Dalam agama Buddha, konsep “dukkhati” merupakan salah satu fondasi utama dalam memahami hakikat kehidupan. Dukkhati, yang secara harfiah berarti “penderitaan” atau “ketidakpuasan”, menjadi titik awal dalam perjalanan spiritual seorang Buddhist untuk mencapai pembebasan.
Akar dari dukkhati, menurut ajaran Buddha, adalah keterikatan (tanha) terhadap segala sesuatu yang bersifat sementara dan berubah-ubah. Ketika kita terikat pada objek, orang, atau pengalaman tertentu, kita cenderung mengalami rasa sakit, kesedihan, dan kekecewaan ketika hal-hal tersebut berubah atau hilang.
Dalam Sutta Pitaka, kitab suci agama Buddha, konsep dukkhati dijelaskan secara mendalam. Salah satu sutta yang membahas mengenai hal ini adalah Dhammacakkappavattana Sutta, yang merupakan khotbah pertama Sang Buddha setelah mencapai pencerahan.
Berikut adalah kutipan dari Dhammacakkappavattana Sutta dalam bahasa Pali:
Idaṃ kho pana, bhikkhave, dukkhaṃ ariyasaccaṃ: Jātipi dukkhā, jarāpi dukkhā, maraṇampi dukkhaṃ, Sokaparidevadukkhadomanassupāyāsāpi dukkhā, Appiyehi sampayogo dukkho, piyehi vippayogo dukkho, Yampicchaṃ na labhati tampi dukkhaṃ; Saṃkhittena pañcupādānakkhandhā dukkhā.
Inilah kebenaran mulia tentang penderitaan: Kelahiran adalah penderitaan, penuaan adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan. Kesedihan, ratapan, rasa sakit, kesusahan, dan keputusasaan juga adalah penderitaan. Tidak mendapatkan apa yang diinginkan juga adalah penderitaan. Singkatnya, kelima kelompok kehidupan yang menjadi objek kemelekatan adalah penderitaan.
Melalui pemahaman akan dukkhati, umat Buddha diajak untuk menyadari sifat dasar kehidupan yang selalu berubah dan tidak dapat memberikan kebahagiaan abadi. Dengan melepaskan diri dari keterikatan, seorang Buddhist dapat menempuh jalan menuju pembebasan dari penderitaan, mencapai kebahagiaan sejati yang bersifat kekal dan abadi.

















