Dalam agama Buddha, konsep Samyojana atau ‘belenggu’ merupakan salah satu elemen fundamental yang menjelaskan akar penderitaan manusia. Samyojana mengacu pada sepuluh belenggu atau ikatan batin yang mengikat kita pada dunia materi dan ilusi, mencegah kita mencapai pencerahan.
Menurut Ajaran Buddha, sepuluh belenggu tersebut adalah:
1. Keyakinan terhadap diri (sakkāyadiṭṭhi)Keragu-raguan (vicikicchā)
2. Pelekatan terhadap tradisi dan kebiasaan (sīlabbataparāmāsa)
3. Keinginan akan kesenangan indrawi (kāmarāga)
4. Kebencian (paṭigha)
5. Keinginan akan bentuk-bentuk halus (rūparāga)
6. Keinginan akan bentuk-bentuk tak berwujud (arūparāga)
7. Keangkuhan (māna)
8. Kegelisahan (uddhacca)
9. Kebodohan (avijjā)
Dalam Sutta Pitaka, konsep Samyojana dijelaskan dalam Sutta Nipāta, tepatnya dalam Sutta ke-3 yang berjudul “Mahāvagga”, bait ke-1032-1040:
Sakkāyadiṭṭhiñca vicikicchañca, Attavādūpādānañca ye ca annath’attani, Saṃyojanāni imāni brūmi, Etena maccudhammena puthu loko vajati.
Terjemahan:
“Keyakinan terhadap diri, keragu-raguan,
Pelekatan terhadap ‘aku’ dan hal-hal lain,
Inilah yang disebut belenggu,
Karena inilah dunia ini berputar dalam kematian.”
Memahami dan melepaskan diri dari sepuluh belenggu Samyojana merupakan kunci menuju pembebasan dari penderitaan, sesuai dengan Empat Kebenaran Mulia yang diajarkan oleh Buddha. Dengan melenyapkan akar penyebab penderitaan tersebut, kita dapat mencapai Nibbana, yaitu keadaan tertinggi ketenangan dan kebebasan.

















