“The purpose of human life is to serve, and to show compassion and the will to help others.”
“Tujuan hidup manusia adalah untuk melayani, dan untuk menunjukkan kasih sayang dan kemauan untuk membantu orang-orang lain.”
~ Albert Schweitzer ~
Pernahkah Anda kenal dengan orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan hidupnya benar-benar bahagia? Keegoisan bukannya menumbuhkan melainkan menghancurkan kebahagiaan sejati sebagai seorang manusia. Kebahagiaan sejati adalah di saat kita bisa membantu orang lain yang membutuhkan. Apalagi jika bantuan yang kita lakukan di saat kita tidak berada dalam kondisi terbaik atau berlebihan.
Cerita berikut menyadarkan kita bahwa kesuksesan dan kebahagiaan akan lebih mudah dicapai jika kita mau membantu orang lain untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan mereka. Di saat kita membantu orang lain sebenarnya kita sekaligus membantu diri sendiri. Orang egois sebenarnya tidak hanya menolak membantu orang lain tetapi juga menolak membantu dirinya sendiri. Keegoisan sama sekali tidak membantu siapapun termasuk diri kita sendiri. Keegoisan pada akhirnya akan meruntuhkan diri kita sendiri.
***************************************************
Seorang laki-laki sedang melakukan pendakian di sebuah gunung. Dia telah terpisah dengan rombongannya sehingga harus melanjutkan perjalanannya seorang diri. Mendadak dia dikejutkan oleh badai salju yang datang dengan tiba-tiba. Dengan cepat dia menjadi kehilangan arah dan sulit menentukan posisinya. Dia tahu bahwa dia memerlukan perlindungan segera. Jika tidak, dia akan segera mati dalam keadaan membeku.
Walaupun sudah melakukan semua usaha, tangan dan kakinya dengan cepat mulai membeku dan menjadi mati rasa. Dalam pengembaraannya, tiba-tiba dia tersandung sesuatu di salju. Setelah dia selidiki lebih lanjut, ternyata seorang pria sedang terbaring dengan kondisi hampir beku terselimuti oleh salju.
Laki-laki tersebut harus membuat keputusan cepat. Tidak banyak waktu yang tersedia baginya untuk menimbang berlama-lama. Dia harus memutuskan apakah menolong laki-laki lain itu ataukah meneruskan perjalanannya dengan harapan bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Dalam waktu sesaat dia sudah mantap dengan keputusan yang akan diambil. Dia segera melepaskan sarung tangannya yang basah. Lalu dia berlutut di samping tubuh laki-laki lain itu dan segera mengurut lengan dan kakinya. Setelah melakukan itu beberapa saat lamanya, dia merasa dirinya sendiri jauh lebih baik. Oleh karenanya, dia semakin bersemangat mengurut lengan dan kaki laki-laki lain tersebut. Syukurlah ternyata laki-laki yang ditolongnya perlahan mulai sadar dan bisa bergerak perlahan.
Setelah keduanya merasa lebih baik, mereka lalu saling bantu untuk berdiri dan bersiap melanjutkan perjalanan. Dengan penuh perjuangan, melalui medan yang sulit dengan saling membantu dan menguatkan, mereka melangkah setapak demi setapak. Akhirnya mereka bisa mendapatkan pertolongan dan selamat dari musibah kematian.
Di kemudian hari, laki-laki pertama itu baru tahu bahwa keputusannya untuk menolong laki-laki lain tersebut turut menyelamatkan dirinya. Dia sangat beruntung karena keputusan yang dia ambil waktu itu bukanlah meninggalkan laki-laki yang terbaring di salju. Dengan keputusannya menolong laki-laki lain tersebut, mati rasanya mulai menghilang ketika dia berupaya keras mengurut lengan dan kaki laki-laki lain tersebut. Upayanya untuk menolong orang lain ternyata telah meningkatkan peredaran darahnya dan mendatangkan kehangatan kepada tangan dan kakinya. Seandainya dia memutuskan untuk meninggalkan laki-laki lain tersebut, sangat mungkin dirinya sendiri tidak akan selamat.
***************************************************
Merupakan hal yang berkebalikan namun tidaklah mengherankan, ketika seseorang mengalihkan perhatian atas kesulitan dirinya sendiri lalu berfokus guna membantu kesulitan orang lain, dia sebenarnya sudah di pertengahan jalan dalam memecahkan masalahnya sendiri. Satu-satunya cara untuk mencapai puncak gunung kehidupan kita sendiri adalah dengan sesekali melupakan diri sendiri dan membantu orang lain mencapai puncak gunung kehidupan mereka.
Jika kita terlalu egois, belum atau kurang dalam menolong orang lain, ingatlah aturan penting ini bahwa pendakian ke puncak kesuksesan dan kebahagiaan akan lebih mudah jika sepanjang perjalanan kita banyak menolong orang lain.
Dengan menolong orang-orang lain di sepanjang kehidupan kita, sesungguhnya kita juga menolong diri kita sendiri dalam mengeluarkan diri kita yang terbaik. Lalu setelah mampu mengeluarkan diri kita yang terbaik, yakni mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik yang ada dalam diri kita, lebih mudah lagi bagi kita untuk bisa menolong orang-orang lain. Demikianlah lingkaran positif ini akan terjadi jika kita berupaya menolong lebih banyak orang lain di sepanjang kehidupan kita. Dengan melakukannya, kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih luas dalam kehidupan akan menjadi milik kita.
“Pendakian ke puncak kesuksesan dan kebahagiaan dalam kehidupan akan lebih mudah jika sepanjang perjalanan kita banyak menolong orang lain yang sedang mendaki ke arah yang sama.”
(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

















