Top 10 Penulis

Mencari Kebahagiaan

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

woman, field, happiness, thank you, terima kasih
Photo by alfcermed

“But what is happiness except the simple harmony between a man and the life he leads?”

“Tetapi apakah itu kebahagiaan selain keselarasan sederhana antara seseorang dan kehidupan yang dijalaninya?”

~ Albert Camus ~

Adakah orang di dunia ini yang tidak menginginkan kebahagiaan? Hampir semua manusia normal ingin berbahagia dalam kehidupannya. Ada banyak definisi kebahagiaan, lengkap dengan berbagai persyaratan untuk meraihnya.

Kisah berikut merupakan salah satu versi meraih kebahagiaan yang patut kita renungkan. Ada kemungkinan pelajaran dari kisah ini cocok dengan kebahagiaan yang sedang kita cari selama ini.

***************************************************

Suatu ketika ada seorang pemuda yang merasa hidupnya sangat sulit. Seperti lazimnya manusia, dia ingin mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupannya. Setelah berkelana kesana kemari tanpa hasil yang memuaskan, dia disarankan menjumpai seorang Bijaksana di puncak sebuah gunung.

Setelah menempuh perjalanan panjang beberapa hari lamanya dengan penuh perjuangan, sampailah dia di tempat tinggal Bijaksana. Dengan tidak sabar dia minta dipertemukan dengan Bijaksana. Apa mau dikata, Bijaksana sedang kedatangan banyak tamu sehingga si pemuda harus menunggu.

Menjelang sore barulah Bijaksana menjumpai si pemuda. Dengan tidak sabar bahkan sampai terengah-engah, si pemuda segera berkeluh kesah tentang segala kesulitan dan masalah dalam kehidupannya. Tidak lupa si pemuda menceritakan betapa menderitanya dia harus menunggu Bijaksana hampir seharian lamanya. Di bagian akhir, dia mengungkapkan tujuannya untuk menjumpai Bijaksana, yaitu mendapatkan cara untuk memperoleh kebahagiaan dalam kehidupan.

Sepanjang keluh kesah si pemuda, Bijaksana hanya mendengarkan saja dengan penuh perhatian. Bijaksana lalu menuang teh ke sebuah cawan kecil sampai hampir penuh. Lalu dia meminta si pemuda untuk memegang cawan tersebut sambil berjalan mengelilingi seluruh kompleks rumahnya yang luas.

Walaupun bingung karena Bijaksana tidak memberikan cara memperoleh kebahagiaan yang dia inginkan, si pemuda tidak banyak bertanya. Dengan perlahan dan sangat hati-hati, si pemuda berjalan mengelilingi seluruh kompleks. Membutuhkan sekitar satu jam lamanya untuk mengelilingi kompleks yang cukup luas tersebut. Dia merasa sangat puas dan senang begitu selesai mengelilinginya karena berhasil menjaga sehingga tidak ada setetes pun air teh di cawan yang dipegangnya tertumpah.

Begitu bertemu Bijaksana, alih-alih menanyakan teh dalam cawan, Bijaksana menanyakan apakah si pemuda melihat jalan yang berkelak-kelok, keramik lantai yang bagus, kebun bunga yang indah, air terjun yang bagus, lukisan di dinding yang indah, taman dengan jalan berbatu halus, dan lain-lain. Dengan kepala tertunduk malu, si pemuda diam membisu. Dia tidak mampu menjawab sedikit pun karena dia sama sekali tidak memperhatikan lingkungan sekitarnya sewaktu berjalan berkeliling akibat hanya berfokus kepada air teh dalam cawan yang dipegangnya.

Bijaksana lalu meminta si pemuda mengulangi lagi perjalanannya. Kali ini si pemuda mengamati dan mengingat segala sesuatu yang dilihatnya sepanjang perjalanan mengelilingi seluruh kompleks. Tidak sedikit pun dia melewatkan setiap detil yang dijumpainya sepanjang perjalanan.

Setelah selesai berkeliling, si pemuda bergegas mencari Bijaksana karena sudah tidak sabar untuk segera menceritakan semua detil yang dilihatnya. Kali ini dengan sabar Bijaksana mendengarkan. Setelah si pemuda selesai bercerita panjang lebar, Bijaksana bertanya, “Mana teh dalam cawanmu?”. Ternyata cawan yang dipegang oleh si pemuda sudah kosong.

Bijaksana lalu meminta si pemuda mengulangi lagi perjalanannya untuk yang ketiga kalinya. Sebelum melepas si pemuda, Bijaksana berkata, “Kali ini kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan sepanjang perjalananmu mengelilingi kompleks tempat tinggalku.”

Kali ketiga ini, si pemuda selain tetap berfokus ke teh dalam cawan yang dipegangnya, juga memperhatikan lingkungan sekitarnya sewaktu berjalan. Sesekali dia melihat ke teh dalam cawan, sesekali dia melihat lingkungan di sekitarnya. Dengan cara ini, teh dalam cawan tidak tertumpah sama sekali, sekaligus dia mampu menikmati semua yang dilaluinya.

Dengan gembira si pemuda segera menjumpai Bijaksana. Sebelum dia sempat berkata apapun, Bijaksana sambil mengelus jenggotnya yang panjang sudah memberikan wejangan, “Teh dalam cawan melambangkan hal-hal terdekat denganmu, semisal dirimu, keluargamu, pekerjaanmu, harta bendamu, dan lain-lain.”

Bijaksana melanjutkan, “Lingkungan sekitar yang kamu lalui melambangkan orang-orang lain, masyarakat, negara, dan segala sesuatu yang lebih luas dari orang atau hal terdekatmu.” Akhirnya Bijaksana menutup pembicaraan dengan menyimpulkan, ”Untuk berbahagia dalam kehidupan ini, haruslah ada keseimbangan antara hal-hal terdekat dengan dirimu maupun lingkungan luarmu yang lebih luas.”

***************************************************

Sebagian orang terfokus kepada dirinya sendiri maupun orang atau hal terdekat dengannya, tetapi mengabaikan yang lain-lain di lingkungan yang lebih luas. Sebagian orang lainnya terfokus kepada orang atau hal lain di lingkungan yang lebih luas, dengan mengabaikan dirinya sendiri atau pun orang dan hal terdekat dengannya. Kedua ekstrim tersebut tidak akan bisa membuat seseorang mendapatkan kebahagiaan yang lengkap atau sempurna. Keseimbangan dalam menjalani keduanyalah yang akan mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan yang hakiki dalam kehidupannya.

Untuk bisa mengeluarkan diri kita yang terbaik, yakni mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita, selain membutuhkan upaya dan perjuangan diri sendiri, juga membutuhkan dukungan dan bantuan dari orang lain.

“Kebahagiaan dirasakan dalam hati dan pikiran. Untuk meraih kebahagiaan, seimbangkan antara yang di dalam diri dengan di luar diri.”

(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

sunset, family, silhouette
Kritik adalah berbahaya, karena melukai harga diri yang berharga dari seseorang, melukai perasaan penting, dan membangkitkan kebencian. Dale Carnegie
red apple fruit on four pyle books
Untuk mengerti dengan tepat gambaran besarnya, setiap orang seharusnya takut menjadi tertutupi secara mental dan terobsesi dengan satu bagian kecil saja dari kebenaran. Xun Zi

Tulisan Terkait