Top 10 Penulis

Masa Kecil yang Tak Mungkin Terulang Lagi

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

girl surrounded by plants
Photo by Nurpalah Dee

     “Ayo temani aku ke acara hari Minggu ini di hotel Medan, Kak. Acara perayaan hari ayah, oke?”

     Sebenarnya agak malas keluar pada hari Minggu pagi-pagi pula. Lebih asyik tidur berpelukan dengan guling kesayanganku, tapi kasihan juga adikku ini ke sana sendirian, apalagi dia sudah merengek-rengek minta dikawani.

     “Baiklah, Dik,” jawabku dan balasannya sebuah senyuman manis yang kudapat.

     Berangkatlah kami berboncengan naik sepeda motor hadiah ulang tahunku yang ke-20, tiga puluh tahun yang lalu, yang dibelikan oleh ayah yang merupakan figur pujaanku. Tak ada pria lain yang bisa menandingi beliau, baik pada saat beliau masih hidup maupun sekarang setelah beliau telah tiada.

     Acara dimulai dengan penampilan dari pembicara tamu tentang pentingnya kehadiran seorang ayah bagi anak-anaknya. 

     Melihat betapa bahagianya anak-anak yang mendapat curahan kasih sayang dari orang tuanya, terutama ayahnya, mengingatkanku pada ayahku tercinta yang telah tiada dua belas tahun yang lalu.

     Sosok ayah yang tinggi, tegap, dan berwibawa muncul di benakku. Terus terang, sebagai anak sulung, aku merupakan anak emas bagi beliau. Memang seharusnya orang tua tidak boleh membedakan perlakuannya terhadap anak-anaknya, tetapi dalam praktiknya hal ini kadang terjadi, ibarat jari-jari tangan kita yang tak sama panjangnya.

     Beliau merantau dari tempat kelahirannya  ke Medan dan bertemu dengan ibu yang merupakan anak majikannya. Dulu kakekku mmembuka toko kelontong/kedai sampah dan ayahku bekerja di toko tersebut.

     Sebagai cucu pertama dari keluarga besar kakek dan nenekku maka aku mendapat kehormatan untuk selalu digendong oleh paman dan bibiku sampai-sampai ibuku kesal karena setiap kali baru saja diletakkan di tempat tidur, sebentar lagi hilang tak berbekas karena digendong lalu dibawa jalan-jalan keliling daerah tempat tinggal kami.

     Waktu kami berlima masih kecil, ayah sering membawa kami ke toko es krim di dekat rumah kami. Ayah sebagai kepala suku di depan, sedangkan kami berjalan di belakangnya satu per satu dalam barisan yang rapi. Si sulung tentu saja di belakang ayah baru diikuti oleh anak kedua, ketiga, dan seterusnya. 

     Ayahku tipe lelaki setia. Saking setianya, kami dibawa ke toko es krim yg itu-itu saja. Takkan pindah hati ke tempat yang lain walau apapun yang terjadi, kecuali tokonya sudah tutup seperti rumah makan Bahagia di dekat rumah kami yang tutup setelah buka beberapa tahun. 

     Beliau juga termasuk orang yang penuh persiapan. Terlalu memikirkan masa depan, seperti dalam hal membeli barang. 

     Sesekali kami diajak ke toko kaset dan dibelikan kaset lagu anak-anak yang terkenal pada zaman dulu seperti kaset Chicha Koeswoyo dan Adi Bing Slamet. Dan Anda tentu akan heran ketika menyaksikan bahwa beliau akan membelikan dua kaset yang sama untuk kami, anak-anaknya tersayang. Pernah kutanya beliau mengapa begitu? Jawabannya sangat sederhana, “Kalau rusak kalian masih punya cadangannya, kan?” 

     Pada kenyataannya bukan  seperti skenario yang telah dirancang beliau, tapi kedua kaset tersebut rusak hampir bersamaan. Yang satu rusak karena diputar terus, sedangkan yang satu lagi rusak karena tidak pernah diputar, hahaha. 

     Ibu jarang ikut karena beliau memang tidak suka keluar dan lebih memilih tinggal di rumah sambil mengerjakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga yang baik. Sehari bisa mengepel lantai hingga beberapa kali.

     Perhatian ayah yang sangat besar membuatku terharu. Hingga kami remaja dan bahkan sudah tamat kuliah, beliau tetap menantikan kepulangan kami dari tempat bekerja ataupun berkumpul dengan teman-teman di depan pintu rumah dengan hanya memakai kaus singlet dan celana pendek. Wajahnya yg berwibawa membuat teman-temanku keder kalau mengantarku pulang apalagi kalau sudah malam.

     Ayah mengajarkan kami untuk mandiri dengan membekali diri kami dengan ilmu pengetahuan, makanya beliau rela bekerja keras mencari uang untuk menyekolahkan kami ke sekolah terbaik di kota kami, menimba ilmu sesuai keinginan dan kemampuan yang kami miliki. Menurut beliau itulah harta warisan yang bisa diberikannya kepada kami, anak-anaknya tersayang.

     Ayah telah tiada. Ibu masih bersama kami dalam satu rumah yang penuh dengan kehangatan cinta. Semoga kami diberi kesempatan untuk berbakti kepada ibu kami selama beberapa tahun mendatang.

     Terima kasih ayah dan ibu tercinta. Berkat bimbingan kalian, kami berhasil menjadi orang-orang yang berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Jasamu yang tiada tara akan kukenang selamanya.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

girl surrounded by plants
Melihat betapa bahagianya anak-anak yang mendapat curahan kasih sayang dari orang tuanya, terutama ayahnya, mengingatkanku pada ayahku tercinta yang telah tiada dua belas tahun yang lalu.
person picking white and red book on bookshelf
Bagi seorang penyintas kanker, setiap hari adalah berkat jika masih bisa beraktivitas, jadi harus dimanfaatkan waktu yang sangat berharga ini untuk mencapai tujuan hidupku.

Tulisan Terkait