Top 10 Penulis

Menjadi Seorang Buddhis Yang Efektif Dan Efisien

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

silver iMac with keyboard and trackpad inside room

Banyak di antara kita dengan mudah mengucapkan kata “efektif” dan efisien”. Saat diminta menjelaskan maksudnya, kebanyakan dari kita tidak mampu menjelaskan dengan cepat dan tepat arti dari kedua kata tersebut.

Efektif dan efisien adalah prinsip dasar dari praktik manajemen. Efektif berarti mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Istilah lain dari tujuan, di antaranya adalah target atau sasaran. Efisien berarti cara yang diterapkan dalam mencapai tujuan adalah yang paling minimum dalam penggunaan sumber daya. Sumber daya yang dimaksud bisa berupa waktu, pikiran, tenaga, peralatan, biaya, dan lain-lain.

Persyaratan penting lainnya untuk terpenuhinya kriteria efektif dan efisien adalah tujuan dan cara mencapai tujuan harus benar. Tujuan dan cara yang benar tersebut berarti tidak melanggar hukum, peraturan, dan norma yang berlaku.

Sebagai contoh, kita ingin berpindah dari lokasi A ke lokasi B yang berjarak 20 km. Banyak pilihan cara yang bisa memastikan kita dapat mencapai tujuan tersebut. Cara-cara itu di antaranya berjalan kaki, berlari, naik sepeda, naik motor, naik mobil, naik kereta api, ataupun naik helikopter, atau bahkan pesawat terbang.

Terpenuhinya kriteria efektif apabila kita berhasil mencapai lokasi B dari titik awal lokasi A. Kriteria efisien tercapai apabila cara yang digunakan untuk mencapai lokasi B adalah yang paling minimum dalam penggunaan sumber daya.

Cara yang kemungkinan paling efisien adalah naik motor atau naik mobil. Kendaraan yang digunakan bisa milik sendiri atau milik orang lain yang telah diberikan izin kepada kita untuk menggunakannya. Penggunaan motor atau mobil kemungkinan paling efisien jika mempertimbangkan sumber daya yang dibutuhkan terutama dari segi waktu, tenaga, dan biaya.

Contoh lainnya misalkan seorang Dhammaduta (Dhamma = ajaran Buddha, duta = utusan, petugas, pengemban). Dhammaduta adalah sebutan yang umum dan luas. Salah satu aktivitas Dhammaduta adalah berceramah (pelakunya secara spesifik disebut Penceramah). Jadi Penceramah agama Buddha merupakan salah satu bentuk Dhammaduta. Bentuk Dhammaduta lainnya misalkan guru atau pengajar agama Buddha, dan lain-lain.

Seorang Penceramah tentu memiliki  tujuan yang ingin dicapai dari ceramah yang dibawakan. Semakin detil tujuan yang dimiliki, semakin mungkin untuk dicapai karena lebih jelas. Panduan umum dalam membuat tujuan adalah terpenuhinya kriteria ”SMART” (Specific = spesifik, Measurable = jelas apa yang diukur dan bagaimana cara pengukurannya, Attainable = dalam rentangan daya untuk dicapai, Realistic = masuk akal untuk direalisasikan tapi mensyaratkan pengeluaran potensi maksimal, Time bound = ada batas waktu).

Memiliki tujuan berceramah yang jelas adalah hal yang pertama. Hal kedua adalah memastikan materi ceramah, cara penyampaian, penampilan diri secara keseluruhan menggunakan seminimum mungkin sumber daya.

Buddha adalah contoh figur “Penceramah” yang sangat efektif dan efisien. Banyak cerita dimana pendengar dari ceramah yang disampaikan oleh Buddha bisa mencapai tingkat kesucian tertentu. Jika pun belum mencapai tingkat kesucian, setiap pendengar umumnya merasa seakan Buddha berbicara langsung dengan dirinya. Ceramah Buddha juga dirasakan sangat relevan dalam menjawab permasalahan atau ketidaktahuan yang dimiliki oleh mereka yang hadir.

Jadi tantangan sebagai Penceramah (atau Dhammaduta secara umum) adalah pertama memastikan tujuan ceramahnya memenuhi kriteria SMART. Kedua, memastikan cara yang seefisien mungkin dalam mencapai tujuan tersebut. Jika ini bisa dilakukan, barulah dapat disebut Penceramah yang efektif dan efisien. Walaupun tentu saja tingkatannya tidak bisa dibandingkan dengan Buddha yang sudah sempurna.

Prinsip efektif dan efisien seyogyanya diterapkan dalam berbagai aktivitas mau pun tujuan hidup yang dimiliki oleh seorang buddhis. Selain belajar teori sehingga mengerti tentang konsep efektif dan efisien, yang paling diperlukan adalah latihan atau praktik. Dengan cara inilah seorang buddhis bisa menjadi pribadi yang efektif dan efisien, yakni pribadi yang bisa meraih tujuan hidupnya dengan menggunakan sumber daya seminimum atau sehemat mungkin.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

a close-up of a hand
Pernahkah Anda kenal dengan orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan hidupnya benar-benar bahagia?
woman in white shirt wearing eyeglasses
Dia terlihat bingung untuk menyeberangi sungai di depannya yang airnya cukup tinggi dan deras.

Tulisan Terkait