Top 10 Penulis

Nasehat Seorang Peramal yang Menuai Penyesalan

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

person holding brown wooden box
Photo by Shreyas shah

Zaman dahulu hiduplah seorang peramal yang sangat tersohor di suatu negeri. Setiap orang yang ingin diramal akan berbondong-bondong menunggu antrean. Antrean akan dimulai dini hari sampai sore hari.

Para pengunjung akan dipersilahkan masuk dan menerima lamaran tentang apa saja yang ditanyakan. Hasil ramalannya selalu jitu melesat tepat sasaran. 

Orang-orang yang sudah diramal dan merasakan kebenaran hasil tersebut akan bergembira dan puas. Mereka akan menyampaikan berita tersebut kepada saudara dan teman mereka. Alhasil, si peramal menjadi sibuk dan menuai banyak uang sebagai bayaran pelayanan jasanya.

Rerata para pengunjung umumnya bertanya tentang jaminan usia tua, kesehatan, batas usia, kepemilikan harta dan orang yang disayangi dan bagaimana mereka akan lahir di kehidupan berikutnya. Ini menjadi suatu dilema bagi mereka. Semua yang datang adalah mereka yang berusia 50 tahun keatas. 

Mereka sudah tidak muda lagi dan telah menghabiskan dua masa dalam satu kehidupan. Inilah saatnya bagi mereka untuk datang kepada peramal kondang tersebut.

Tidak ada pikiran bagi mereka untuk datang ke peramal pada saat mereka masih muda. Saat diberkati oleh usia yang matang, kuat, sehat, rupawan, energetik dan memiliki indra yang tajam. 

Mereka berpikir bahwa mereka akan hidup sampai tua dan menikmati semua kenikmatan indra selagi masih muda. Makanya ketika mereka memasuki tahap ketiga usia kehidupan, mereka menjadi gelisah. 

Ketika mereka masih muda, mereka umumnya bangga terhadap fisik mereka. Mereka menjadi melekat akan kesehatan mereka yang prima. Tidak pernah terbesit dalam pikiran bahwa mereka akan mengalami sakit yang parah. Mereka menjadi lalai dalam perbuatan baik dan lengah pada perbuatan buruk.

Ketika masih muda, mereka tidak pernah berpikir akan mengalami usia tua atau tidak akan segera menjadi tua dan lemah. Karena mabuk akan kemudaan mereka, mereka menjadi lalai dalam perbuatan baik dan banyak melakukan perbuatan buruk.

Belum lagi mereka tidak pernah berpikir bahwa mereka akan mengalami kematian. Kematian seolah-olah masih jauh di hadapan mereka. Selagi masih muda, mereka mabuk akan kehidupan. Menjadi lalai dalam perbuatan baik dan lengah pada perbuatan buruk.

Apalagi mereka tidak pernah berpikir tentang perpisahan terhadap apa atau siapa pun yang disukai dan disayangi. Ketika mereka bernafsu terhadap apa dan siapa yang disukai dan disayangi, mereka melakukan banyak perbuatan buruk dan menghindari perbuatan baik.

Terlebih lagi mereka tidak pernah berpikir bahwa apapun yang telah mereka lakukan apakah baik atau buruk, itulah yang akan menjadi milik, sebagai pewaris dan pelindung satu-satunya yang dapat diandalkan ketika mereka meninggal. Karena mereka tidak berpikir demikian maka perbuatan buruk menjadi sering dilakukan.

Saat mereka mengunjungi peramal dan bertanya tentang hal-hal tersebut, mereka menjadi terkejut bahwa sebenarnya mereka telah lalai ketika mereka masih muda dan kuat. 

Mereka menjadi menyesal mengapa banyak waktu terbuang sia-sia ketika mereka masih muda. Kini mereka sudah tua dan lemah, sulit melakukan segala bentuk kebaikan. 

Peramal tersebut mengatakan bahwa dia sendiri dan semua manusia juga akan mengalami kelima hal tersebut makanya dia berusaha banyak berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan dalam hal perbuatan jasmani, ucapan dan pikiran. 

Dia mengatakan bahwa dia akan berhenti secepatnya untuk mencari nafkah dari meramal nasib. Berita tersebut melebar dan menyebar dengan cepat bagaikan banjir besar menghabisi seluruh desa pemukiman.

Saat itu dia selalu menasihati para pengunjung untuk selalu merenungkan kelima hal tersebut yang pasti akan dialami semua orang. 

Tidak lupa juga dia memberi nasihat untuk mereka agar selalu berbuat baik dan bermanfaat bagi diri mereka dan orang lain. 

Dan tibalah saatnya dia berhenti sebagai peramal dan pergi seorang diri masuk ke hutan menjadi seorang petapa. Kala itu dia sangat disegani dan dihormati oleh penduduk setempat dan dikenal sebagai seorang petapa yang bijaksana.

****

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

Hand with red nails showing four fingers
Rasa kecewa sebenarnya merupakan perasaan yang wajar dan pasti akan terjadi karena memang semuanya bukan milik kita dan tidak ada “aku” atau “tuan” yang sebenarnya.

Tulisan Terkait