Saya pernah membaca kutipan yang lebih kurang mengatakan bahwa bila ada orang miskin, yang tidak memiliki harta sehingga tidak memberi kepada orang lain (berdana), ketika dia melihat orang lain memberi kepada orang lainnya lagi, kemudian orang miskin tersebut turut bergembira bahkan berbahagia atas kebaikan yang sudah dilakukan oleh orang lain tersebut maka dia sudah berbuat baik pula, kembar dengan si pembuat kebaikan tersebut. Hal ini dikenal dalam hukum sebab dan akibat (law of cause and effect).
Melihat lalu turut bergembira (bahkan kalau bisa turut berbahagia) melihat orang lain berbuat baik, sangatlah sulit. Butuh kebesaran hati dan kelapangan dada, serta banyak latihan untuk mampu melakukannya. Secara umum, orang lebih mudah merasa senang melihat orang lain susah (apalagi dengan orang yang tidak disukai) dibanding melihat orang lain senang. Hal ini dikarenakan dominannya perasaan iri, benci, serakah, tak mau kalah, dan lain-lain dalam diri Sebagian orang.
Kita yang melihat perbuatan baik orang lain dan lalu turut bergembira, dapat mempertegasnya dengan cara penuh kesadaran dan ketulusan mengucapkan, “Saya turut bergembira (berbahagia) melihat dan mengetahui orang tersebut melakukan perbuatan baik. Semoga dia berbahagia.” Dengan melakukannya, kita juga telah turut berbuat baik, kembar dengan orang yang melakukan perbuatan baik secara langsung tersebut.
Dengan sering mengembangkan perasaan welas asih, sewaktu kita melihat orang lain susah kita akan berempati untuk membantu. Jikapun situasi dan kondisi tidak memungkinkan kita untuk membantu secara langsung, setidaknya kita dapat mendoakan orang yang susah tersebut supaya bisa segera terbebas dari kesusahannya.
Kalimat “Janganlah senang melihat orang lain susah” terdengar gampang namun sangat tidak mudah untuk dipraktikkan. Jika kita sering senang melihat orang lain susah, ternyata yang rugi adalah diri kita sendiri. Lho, kok bisa? Sewaktu kita merasa senang melihat orang lain susah, kita sebenarnya menyimpan energi negatif dalam diri kita yang dapat membahayakan diri kita sendiri. Energi negatif tersebut dapat meracuni diri kita secara tidak langsung.
Orang yang senang melihat orang lain susah bisa bersumber dari perasaan iri hati yang kuat. Iri yang dikarenakan ketidakmampuan melakukan yang orang lain tersebut bisa lakukan. Jika ini terjadi, orang tersebut mengalami kerugian dua kali. Pertama, dalam diri orang tersebut akan tertimbun kebencian yang akan memberatkan hati dan pikirannya. Kedua, orang yang diirikan itu, belum tentu dia susah, malah mungkin dia baik-baik saja. Namun karena diirikan dan dianggap dia susah maka yang akan lebih menderita adalah diri orang itu sendiri.
Jangan biarkan diri kita terbelenggu oleh rasa iri hati yang kuat dan berkepanjangan karena perasaan iri itu menjauhkan kita dari kebahagiaan. Orang yang perasaan iri hatinya tinggi akan sulit meraih kebahagiaan. Akan lebih mudah meraih kebahagiaan jika kita mengembangkan perasaan senang sewaktu melihat orang lain senang.
Lain ceritanya jika kita termotivasi dan menjadi bersemangat sewaktu melihat pencapaian orang yang tidak kita sukai, yang lebih baik dibandingkan dengan diri kita. Hal ini dapat kita jadikan sebagai pemicu untuk meningkatkan prestasi dan pencapaian kita. Ini adalah baik dan tidak sama dengan iri hati sebelumnya.
Sebaiknya kita hidup dengan berfokus kepada kebahagiaan diri sendiri dan orang-orang yang kita kasihi. Jika kita belum dapat mengembangkan perasaan senang sewaktu melihat orang lain senang dan susah sewaktu melihat orang lain susah, paling tidak janganlah kita merasa senang sewaktu melihat orang lain susah dan susah sewaktu melihat orang lain senang.
Dengan berfokus kepada kebahagiaan diri kita sendiri, akan lebih mudah bagi kita untuk mengeluarkan diri kita yang terbaik, yakni mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita. Niscaya kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih luas dalam kehidupan akan menjadi milik kita.
“Hiduplah dengan berfokus kepada kebahagiaan diri sendiri dan orang-orang yang kita kasihi. Tidak ada untung dan gunanya merasa senang melihat orang lain susah atau merasa susah melihat orang lain senang.”
(Diambil dari Buku “MotivAction – Motivation for Action”)

















