Top 10 Penulis

Menjadi Seorang Buddhis Yang Fleksibel

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Kehidupan dan dunia ini berubah terus-menerus. Rentang perubahan bergerak dari skala kecil, sedang, sampai besar. Kehidupan dan dunia dipenuhi oleh kebangkitan dan kejatuhan, kesuksesan dan kegagalan, kehilangan dan penerimaan, penghormatan dan penghinaan, pujian dan cacian, kebahagiaan dan penderitaan, kesenangan dan kesusahan, kepuasan dan kekecewaan, keberanian dan ketakutan, dan lain-lain.

Gelombang emosi dahsyat membawa manusia ke atas di suatu waktu. Di ketika yang lain, menghempaskan manusia ke bawah. Gelombang pasang dan surut kehidupan terjadi secara berulang-ulang. Semuanya bergerak. Semuanya berubah.

Para ilmuwan telah mengakui dan menerima hukum perubahan yang dikatakan oleh Buddha. Dalil ilmu pengetahuan menyatakan bahwa tidak ada hal yang substansial, solid, dan nyata di dunia ini. Segalanya merupakan perubahan energi, tidak pernah tetap, terus berubah secara dinamis.

Buddha mengajarkan bahwa siklus dunia dan alam semesta muncul dan lenyap silih berganti. Kehidupan dan dunia yang kita tinggali saat ini juga pasti berubah, pasti berakhir. Hal ini telah terjadi sebelumnya terhadap dunia sebelum ini. Hal ini juga juga akan terjadi terhadap dunia yang sekarang ini. Hal ini juga akan terjadi terhadap dunia yang akan datang. Hanya persoalan waktu saja dunia termasuk alam semesta ini akan berubah sampai mengalami kehancuran.

Dalam ilmu manajemen dan organisasi, dikenal istilah Survival of The Fittest. Istilah ini mengandung pengertian bahwa keberlangsungan hidup satu entitas (individu atau organisasi) adalah yang berhasil menyelaraskan kepentingan di dalam (internal) dan di luar (eksternal).

Kepentingan internal dan eksternal sendiri tidaklah tetap atau statis.  Keduanya terus berubah dari waktu ke waktu.  Oleh karenanya, untuk bisa bertahan atau menjaga kelangsungan hidupnya, suatu entitas harus terus berubah, harus terus menyesuaikan.

Istilah Survival of The Fittest diperkenalkan oleh Herbert Spencer di tahun 1864. Ini mengacu kepada konsep ”Natural Selection” (Seleksi Alam) yang diperkenalkan oleh Charles Darwin. Sesuai konsep ini, alam akan melakukan seleksi sehingga yang fit (adaptif) saja yang akan bertahan hidup (survive).

Kedua konsep ”Survival of The Fittest” dan ”Natural Selection” ini mampu menjelaskan punahnya dinosaurus. Jenis binatang yang besar dan kuat di zamannya, yang punah karena tidak mampu berubah dan menyelaraskan dirinya dengan alam dan lingkungan sekitarnya yang telah berubah.

Dengan memahami konsep perubahan ini seharusnya seorang buddhis yang baik tidak akan mengalami kekagetan dan kekecewaan sewaktu mengalaminya. Namun mengerti teori perubahan saja tidak lantas membuat seorang buddhis mampu menerima perubahan itu sewaktu terjadi pada dirinya atau berkaitan dengan kepentingannya. Hal ini terutama berlaku untuk perubahan yang menjadi lebih buruk atau lebih jelek.

Pembekalan yang diperlukan oleh seorang buddhis adalah dimulai dengan mengerti dan menerima bahwa perubahan itu adalah fenomena umum. Perubahan tidak pilih kasih. Perubahan tidak membeda-bedakan orang atau manusianya. Perubahan tidak menunggu orang atau manusia siap. Perubahan akan terjadi jika faktor-faktor atau kondisi tidak terpenuhi atau mengalami pergeseran.

Setelah mengerti dan menerima konsep perubahan ini, seorang buddhis harus mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan mengamati, menyaksikan, dan merasakan perubahan-perubahan tersebut. Mulailah dari perubahan-perubahan yang kecil dulu, bertahap sehingga memiliki ketahanan mental yang memadai sewaktu harus mengalami perubahan yang lebih besar.

Salah satu cara untuk mampu bertahan (survive) dalam menghadapi perubahan yang terjadi di sepanjang kehidupan adalah mempraktikkan prinsip ”be flexible” (menjadi fleksibel). Penting sekali bagi seorang buddhis untuk menjadi fleksibel terhadap berbagai perubahan dalam kehidupan ini. Perubahan dapat terjadi terhadap rencana, harapan, bahkan impian sepanjang kehidupan yang dijalani.

Banyak hal dalam kehidupan yang akan berjalan tidak sesuai dengan rencana dan keinginan. Jika seorang buddhis bersikap kaku atau tidak fleksibel,  dia akan sulit menerima perubahan yang terjadi di luar rencana dan keinginan yang sudah ditentukan. Dia akan sulit dan enggan melakukan perubahan untuk melakukan penyesuaian. Alhasil dia akan sering mengalami kekecewaan, frustrasi, kesedihan, kemarahan, dan sulit menerima kenyataan.

Menerapkan prinsip ”menjadi fleksibel” berarti menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan rencana atau keinginan.  Dilanjutkan dengan melakukan perubahan untuk menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi.  Alhasil kekecewaan, frustasi, kesedihan,  kemarahan bisa berkurang drastis. Kesuksesan dan kebahagiaan pun menjadi lebih mudah diraih.

”Menjadi fleksibel” berbeda dengan ”tidak konsisten” (inkonsistensi) atau plin-plan atau tidak punya pendirian.  “Menjadi fleksibel” berarti menyesuaikan cara mengikuti perubahan yang terjadi untuk meraih tujuan yang sudah ditetapkan. Tidak konsisten,  plin-plan,  atau tidak punya pendirian berarti mudah berubah (dalam cara mau pun tujuan)  tanpa adanya alasan atau dasar yang kuat.

Ingatlah, seorang pilot pun harus menyesuaikan kecepatan, arah, dan ketinggian pesawat sepanjang penerbangan untuk mencapai tujuan penerbangan yang sudah ditetapkan. Seorang pilot harus “menjadi fleksibel” dalam mengarahkan pesawat sesuai dengan situasi dan kondisi perjalanan sepanjang penerbangannya.

Seorang buddhis yang mampu menerapkan prinsip “menjadi fleksibel” adalah calon pemenang sejati. Para pemenang bukanlah mereka yang paling pintar ataupun yang paling kuat. Para pemenang adalah mereka yang bisa “menjadi fleksibel” sesuai kebutuhan karena adanya perubahan. The winner is the most flexible one neither the smartest nor the strongest one.

Sebenarnya teladan “menjadi fleksibel” bisa ditemukan dalam cerita Pangeran Siddharta dan Pertapa Gotama sebelum menjadi Buddha.

Pangeran Siddharta memiliki penampilan dan kemampuan fisik terunggul dari semua manusia di zaman tersebut.  Beliau juga memiliki harta berlimpah dan kekuasaan yang besar sebagai seorang pangeran. Ternyata semuanya itu tidak mampu mengatasi penderitaan manusia untuk menjadi tua, sakit, dan mati.  Lalu Pangeran Siddharta menerapkan prinsip “menjadi fleksibel” dengan menjadi pertapa sebagai upaya untuk mencari “obat” guna mengatasi penderitaan menjadi tua, sakit, dan mati.

Adapun Pertapa Gotama melakukan cara bertapa menyiksa diri secara ekstrim selama enam tahun dari sejak mula menjalani hidup kepertapaan. Namun upaya keras ini tetap tidak mampu membuat Beliau menemukan pengetahuan yang bisa mengatasi penderitaan karena menjadi tua, sakit, dan mati. Akhirnya beliau menerapkan prinsip “menjadi fleksibel” dengan mengubah pendekatan kepertapaanNya. Alhasil sejarah mencatat beliau mencapai pencerahan sempurna dan ajaranNya untuk mengatasi penderitaan dikenal sampai sekarang.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

a close-up of a hand
Pernahkah Anda kenal dengan orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan hidupnya benar-benar bahagia?
woman in white shirt wearing eyeglasses
Dia terlihat bingung untuk menyeberangi sungai di depannya yang airnya cukup tinggi dan deras.

Tulisan Terkait