Hidup itu seperti mendayung perahu di lautan luas. Terkadang laut tenang dan semilir angin bersenandung, terkadang ombak besar pecah menerjang. Begitulah kisah hidup kebanyakan orang.
Hanya bagaimana cara kita mendayung, seberapa terampilkah kita menghadapi ombak-ombak yang datang? Selain belajar dari apa yang kita alami sendiri, ada baiknya kita juga berkaca dari pengalaman orang lain.
Kisah ini mungkin dapat juga kita ambil sebagai inspirasi.
Sebutlah ia Koko, selesai kuliah Koko menikah dan memiliki empat orang anak. Mempunyai keluarga yang solid, saling mendukung. Awalnya kehidupan Koko cukup baik, memulai karir dengan bekerja di sebuah perusahaan Farmasi. Selanjutnya ia memutuskan untuk ber wira-usaha. Dibantu Sosoh, istri yang merangkap sebagai sekretaris, sopir dan segalanya. Sosoh wanita yang lembut namun tangguh, cerdas dan cekatan.
Saat usaha nya mulai berkembang, ia berkongsi dengan seorang teman. Mulai timbul masalah, tertipu di sana-sini. Koko masih bisa bertahan dengan usahanya yang jatuh bangun, silih berganti. Inilah hidup, ketidakkekalan pikirnya.
Satu ketika badai besar datang, usahanya tertipu habis-habisan. Hutang Koko bertumpuk dimana-mana. Belasan kartu kredit macet tidak mampu dibayar. Saat itu, Sosoh sudah berhitung. Jika seluruh aset dijual pun, mereka tidak akan mampu untuk membayar seluruh hutang-hutangnya di Bank. Pikiran mulai kusut, bagaimana dengan tiga anak yang masih kuliah dan satu dengan Cerebral Palsy, berkebutuhan khusus.
Koko menyesali kebodohan dan kelalaiannya. Kecewa, kesal, geram, benci pada si penipu. Setiap hari itu dan itu saja yang ada di pikirannya. Dengan stres yang maha dasyat ini, Koko tumbang. Ia terkena serangan jantung. Untuk biaya berobat pun tidak ada cukup dana. Semua terasa buntu, seolah semua pintu tertutup. “What you resist persist”.
Bagi sebagian orang yang putus asa, mengambil jalan pintas dan lari dari kenyataan. Mengemplang untuk menutupi kebangkrutannya atau bunuh diri. Seperti lari di atas treadmill, berusaha berlari sekuat tenaga, namun semua sia-sia. Begitu berat ombak yang harus dilalui. Sangat sulit daya pantul dari kejatuhan. Seberapa kuat kita untuk bangkit kembali ?
Bersyukur Koko dapat melewati masa kritisnya, selamat dari serangan jantung. Setelah ring terpasang, kondisi koko cukup stabil. Saya coba merayunya untuk ikut retret meditasi. Kebetulan anak pertamanya sudah pernah ikut retret dan sangat mendukung agar papanya mau ikut latihan meditasi. Kita tahu, tidak semua orang berhasil diajak memasuki wilayah-wilayah keindahan.
Untuk masuk kelas retret meditasi pun bukanlah hal yang ringan dan mudah untuk dijalani. Tiga hari pertama adalah hari yang amat berat untuk dilalui, untunglah Koko dan Sosoh dapat menyelesaikan retretnya. Mereka amat bersyukur bisa menjalani latihan meditasi yang begitu intensif dan amat sangat merasakan manfaatnya. Dengan hati yang bersyukur semua jadi berkah.
Bukan berarti masalah beres atau selesai dengan sendirinya. Meditasi hanya memiliki satu tugas maha utama yakni terus menerus memperkuat energi kesadaran. Persisnya memperkuat energi kesadaran penuh (mindfulness). Praktik kesadaran disebut penuh dan utuh, jika seseorang dapat menerima dukacita dan sukacita sebagai tarian kehidupan yang sama.
Koko mempunyai Kamma Sadha, keyakinan tentang kamma. Dapat melihat realitas, juga mampu berpikir jernih dan bijaksana. Memahami bahwa semua yang terjadi tidak ada yang kebetulan. Semua adalah hutang karma masa lalu yang harus mereka terima dan hadapi.
Sebelum meditasi, pikiran serupa sungai dengan banjir besar. Semuanya diterjang, semuanya ditendang, semuanya dihanyutkan. Dengan terus berlatih, seseorang kemudian belajar berenang ke pinggir sungai. Sehingga ia dapat menyaksikan setiap gerakan dari aliran tersebut.
Koko bertekad kuat untuk melunasi hutang-hutang nya di Bank dengan cara yang jujur. Agar tidak lagi membuat hutang karma di kehidupan selanjutnya. Tidak juga terus berpikir dan berharap uang yang raib dapat kembali lagi. Ikhlas rela, menerima sebagai buah karma masa lalu dan kelalaiannya
Pikiran tentang orang yang telah menipunya, pelan-pelan pudar. Alhasil perasaan kecewa, marah ataupun benci sirna. Tiada guna terus menyimpannya dalam Bank penderitaan. Tanpa kemarahan, kehidupan berubah wajah menjadi taman kedamaian.
Apapun yang mereka lakukan, itu adalah karma mereka. Tetapi respon kita, itu akan menjadi karma kita. Keikhlasan adalah sejenis “tenaga dalam” yang bisa membuat manusia menjadi demikian perkasa.
Membagun afirmasi positif, mengikis kebencian. Sejak saat itu mereka dapat bekerja dengan pikiran yang damai. Ketika manusia berusaha, seluruh semesta berkonspirasi memberikan bantuan. Dengan Vibrasi positif dari pikiran dan tekad baik mereka. Usaha Koko menjadi sangat lancar. Bahkan banyak rejeki-rejeki yang tak terduga bermunculan datang menghampiri.
Great heart, great will, be a greeting maha karuna
Kadang, secara logika agak sulit terjawab. Berapa lama Koko dapat bangkit dari keterpurukannya ? Tiada hasil menghianati usaha, nyatanya semua telah terlampaui dengan baik. Anak-anak telah lulus dengan hasil yang sangat gemilang. Koko dan Sosoh masih sehat. Menjalankan roda usahanya dengan santai sembari bermain dengan cucu mungil nan cantik.
Dulu banyak yang percaya, sukses membuat orang bahagia. Sekarang banyak orang yang menyadari bahwa kebahagiaan adalah sumber kesuksesan.
Sekecil apa pun lilin, usahakan untuk menyalakannya di tempat yang tidak terkena angin sesering mungkin. Dan tempat itu adalah Keluarga. Keluarga yang saling mengasihi menjadi faktor utama sehingga Koko bersemangat untuk bangkit.Top of FormBottom of Form
Setiap orang pasti pernah gagal, tidak ada orang yang selalu berhasil. Yang siap menghadapi keduanya, sebenarnyalah yang telah berhasil.
**
Selamat ulang tahun Koko, 09/09/2022. Be Happy …
Let this be your last wound. Keep on Dhamma Path
**
Jakarta, 9 September 2022

















