Seperti yang dikatakan dr. Andri, KJ, FAPM dalam diskusinya bersama Tim Kompasiana pada tanggal 23 September 2022 lalu bahwa penyintas itu bukan berarti Anda lebih pintar/paham soal kesehatan jiwa, maka izinkan saya untuk berbagi dengan pembaca berdasarkan pengalaman saya pribadi sebagai penyintas kanker nasofaring. Semoga bermanfaat ya.
Awal tahun 2019, setelah menjalani biopsi dan serangkaian pemeriksaan, saya didiagnosa mengidap kanker nasofaring stadium 4. Kemudian dilanjutkan dengan kemoterapi dan radioterapi hingga selesai. Tetapi pada tahun 2021, terdeteksi bahwa sel kankernya bermetastasis ke paru-paru. Kembali saya menjalani pengobatan dan kemudian pada tahun 2022 muncul di bibir sebelah kanan bagian bawah. Dokter menyarankan operasi di bagian tersebut. Selanjutnya terjadi infeksi di bekas operasi tersebut sehingga dokter menyarankan Brachytherapy yang telah saya jalani di bulan Agustus lalu.
Pertama-tama saya fokus pada kesehatan jasmani dulu dengan menjalani pola hidup sehat, yakni memakan makanan bergizi, melakukan olahraga ringan seperti bersepeda atau jalan pagi/sore, berjemur di pagi hari pada jam tertentu, tidur/istirahat yang cukup, dan lain-lain yang mampu meningkatkan kesehatan jasmani kita.
Kemudian saya fokuskan pada kesehatan jiwa karena kesehatan fisik dan kesehatan jiwa saling mendukung satu dengan lainnya. Menurut pengamatan saya selama ini, justru kesehatan jiwa harus benar-benar diperhatikan. Siapa yang tidak merasa galau kalau terkena penyakit kanker? Pasti kita akan merasa takut, sedih, tertekan, kuatir akan ini dan itu, dan segudang perasaan negatif lainnya, namun kita harus segera bangkit dari serbuan perasaan-perasaan negatif yang muncul dan menggantikannya dengan perasaan-perasaan positif agar imun tubuh kita meningkat sehingga mampu bertahan dari cobaan ini.
Saya juga sempat mengalami depresi ketika sel kankernya bermetastasis ke paru-paru. Saya menjadi mudah terharu dan meneteskan air mata tanpa bisa dibendung. Beruntung saya mendapatkan dukungan dari keluarga, famili, sahabat-sahabat setia, rekan-rekan kerja, dan bahkan dari orang-orang yang tidak saya kenal. Kok bisa ya? Silakan teruskan membacanya untuk menemukan jawabannya, he he he.
Kiat-kiat yang saya gunakan untuk bertahan:
1. Bersyukurlah
Sebagai manusia, kita harus menerima kenyataan bahwa semua yang dilahirkan pasti akan mengalami kematian. Pada akhirnya kita harus meninggalkan dunia ini, cepat atau lambat. Apalagi pada masa pandemi Covid-19 lalu, kita melihat kejadian-kejadian yang semakin membuka mata kita tentang hal ini. Jadi bersyukurlah bahwa kita masih diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup kita biarpun dengan kondisi fisik yang kurang bagus. Kesehatan jasmani kita boleh mengalami perubahan sesuai dengan bertambahnya usia kita, tapi kesehatan jiwa kita harus tetap terjaga.
2. Bergembiralah
Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah, apalagi kalau larut dalam kesedihan yang akan membuat kita semakin down. Jadi usahakan untuk tertawa pada setiap kesempatan yang ada. Saya coba kasih resep yang saya rakit sendiri, yakni tertawa saat sedang mandi sambil menyanyikan lagu-lagu gembira, he he he, atau pergunakan waktu untuk bermain/bercengkerama dengan anak kecil. Kebetulan keponakan saya masih berumur 3 tahun. Berinteraksi dengan anak-anak mendatangkan kebahagiaan.
3. Bermeditasilah
Tujuan dari bermeditasi adalah untuk menenangkan pikiran kita yang suka berkeliaran ke sana kemari yang hanya akan menambah beban hidup kita yang sudah cukup berat dengan adanya penyakit yang kita derita. Dengan bermeditasi kita menjadi tenang dan lebih mampu menerima kondisi jasmani kita yang sedang mengalami perubahan. Kalau bisa, kita perlu berdamai dengan penyakit yang kita derita. Menerima kenyataan bahwa tubuh kita akan mengalami perubahan seiring dengan bertambahnya usia kita.
4. Berbuat kebajikanlah
Daripada terpuruk dalam kesedihan, lebih baik kita segera bangkit dengan memanfaatkan waktu yang masih tersisa dan kekuatan yang ada pada kita untuk berbuat kebajikan seperti bederma kepada orang yang benar-benar membutuhkan bantuan, dan lain-lain. Tidak harus dengan biaya yang besar. Sesuaikan dengan kemampuan kita saja. Bahkan hanya dengan memberikan senyuman terindah yang bisa kita tampilkan, kita pun sudah berbuat kebajikan jika orang yang kita senyumi merasa bahagia dengan senyuman kita.
Saya jadi teringat dengan raut wajah saya yang agak aneh sesudah operasi bibir, apalagi bila tersenyum. Entah masih ada yang akan merasakan kebahagiaan dengan senyuman aneh saya? He he he. Saya yakin pasti ada, apalagi kalau senyuman itu dari ketulusan hati.
Untuk poin yang satu ini, saya mohon izin menulis lebih panjang untuk berbagi pengalaman saya dengan Anda.
Selalu ada pelajaran berharga yang bisa kita petik dari setiap permasalahan yang terjadi dalam kehidupan kita. Demikian juga dengan masalah yang saya hadapi saat ini, yakni saya berkesempatan untuk menjadi penulis dadakan di Kompasiana untuk berbagi kiat-kiat dalam menghadapi masa-masa sulit dalam hidup ini. Nah, dengan demikian, bukankah saya telah berbuat kebajikan biarpun hanya melalui tulisan?
Pertanyaan Anda sebelumnya pun sudah terjawab, karena saya juga mendapatkan dukungan dari para pembaca, baik yang saya kenal maupun yang tidak saya kenal, benar kan? Jadi usahakanlah berbuat kebajikan kepada siapapun, kapanpun, dan di manapun.
Akhir kata, perkenankan saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kompasiana yang telah membuat hidup saya menjadi lebih berarti.
Teman-teman senasib dan seperjuangan, bersyukurlah kepada Yang Kuasa sesuai dengan iman dan kepercayaan kita masing-masing karena masih diberi kesempatan untuk hidup. Pergunakanlah kesempatan ini untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat, tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain. Jadikanlah hidup ini lebih berarti.
Selamat berjuang! Tetap semangat!

















