Top 10 Penulis

Memahami Mekanisme Basis-Basis Pengindraan

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

woman in red and gold floral dress painting

Pandangan Keliru Bhikkhu Sāti terkait Viññāṇa

Cara pandang yang sesuai diperlukan dalam memahami makna Dhamma, yang terkadang disampaikan secara tidak langsung. Dikatakan sebagai fitnah kepada Sang Tathāgata, jika kita memegang uraian dengan makna tidak langsung sebagai makna langsung (A i 60).

Bersebab salah memaknai uraian Jātaka (MA ii 305), seorang bhikkhu bernama Sāti Kevaṭṭaputta melekati pandangan keliru terkait viññāṇa. Dirinya secara mantap, menganggap bahwa viññāṇa adalah keberadaan yang berpindah atau mengembara dari satu kelahiran menuju kelahiran lainnya (M i 256). Para bhikkhu mencoba menasihatinya dengan berbagai cara, tetapi tidak berhasil. Sehingga, mereka membawa permasalahan ini kepada Sang Guru.

Kesalahpahaman terkait viññāṇa ini bisa muncul pada siapa pun, karena tidak memahami prinsip kemunculan bersebab yang menjadi satu doktrin khas dalam praktik Buddhis. Dalam arti, setiap kemunculan seyogianya dipahami sebagai bersebab, termasuk juga kemunculan viññāṇa yang secara umum tidak lepas dari keberadaan basis-basis pengindraan. Dengan demikian, memahami mekanisme basis-basis pengindraan adalah salah satu cara menangkal pandangan salah tersebut.

Mekanisme Basis-Basis Pengindraan

Sebagai dasar, terdapat dua belas basis pengindraan (dvādasāyatana) yang perlu diketahui (Vbh 69ff), yakni terkait dengan enam basis pengindraan bagian dalam (ajjhattika-āyatana)dan enam basis pengindraan bagian luar (bāhira-āyatana) (M iii 280–281). Yang disebut sebagai ajjhattika-āyatana adalah basis pengindraan penglihat, pendengar, pembau, perasa, penyentuh, serta pengamat. Sementara itu, bāhira-āyatana mencakup bentuk, bunyi, bau, rasa, pesentuh, serta perihal-perihal batiniah.

Bersebab pada keberadaan basis pengindraan bagian dalam dan basis pengindraan bagian luar, muncul viññāṇa, yakni sebuah fungsi batiniah yang mengetahui secara spesifik. Secara awam, viññāṇa sering dijuluki sebagai “kesadaran”. Sesungguhnya ini tidak masalah, selama dipahami cara kerjanya dengan benar. Sebagai contoh, bersebab adanya saraf mata sebagai wujud pengindraan penglihat; serta adanya rupa atau bentuk yang bisa dilihat, pada jarak yang sesuai, serta didukung pencahayaan yang cukup; muncul cakkhuviññāṇa, yaitu pengetahu terkait penglihatan.

Sehingga, dari sini bisa disimpulkan bahwa viññāṇa adalah sesuatu yang tidak berdiri sendiri, diumpamakan seperti api yang membutuhkan kayu atau benda lainnya sebagai basis kemunculannya (M i 259). Rangkaian tiga hal ini–basis pengindraan bagian dalam, luar, dan viññāṇa yang muncul–disebut sebagai phassa yang bisa diterjemahkan sebagai “perbenturan”.

Perbenturan adalah yang menjadi penyebab munculnya pengenyaman (vedanā), apakah dikenyam sebagai menyenangkan, tidak menyenangkan, atau bukan keduanya. Bersebab salah mengenal perbenturan ini, maka muncul kegandrungan (taṇhā). Inilah uraian singkat terkait mekanisme basis-basis pengindraan yang jika salah dipahami, menjadi tempat berkembangnya pengertian keliru (M i 112), yakni anggapan “milikku, aku, diriku”.

Metode Berlatih Sehari-Hari

Terkait dengan praktik, dalam fenomena penglihatan semestinya sebatas dipahami sebagai fenomena penglihatan (S iv 73). Dalam arti, mengerti cakkhuviññāṇa sebatas muncul bersebab basis pengindraan penglihatan dan bentuk yang dilihat, serta dipahami sebagai tidak kekal, karena adanya proses kemunculan viññāṇa lain yang dijuluki sampaṭicchana, santīraṇa, voṭṭhabbana sebagai lanjutannya (SA ii 383).

Sebagai tahapan pelatihan mumpuni, seseorang yang berlatih dengan upaya penuh, teriring kebijaksanaan, mengedepankan pengingatan untuk tidak memberi tempat munculnya anggapan bahwa “aku sedang melihat” atau “benda itu sedang dilihat olehku” (cf. M i 4ff). Demikian juga dapat diaplikasikan pada fenomena pengindraan yang lainnya.

Daftar Rujukan:

Rujukan Utama:

Chalmers, R. (Ed.). (1977). The Majjhima-Nikāya (Vol. III). London: The Pali Text Society.
Davids, R. (Ed.). (1978). The Vibhaŋga: the Second Book of the Abhidhamma Piṭaka. London: The Pali Text Society.
Feer, M. L. (Ed.). (1990). Saṃyutta-Nikāya: Saḷāyatana-Vagga (Vol. IV). Oxford: Pali Text Society.
Trenckner, V. (Ed.). (1979). Majjhima-Nikāya (Vol. I). London: The Pali Text Society.
Warder, A., & Morris, R. (Eds.). (1961). The Aṅguttara-Nikāya: Ekanipāta, Dukanipāta, and Tikanipāta (2nd Edition ed., Vol. I). London: Luzac & Company, Ltd.

Rujukan Pengulas:

Buddhaghosa. (1977). Sārattha-ppakāsinī: Buddhaghosa’s Commentary on the Saŋyutta-Nikāya: on Nidāna-Vagga, Khandha-Vagga, Saḷāyatana-Vagga (First Part) (Vol. II). (F. Woodward, Ed.) London: The Pali Text Society.
Buddhaghosa. (1979). Papañcasūdanī Majjhimanikāyaṭṭhakathā of Buddhaghosācariya: Suttas 11–50 (Vol. II). (J. Woods, & D. Kosambi, Eds.) London: The Pali Text Society.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

pile of scarecrow
Apakah itu tenggeran? Bagaimana caranya mewaspadai tenggeran? Apakah yang dimaksud dengan keluar dari rajutan penderitaan? Apakah hubungannya mewaspadai tenggeran dengan keluar dari rajutan penderitaan?
brown and green round area rug
Apakah yang dimaksud dengan keramat? Bagaimana cara menuju keramat?

Tulisan Terkait