena jawabannya lucu.
Atau mungkin karena saya mulai melihat: penderitaan tidak selalu meminta jawaban.
Kadang ia meminta kita hadir sepenuhnya.
Musim berganti.
Burung itu terbang.
Tidak tinggi.
Tidak jauh.
Cukup untuk meninggalkan tanah.
Hari itu Pak Tua tidak datang.
Besoknya juga tidak.
Hari berikutnya pun tidak.
Saya baru tahu ia meninggal malam sebelumnya.
Tidak ada pesan terakhir.
Tidak ada kesempatan mengucapkan terima kasih.
Hanya bangku kosong.
Dan seekor burung yang akhirnya tidak membutuhkan siapa pun untuk terbang.
Saya duduk lama di sana.
Untuk pertama kalinya saya tidak bertanya mengapa luka harus terjadi.
Saya memperhatikannya.
Datang.
Tinggal.
Lalu perlahan berubah.
Seperti segala sesuatu.
Bertahun-tahun kemudian, saya kembali.
Bangkunya masih ada.
Pohonnya jauh lebih besar.
Burung-burung tetap datang.
Saya duduk di tempat yang sama dan teringat peristiwa yang dulu paling ingin saya hapus.
Keinginan itu masih ada.
Hanya saja, sekarang saya tahu:
jika luka itu hilang, mungkin saya juga kehilangan orang yang lahir sesudahnya.
Kesabaran.
Kerendahan hati.
Kemampuan memahami seseorang yang sedang hancur tanpa buru-buru berkata, “Semua ada hikmahnya.”
Dan keberanian melihat anicca: bahwa segala yang muncul akan berubah, lalu berlalu.
Saya tidak pernah menganggap semua penderitaan itu baik.
Tidak.
Ada luka yang tetap tidak adil.
Ada kehilangan yang tetap menyakitkan.
Ada kejadian yang, jika diberi pilihan, masih akan saya tolak.
Sampai hari ini.
Saya tidak bersyukur atas luka itu.
Saya bersyukur karena mampu melewatinya.
Keduanya bukan hal yang sama.
Kini saya tidak lagi bertanya:
“Mengapa ini terjadi kepada saya?”
Saya bertanya:
“Setelah semua ini terjadi, saya akan menjadi siapa?”
Mungkin pertanyaan itu lebih dekat kepada kebebasan.
Kita tidak selalu bisa memilih apa yang datang.
Tetapi kita masih bisa memilih apakah batin akan menggenggamnya.
Saya pernah mengira luka itu datang terlalu cepat.
Ternyata tidak.
Ia datang tepat waktu.
Bukan karena saya membutuhkannya.
Bukan karena saya pantas menerimanya.
Melainkan karena setelah luka itu datang, saya dipaksa berkenalan dengan seseorang yang sebelumnya tidak pernah saya kenal:
diri saya sendiri.
Seekor burung melintas di atas pohon flamboyan.
Saya mengikutinya dengan mata.
Dulu saya ingin menghapus satu pagi dari hidup saya.
Kini saya belajar melepaskannya.
Bukan karena luka itu baik.
Melainkan karena menggenggam apa yang telah berlalu tidak mengubah apa pun.
Burung itu terbang semakin jauh.
Saya tidak bertanya ke mana ia pergi.
Saya hanya mengembuskan napas.
Menyadari.
Melepas.
Dan untuk pertama kalinya, saya tidak membutuhkan kehidupan yang berbeda.
Saya hanya perlu berhenti menggenggam kehidupan yang sudah berlalu.

















