Top 10 Penulis

Mengukur Konsentrasi di Bodhigiri

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Bhante Uttamo, Balerejo, samaggi-phala.or.id

Bulan September 2024, putra saya mengajak ikut latihan meditasi di Bodhigiri, Balerejo dibawah bimbingan Bhante Uttamo Mahathera. Saya sudah mengingatkan bahwa latihan di sana wajib bermeditasi minimal 15 jam. Tetapi ia tetap yakin dapat melakukannya.

Dalam sehari tidak ada jam awal dan akhir, semua diserahkan pada para perserta. Ketika ia mulai meditasi, maka itu adalah waktu awal, ketika tidur dianggap selesai. Selama kurun waktu itu, harus berlatih selama 15 jam.

Setiap sesi meditasi disarankan dimulai dengan 30 menit, setiap kali sesi harus 30 menit. Jika merasa sudah mampu, dapat menaikkan waktunya, misalkan 1 jam. Kalau sudah naik 1 jam, tidak boleh turun. Panitia menyediakan timer dan buku catatan dan alat tulis untuk mencatat setiap sesi meditasi.

Setiap jam 6 pagi selama 2 jam, ada waktu berkumpul untuk melakukan puja bakti dan tanya jawab mengenai meditasi dengan Bhante Uttamo. 

Setiap sesi, bisa ada jeda istirahat, tetapi kalau terlalu lama maka waktu yang tersisa untuk tidur akan habis, sehingga setiap peserta berusaha untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Setelah dikurangi waktu makan (saya hanya satu kali makan) dan mandi, umumnya peserta tidur hanya 2 atau 3 jam saja.

***

Meditasi Jalan

Setiap peserta diwajibkan untuk melakukan meditasi jalan. Dua kali meditasi jalan (2 x 30 menit), 1 kali meditasi duduk (30 menit). 

Meditasi jalan, pengamatan pada titik sentuh di telapak kaki, untuk mempermudah panitia menyediakan karpet yang permukaannya seperti mie, sehingga ketika terjadi sentuhan di telapak kali akan terasa.

Pengamatan sentuhan di telapak kaki, semakin lama semakin halus, sehingga semakin lama setiap langkah semakin lambat. Dalam Caṅkama Sutta, Sang Buddha menjelaskan 5 manfaat dari meditasi jalan:

  1. Mampu melakukan perjalanan jauh (addhānakkhamo). Artinya, tubuh menjadi kuat dan tahan untuk perjalanan panjang.
  2. Mampu berusaha dengan tekun (padhānakkhamo). Melatih ketahanan fisik dan mental untuk berusaha dalam praktik spiritual.
  3. Menjadi sehat (appābādho). Memiliki sedikit penyakit atau tubuh yang lebih bugar.
  4. Membantu pencernaan (pariṇāmaṁ gacchati). Makanan dan minuman yang dikonsumsi dapat dicerna dengan baik.
  5. Konsentrasi yang dicapai bertahan lama (cīraṭṭhitiko hoti). Kebanyakan meditasi jalan dilakukan dengan mata terbuka, sehingga konsentrasi yang diperoleh cenderung lebih stabil dan tidak mudah hilang ketika berpindah aktivitas

Manfaat yang mungkin paling penting adalah konsentrasi yang dicapai dapat bertahan lama.

***

Meditasi Versi 1

Untuk meditasi duduk Bhante menyebutkan Versi 1, artinya apapun yang muncul di pikiran, diabaikan, kembali ke objek. Misalkan objek meditasi adalah nafas masuk dan keluar, pengamatan di hidung, selama pengamatan jika ada pikiran apapun yang muncul, harus diabaikan, kembali ke nafas. Begitu terus menerus.

Biasanya disebut sebagai meditasi Samatha, tetapi Bhante memberi nama sebagai Meditasi Versi 1, agar semua yang berasal dari kalangan yang berbeda memiliki pemahaman yang sama.

Jika konsentrasi yang dicapai dalam Versi 1 sudah cukup dapat melanjutkan ke Versi 2.

***

Meditasi Versi 2

Karena konsentrasi sudah cukup baik hasil dari Versi 1, sehingga objek yang muncul dapat dikenali dengan baik, untuk itu apapun objek yang dominan muncul dapat dijadikan objek. Jika tidak ada objek, kembali ke objek utama, misalkan mengamati nafas masuk dan keluar.

Cara pengamatan objek ini, biasanya dikenal sebagai Vipassana, tapi Bhante memberi nama sebagai Meditasi Versi 2.

***

Bagaimana Tahu Kalau Konsentrasi Sudah Baik?

Ketika saya berlatih di sana, tidak ada cara untuk menentukan apakah konsentrasi sudah baik atau belum. Saat itu, karena sudah berlatih sejak 2007, saya merasa konsentrasi saya sudah cukup, sehingga setiap duduk saya memilih Versi 1 dan Versi 2 bergantian. 

Tetapi tentu saja anggapan bahwa konsentrasi saya sudah cukup, tidak ada ukuran yang pasti.

Selang setahun kemudian Bhante Uttamo mengajarkan cara mengukur konsentrasi apakah sudah cukup baik atau belum. Carannya

  1. Perhatian pada nafas masuk dan keluar
  2. Setiap nafas masuk dan keluar dihitung sebagai satu hitungan
  3. Hitungan dimulai dari 50, lalu turun sampai 1
  4. Nafas masuk 50, nafas keluar 50, nafas masuk 49, nafas keluar 49, nafas masuk 48, nafas keluar 48 terus sampai 1
  5. Jika hitungan salah, maka ulangi lagi dari 50.
  6. Jika pikiran meninggalkan objek, ulangi lagi dari 50
  7. Jika berhasil melakukan hitungan dari 50 sampai 1 selama 3 kali berturut-turut, maka konsentrasi sudah baik.

Bhante mengatakan agar para peserta dapat mengukur dirinya sendiri walaupun tidak ada beliau. 

Begitu mengetahui cara ini ketika sesi meditasi jam 5 pagi di rumah, langsung saya coba. Ternyata dapat melakukan dalam sekali coba, ini dalam kondisi badan yang cukup segar cukup tidur, tetapi ketika dalam kondisi agak mengantuk, harus beberapa kali dilakukan. 

Bagi yang penasaran silahkan mencoba.

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

Setiap sesi, bisa ada jeda istirahat, tetapi kalau terlalu lama maka waktu yang tersisa untuk tidur akan habis, sehingga setiap peserta berusaha untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Setelah dikurangi waktu makan (saya hanya satu kali makan) dan mandi, umumnya peserta tidur hanya 2 atau 3 jam saja.
silhouette photo of Buddha statue
Apa pun yang dikenali oleh pikiran sebenarnya adalah hasil dari proses persepsi yang dibentuk oleh pengalaman. Karena persepsi sering kali terdistorsi oleh nafsu, kebencian, dan kebodohan, maka apa yang dikenali belum tentu sesuai dengan kenyataan.

Tulisan Terkait