Top 10 Penulis

Mewaspadai Tenggeran, Keluar dari Rajutan Penderitaan

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

pile of scarecrow
Photo by Rodrigo Rodriguez

Sulitnya Penyenang Tenggeran Melihat Dhamma

Pada masa awal-awal abhisambuddha, Sang Guru diriwayatkan enggan membabarkan Dhamma yang sedemikian mendalam, sulit dilihat, sulit dipahami, damai, unggulan, di luar cakupan penerkaan, lembut, semestinya dikenyam oleh para pandit (M i 167–168).

Beliau mencermati bahwa, sulit bagi para penyenang tenggeran untuk melihat pelandasan yang disebut sebagai prinsip ketampakmunculan bertaut pada pokok khusus (idappaccayatāpaṭiccasamuppāda). Namun, apakah sebenarnya yang disebut sebagai tenggeran? Bagaimana itu menyenangi tenggeran?

Makhluk-makhluk hinggap atau bertengger pada lima jenis kesenangan indriawi, bersebab itulah disebut sebagai tenggeran (ālaya). Di sisi lain, mereka bertengger atau berkeliaran pada ragam jenis kegandrungan, ini pun juga sebab dinamakan sebagai tenggeran (MA ii 174). Bersenang dengan tenggeran-tenggeran tersebut, maka dijuluki sebagai penyenang tenggeran (ālayārāma).

Jika diumpamakan, seorang raja masuk ke dalam kebun yang indah. Terpenuhi dengan pohon-pohon berlengkap bunga, buah-buahan, dan sebagainya. Raja akan menyenangi segala hal yang ada di sana. Menggemari, bergembira ria, tidak muak akan kenikmatan yang ditawari oleh kebun berbunga tersebut. Sampai malam hari pun ia tidak kunjung keluar dari kebun. Demikianlah pula makhluk-makhluk terlena dengan kenikmatan semu yang ditawari oleh tenggeran yang disebut kegandrungan. Mereka tidak muak akan lingkaran pengembaraan, yang sesungguhnya penderitaan.

Bagaimana Semestinya Tenggeran Diwaspadai?

Jika kita berpikir, untuk dapat melepaskan renjana akan suatu hal, semestinya kita melihat sisi cela perihal tersebut. Demikianlah seyogianya tenggeran yang dijuluki kesenangan indriawi, dilihat dari sisi cacatnya. Perenungan ini dapat dimunculkan melalui beberapa perumpamaan.

Semisal seekor burung hering, burung gagak, atau burung elang, mencengkeram onggokan daging dan terbang. Kemudian, ketumbukan burung hering, burung gagak, atau burung elang lainnya, berusaha merebut daging yang berada pada cengkeramannya tersebut, dengan mematuk dan mencakar. Jika ia tidak lekas melepas cengkeramannya, kematian akan tiba padanya.

Di sisi lainnya, ibarat seseorang membawa obor rumput menyala, berjalan melawan arah angin. Jika ia tidak lantas melepaskan genggamannya, api dari obor rumput, yang terembus oleh angin kencang, akan membakar tangannya.

Demikian pula kesenangan-kesenangan indriawi sepatutnya dilihat, sebagai yang banyak membawa penderitaan dan keputusasaan (M i 364). Selain itu, berupaya penuh melihat ketidakindahan tubuh adalah sisi lain dalam meredam keberpuasan akan kesenangan indriawi (Peṭ 138).

Lebih lanjut, perkelanaan dalam ragam jenis kegandrungan, juga disebut sebagai tenggeran. Kesenangan indriawi adalah salah satu dasar kegandrungan. Akan tetapi, memungkinkan juga meskipun seseorang dianggap sebagai sudah menjauhi kesenangan indriawi, masih ada potensi tampak munculnya kegandrungan dari sisi lainnya, yakni yang bertaut pada pandangan kekekalan atau pandangan kemusnahan.

Pandangan kekekalan setidaknya didasari pada pandangan bahwa ada diri yang berkelana dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya (D i 14). Ada yang menganggap diri dan dunia sebagai sepenuhnya kekal, tetapi ada juga yang memandang sebagian hal saja yang kekal. Keseluruhannya muncul dari anggapan bahwa adanya inti atau substansi secara harfiah.

Sementara itu, pandangan kemusnahan dilandasi pandangan bahwa diri sebagai ada saat ini, kemudian musnah atau binasa setelah kematian (D i 34). Ini juga berlandaskan anggapan yang menyimpang, yakni menganggap diri sebagai benar-benar ada, kemudian menganggapnya sebagai benar-benar musnah.

Ketiga jenis kegandrungan, memungkinkan untuk timbul bertaut pada rupa yang dilihat, bunyi yang didengar, bau yang dihidu, rasa yang dikecap, objek sentuhan yang diraba, serta perihal-perihal yang dipikirkan. Baik dari gugusan bagian dalam pun bagian luar. Apakah yang dimengerti sebagai sudah lewat, belum tiba, atau baru tampak muncul.

Bersebab itulah kita semestinya menyelami segala fenomena tersebut sebagai bukan diri. Mengerti bukan diri, berarti mengerti sebagai yang hampa, kosong, yang tidak memiliki inti (Ps ii 242). Dalam sisi lain, pemahaman ketidakkekalan pun patut dikembangkan. Memahami sebagai tidak kekal, berarti terbebaskan dari anggapan sebagai gambaran (Ps ii 61). Mencakup juga, memahami ciri yang disebut dukkha, yakni ciri menekan, terhimpun, membakar, serta sukar bertahan (Ps i 19).

Apakah yang Dimaksud Keluar dari Rajutan Penderitaan?

Kegandrungan–dipahamisebagai ketampakmunculan penderitaan–diumpamakan merajut perbuatan dengan alam-alam kehidupan. Atau, dipahami sebagai menenun karma bersamaan dengan buahnya. Demikianlah penderitaan yang tampak muncul diumpamakan seperti tenunan atau rajutan (vāna), keluar darinya, dinamakan nirwana (MA ii 175). Inilah makna keluar dari rajutan penderitaan.

Daftar Rujukan:

Rujukan Utama:

Barua, A. (Ed.). (1949). The Peṭakopadesa. Colombo: The Ceylon Daily News Press.
Davids, T. R., & Carpenter, J. (Eds.). (1975). The Dīgha Nikāya (Vol. I). London: The Pali Text Society.
Taylor, A. C. (Ed.). (1905). Paṭisambhidāmagga (Vol. I). London: Oxford University Press.
Taylor, A. C. (Ed.). (1907). Paṭisambhidāmagga (Vol. II). London: The Pali Text Society.
Trenckner, V. (Ed.). (1979). Majjhima-Nikāya (Vol. I). London: The Pali Text Society.

Rujukan Pengulas:

Buddhaghosācariya. (1979). Papañcasūdanī Majjhimanikāyaṭṭhakathā of Buddhaghosācariya: Suttas 11–50 (Vol. II). (J. Woods, & D. Kosambi, Eds.) London: The Pali Text Society.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

pile of scarecrow
Apakah itu tenggeran? Bagaimana caranya mewaspadai tenggeran? Apakah yang dimaksud dengan keluar dari rajutan penderitaan? Apakah hubungannya mewaspadai tenggeran dengan keluar dari rajutan penderitaan?
brown and green round area rug
Apakah yang dimaksud dengan keramat? Bagaimana cara menuju keramat?

Tulisan Terkait