“No one can lie, no one can hide anything, when he looks directly into someone’s eyes.”
“Tidak ada seorang pun yang bisa berbohong, tidak ada seorang pun yang bisa menyembunyikan apapun, ketika dia melihat secara langsung ke mata seseorang.”
~ Paulo Coelho ~
Ada banyak cara jika kita ingin mengetahui isi hati dan pikiran seseorang. Tentu saja cara termudah adalah dengan memintanya mengungkapkan langsung isi hati dan pikirannya. Namun kita harus berhati-hati karena belum tentu apa yang dikatakan oleh seseorang merupakan isi hati dan pikiran dia yang sesungguhnya. Oleh karena itu perlu diketahui cara-cara lain yang dapat dilakukan untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terkandung dalam hati dan pikiran seseorang sehingga kita bisa mengantisipasi atau merespon secara tepat.
Salah satu cara tercepat dan terbaik adalah dengan memandang langsung ke mata orang yang sedang berinteraksi dengan kita. Mata adalah jendela hati dan pikiran seseorang. Mata mencerminkan apa yang ada di dalam diri seseorang. Tentu saja kita perlu mengembangkan sensitivitas yang memadai sehingga mampu menangkap makna yang tersirat dari mata seseorang.
Kisah berikut menggambarkan dengan sangat baik bagaimana mata menjadi “jendela“ hati dan pikiran seseorang.
**********
Suatu ketika di Virginia Utara, Amerika Serikat, seorang laki-laki tua berdiri di tanggul sungai. Dia terlihat bingung untuk menyeberangi sungai di depannya yang airnya cukup tinggi dan deras. Waktu itu hawa dingin menusuk tulang dan tidak ada jembatan. Dia harus dibantu agar bisa menyeberangi sungat tersebut.
Setelah cukup lama menunggu, dia melihat sekelompok penunggang kuda mendekat ke arahnya. Dia menatap dengan serius kelompok penunggang kuda tersebut. Namun dia membiarkan penunggang kuda pertama lewat. Demikian juga dengan penunggang kuda yang kedua, ketiga, keempat, dan kelima, semua dibiarkannya berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Kelima penunggang kuda yang melewatinya itu pun tidak menggubris keberadaan si lelaki tua. Akhirnya tersisa hanya satu penunggang kuda. Sementara si penunggang kuda terakhir perlahan semakin mendekat, laki-laki tua terus menatapnya dan lalu berkata, “Pak, bisakah Anda memberi saya tumpangan sampai ke seberang sungai?” Penunggang kuda terakhir ini, tanpa keraguan sedikit pun menjawab, “Tentu saja Pak tua. Silakan naik.”
Begitu sampai di seberang sungai, laki-laki tua turun dari kuda. Sebelum meninggalkannya, penunggang kuda yang membawanya bertanya dengan keingintahuan tinggi, “Pak, saya memperhatikan bahwa Anda sebelumnya telah membiarkan semua penunggang kuda lainnya lewat tanpa berkata apa-apa. Namun sewaktu giliran saya akan lewat, Anda tanpa ragu meminta tumpangan. Apakah sebabnya Anda tidak meminta pertolongan kepada mereka melainkan hanya kepada saya?”
Laki-laki tua itu terdiam sejenak. Lalu dengan suara pelan dia menjawab, “Saya melihat langsung ke mata mereka namun saya tahu bahwa tidak ada gunanya jika saya meminta pertolongan kepada mereka. Tetapi, ketika pandangan saya bertemu dengan mata Anda, saya melihat kepercayaan, kasih sayang, belas kasihan, dan kesediaan untuk menolong. Saya tahu bahwa saya akan mendapatkan pertolongan dari Anda.”
Mendengar perkataan laki-laki tua itu, penunggang kuda terakhir tersebut dengan rendah hati berkata, “Ketahuilah, saya sangat berterima kasih dan menghargai apa yang telah Anda katakan.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, penunggang kuda terakhir itu melanjutkan perjalanannya menuju Gedung Putih.
Laki-laki penunggang kuda terakhir tersebut, yang telah tanpa ragu menolong orang yang meminta bantuannya, adalah Thomas Jefferson. Dia tercatat sebagai salah satu presiden yang paling terkenal di era awal negara Amerika Serikat.
**********
Mata adalah jendela hati dan pikiran kita. Mata mencerminkan apa yang ada di dalam diri kita. Percayalah bahwa walaupun laki-laki tua tersebut tidak meminta pertolongan kepada penunggang kuda terakhir, dia akan menerima tawaran bantuan terlebih dahulu dari penunggang kuda tersebut. Diminta atau pun tidak, karena sifat-sifat yang baik memang ada di dalam diri Thomas Jefferson, laki-laki tua tersebut pasti akan mendapatkan tumpangan darinya.
Pertanyaannya, seandainya kita adalah salah satu dari para penunggang kuda, apakah laki-laki tua itu akan meminta pertolongan setelah melihat langsung ke mata kita?
Kembangkanlah kebiasaan, kepribadian, sifat, dan karakter yang baik dalam diri kita. Niscaya kebaikan yang ada di dalam diri tersebut akan terpancar keluar, salah satunya melalui mata.
Seumpama kaca cermin, mata kita mencerminkan hal-hal yang ada di dalam diri kita. Mungkin kita bisa membohongi orang lain dengan memanipulasi ucapan dan perbuatan kita. Tetapi mata kita tidak akan bisa berbohong. Jika orang lain memiliki sensitivitas yang memadai, dengan melihat langsung ke mata kita, dia akan mengetahui apa yang sesungguhnya ada dalam hati dan pikiran kita. Tidak cara untuk mengubah mata kita supaya terlihat baik selain mengubah diri kita menjadi orang yang baik.
Orang yang telah mampu mengeluarkan dirinya yang terbaik juga akan terlihat dari matanya. Kepercayaan diri dan hal-hal baik dari dalam dirinya akan terpancar keluar melalui pandang matanya.
“Jika ada keraguan atas ucapan atau perbuatan yang ditunjukkan oleh orang lain, lihatlah langsung ke matanya. Tidak ada kebohongan yang bisa disembunyikan oleh mata seseorang.”
(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

















