Tanggal 26 Mei 2021 Perdana Menteri India menyampaikan ucapan Selamat Hari Waisak, mengawalinya dengan ungkapan Namo Buddhāya diikuti oleh kata Namaste. Demikian pula di Indonesia Namo Buddhāya disampaikan sebagai salam pembuka mengawali pidato atau sambutan bersama-sama dengan salam agama lain yaitu:
- Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu
- Salam Sejahtera
- Shalom
- Om Swastiastu
- Namo Buddhāya
- Salam Kebajikan
Kata Namo Buddhāya terdiri dari kata Namo yang berasal dari kata ‘nam’ (berarti membungkuk/to bow) bermakna hormat/menghormat dan Buddhāya yaitu kata Buddha dengan deklinasi ‘ya’ yang bermakna untuk atau kepada (dative case). Jadi Namo Buddhāya bermakna “Hormat kepada Buddha” (Homage to the Buddha). Ditinjau dari sudut kemaknaan kata terjemahan ini agaknya lebih tepat dibandingkan dengan terjemahan Terpujilah Buddha (seorang Buddha tentu tidak butuh pujian atau dipuji!).
Ungkapan Namo Buddhāya telah lama dikenal oleh umat Buddha. Terdapat tulisan bahwa pada masa Sang Buddha masih hidup, telah menjadi praktik yang dilakukan oleh para Siswa beliau untuk merangkapkan kedua tangan dengan sikap menghormat (Anjali) dan menyapa satu sama lain dengan mengucapkan “Namo Buddhāya”. Ungkapan Namo Buddhāya juga menjadi ‘mantra’ saat berada dalam keadaan takut atau bahaya.
Ada kisah anak yang ditinggalkan di kereta di dekat kuburan karena ayahnya mencari sapi yang hilang. Ketika malam tiba ada dua raksasa pemakan manusia datang untuk menyakiti anak itu. Anak itu selalu merenungkan sifat luhur Sang Buddha dan ketika salah satu raksasa menarik kaki anak itu, ia memekik, “Namo Buddhāya”. Mendengar itu kedua raksasa ketakutan sehingga akhirnya mereka justru menjaga dan mencarikan makanan untuk anak itu. Ada juga umat yang membacakan Namo Buddhāya pada saat melewati daerah yang dianggap angker dan menakutkan.
Dalam teks Yogāvacara (yang ditemukan berabad-abad lalu), Namo Buddhāya merupakan salah satu mantra suci selain Araham. Berikut adalah contoh interpretasi ‘esoterik’ dari lambang huruf dan angka Namo Buddhāya:
- NA, melambangkan dua belas kebajikan ibu,
- MO, dua puluh satu kebajikan ayah,
- BU, enam kebajikan raja,
- DDHA, tujuh kebajikan keluarga,
- YA, sepuluh kebajikan guru.
Pengulangan pembacaan ungkapan-ungkapan suci ini merupakan latihan praktik meditasi dalam Theravāda Tantra. Dimungkinkan pula terdapat adanya interpretasi esoterik lainnya berkaitan dengan Namo Buddhāya. Mengingat hal ini tidak terdapat dalam Tipiñaka Pali, untuk tidak membuat kebingungan ajaran demikian seyogyanya tidak disebarluaskan di kalangan umat Buddha. Lagipula umumnya ajaran esoterik disampaikan secara lisan dari guru kepada murid, tidak disebarkan begitu saja yang dapat menimbulkan kesalahpahaman.
Namo Buddhāya dapat dikatakan pula sebagai bentuk ringkas dari Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa. Namo berarti hormat/penghormatan, Tassa berarti kepada (‘to the’), Bhagavato berarti Yang Termulia (The Glorious One), Arahato berarti Yang mencapai Kesucian Sempurna, Sammāsambuddhassa berarti Yang mencapai Penerangan Sempurna dengan usahanya sendiri.
Ada satu waktu di Indonesia Namo Buddhāya dipergunakan sebagai salam Buddhis bagi umat Buddha saat bertemu. Ada dalam salah satu tulisan di internet dinyatakan bahwa Namo Buddhāya merupakan ‘welcoming greeting’. Salam Buddhis berbeda-beda di berbagai negara, di Srilanka digunakan Ayubowan (semoga panjang umur), di Myanmar adalah Mingalaba (berasal dari kata mangala yang berarti berkah atau keberuntungan), di Thailand Sawatdi (atau sawasdee yang berasal dari kata suvatthi/sothi – sejahtera).
Di Indonesia dengan mengingat makna Namo Buddhāya yang sedemikian luhur, dirasakan kurang tepat dipergunakan sebagai salam untuk bertemu sekiranya tidak dilakukan secara khidmat dan penuh bakti kepada Sang Buddha. Selain itu terasa sedikit tidak pas mengucapkan Hormat kepada Buddha kepada seseorang baik bhikkhu atau umat awam, karena seolah-olah menganggap yang diberi hormat itu adalah Sang Buddha. Akan pas apabila mengucapkan Namo Buddhāya di hadapan Buddharupang. Oleh karena itu dipakai kata sukhī hotu sebagai salam Buddhis, yang berarti semoga anda bahagia. Ada juga yang memakai sotthi hotu yang berarti semoga anda sejahtera (sotthi sama dengan suvatthi dari kata su – bagus dan atthi – keadaan). Secara kemaknaan ungkapan ini ‘menyamai’ salam svastiastu dari saudara-saudara umat Hindu, hanya berbeda dari aspek bahasa.
Namo Buddhāya tetap dipergunakan sebagai ‘welcoming greeting’ pada saat memulai khotbah Dhamma, sambutan atau pidato, ataupun surat formal. Apabila bertemu dengan sesama umat Buddha dapat bersikap anjali dan mengucapkan sukhī hotu, sotthi hotu atau namaste. Namaste berasal dari kata ‘namaha’ yang berarti membungkuk bermakna menghormat dan ‘te’ yang berarti anda (orang kedua). Namaste adalah salam yang umum digunakan di India baik oleh umat Buddha maupun umat Hindu. Jadi kalau bertemu dengan seorang bhikkhu dapat memberi salam hormat dengan bersikap anjali dan menundukkan kepala serta mengucapkan Namaste Bhante (tidak perlu tambahan menjadi Yang Mulia Bhante karena kata Bhante sendiri sudah berarti Yang Terhormat/Mulia/Venerable Sir, apalagi Yang Termulia yang sejatinya merupakan gelar untuk Sang Buddha/Bhagava)……

















