“Efficiency is doing things right; effectiveness is doing the right things.”
“Efisiensi adalah melakukan sesuatu dengan benar; efektivitas adalah melakukan sesuatu yang benar.”
~ Peter Drucker ~
Banyak di antara kita yang dengan mudah mengucapkan kata “efektif dan efisien” dalam pembicaraan. Jika diminta menjelaskan maksudnya, belum tentu kita mampu menjelaskannya dengan cepat dan tepat.
Efektif dan efisien adalah prinsip dasar dari ilmu manajemen. “Efektif” berarti mencapai target yang sudah ditetapkan. “Efisien” berarti cara yang diterapkan untuk mencapai target adalah yang paling minim dalam penggunaan sumber daya. Yang termasuk sumber daya adalah waktu, pikiran, tenaga, peralatan, biaya, dan lain-lain. Persyaratan penting lainnya untuk terpenuhinya kriteria “efektif dan efisien” adalah target dan cara mencapai target tersebut harus benar. Target dan cara yang benar berarti tidak melanggar hukum, peraturan, dan norma yang berlaku.
Contohnya kita ingin berpindah dari lokasi A ke lokasi B yang berjarak 20 km. Banyak pilihan cara yang bisa memastikan kita dapat mencapai lokasi B dari lokasi awal A. Cara-cara itu di antaranya berjalan kaki, berlari, naik sepeda, naik motor, naik mobil, naik kereta api, atau pun naik helikopter bahkan pesawat terbang. Memenuhi kriteria “efektif” apabila kita berhasil mencapai lokasi B. Memenuhi kriteria “efisien“ apabila cara yang digunakan untuk mencapai lokasi B adalah yang paling minim dalam hal penggunaan sumber daya.
Dalam contoh mencapai lokasi B dari lokasi awal A tersebut, cara yang kemungkinan paling efisien bagi kebanyakan orang adalah naik motor atau naik mobil. Kendaraan yang digunakan bisa milik sendiri atau milik orang lain yang sudah mendapatkan izin. Penggunaan motor atau mobil kemungkinan paling efisien jika mempertimbangkan sumber daya yang dibutuhkan terutama dari waktu, tenaga, dan biaya.
Kisah berikut adalah contoh praktik korupsi yang terjadi di sebuah perusahaan. Korupsi nyata-nyata tidak memenuhi prinsip manajemen efektif dan efisien.
***************************************************
Seorang laki-laki bekerja di sebuah perusahaan dengan posisi cukup baik di departemen yang sering dianggap “basah”, yakni pembelian. Awalnya laki-laki ini merupakan seorang pekerja yang jujur. Sebagai manusia normal, tentu saja dia memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam hidupnya. Salah satunya adalah menjadi kaya. Tujuan ini umum dimiliki oleh manusia.
Dengan berjalannya waktu, di saat kebutuhan hidup berkeluarga semakin banyak dan meningkat, dia seringkali terdesak antara besarnya pengeluaran dibanding dengan besarnya pemasukan. Jangankan untuk menabung dan berinvestasi, guna memenuhi kebutuhan sehari-hari dia sekeluarga bersama istri dan ketiga anaknya pun seringkali pas-pasan.
Karena kesempatan tersedia, dia mulai mengorbankan kejujurannya. Bujukan dari pemasok cocok dengan keinginan dia untuk mendapatkan uang dengan cara mudah dan cepat. Dia lalu menaikkan harga beli atau melakukan mark up dari harga yang ditawarkan oleh beberapa pemasok utama. Selisih antara harga beli perusahaan dengan harga jual asli dari pemasok menjadi bagian dia.
Praktik yang dilakukan oleh laki-laki ini termasuk ke dalam kategori korupsi. Praktik ini sempat berlangsung selama beberapa tahun lamanya sebelum akhirnya terungkap dan perusahaan memutuskan menyelesaikannya melalui jalur hukum. Laki-laki tersebut akhirnya bukan menjadi kaya, tetapi malah masuk penjara dan hartanya disita. Dia menghabiskan waktu menderita di penjara sementara istri dan anak-anaknya hidup terlantar.
***************************************************
Sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “korupsi” didefinisikan sebagai penyelewengan atau penggelapan harta milik negara atau perusahaan. Banyak praktik korupsi terjadi di negara kita maupun di perusahaan-perusahaan. Korupsi yang terjadi di tataran negara melibatkan tidak hanya pejabat tinggi, tetapi juga menengah dan rendah. Korupsi di perusahaan tidak hanya melibatkan karyawan berkedudukan tinggi, tetapi juga menengah bahkan bawah. Banyak faktor penyebab terjadinya korupsi. Tanpa sadar sebenarnya pelaku korupsi mempraktikkan prinsip manajemen efektif dan efisien tetapi dengan cara yang salah.
Dalam konteks korupsi, targetnya benar karena umumnya pelaku korupsi ingin dirinya atau orang lain menjadi kaya. Tidak ada yang salah dengan target semacam ini. Target demikian adalah umum dimiliki manusia. Akan tetapi cara yang digunakan pelaku korupsi adalah salah karena melanggar hukum. Korupsi merugikan negara atau perusahaan. Jika korupsi tidak ketahuan sehingga pelaku korupsi bisa menjadi kaya dengan cara yang mudah dan cepat, apakah “korupsi yang sukses” tersebut dapat dikatakan efektif dan efisien?
“Korupsi yang sukses” berarti target (menjadi kaya) tercapai. Artinya terpenuhi prinsip manajemen efektif. “Korupsi yang sukses” juga berarti minim sumber daya yang digunakan untuk menjadi kaya misalnya dalam hal kebutuhan waktu, tenaga, biaya, peralatan, dan lain-lain. Terlihat sekilas korupsi memenuhi prinsip “efisien”. Akan tetapi karena tercapainya tujuan menjadi kaya tersebut dilakukan dengan cara yang merugikan negara atau perusahaan, berarti korupsi adalah tidak benar karena melanggar hukum.
Jika akhirnya korupsi itu terbongkar dan kemudian pelakunya dihukum maka menjadi kaya tinggallah kenangan. Berarti korupsi tidaklah efektif karenanya tujuannya untuk menjadi kaya tidak tercapai. Korupsi yang ketahuan juga berarti sumber daya yang sudah digunakan menjadi sia-sia alias tidak efisien.
Prinsip “efektif dan efisien” seyogianya diterapkan dalam berbagai aktivitas maupun tujuan hidup yang kita miliki. Setelah mengetahui teori tentang manajemen efektif dan efisien, yang paling penting adalah melatih dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara inilah kita bisa menjadi pribadi yang efektif dan efisien.
Pribadi yang efektif dan efisien merupakan ciri dari seseorang yang mampu mengeluarkan diri dia yang terbaik. Walaupun sudah efektif dan efisien di satu waktu bukan berarti pasti efektif dan efisien di waktu berikutnya karena lingkungan berubah sehingga kemampuan menjadi efektif dan efisien juga harus menyesuaikan perubahan yang terjadi.
“Efektif dan efisien berarti melakukan yang benar dengan benar. Efektif dan efisien haruslah dicapai bersamaan barulah lengkap dan sempurna.”
(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

















