Top 10 Penulis

Ajahn Brahm: “Orang yang Paling Baik…”

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Monks in orange robes conduct a religious ceremony around a golden Buddha statue outdoors.
Photo by VICHEA SAM

Lebih dari belasan tahun lalu, tepatnya tahun 2014 sekitar bulan Maret, kami sekeluarga berlibur ke Bandung. Setelah makan siang, ketika menelusuri jalan di kota Bandung, di sekitar ITB, ada poster ada acara dengan pembicara Ajahn Brahm.

Karena memang tidak ada acara kami berlima akhirnya memutuskan untuk hadir, mobil langsung dibelokkan masuk ke Gedung Sabuga, menyelesaikan urusan administrasi dan masuk ke ruangan.

Ruangan cukup besar, seingat saya berbentuk lingkaran, kami duduk di sisi kanan, agak tinggi. Panggung jelas terlihat. 

Acara dimulai, singkatnya Ajahn Brahm mendapat sebuah pertanyaan: “Siapa orang yang paling baik menurut Ajahn Brahm?”

Dalam hati saya, pasti akan menjawab ibu beliau. Karena beberapa waktu lalu beliau pernah bercerita belum lama pulang kampung, ke Inggris untuk menemui ibunya.

Ternyata dugaan saya salah, beliau menjawab: “Orang yang paling baik adalah Sang Buddha”.

***

Seorang ibu pasti mengharapkan anak sukses dan bahagia, tapi belum tentu orang lain. Tetapi Sang Buddha bukan hanya mengharapkan semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan dan beliau mengajarkan cara untuk mencapai kebahagiaan sejati.

Ketika murid-murid beliau mencapai 60 orang yang semuanya sudah mencapai tingkat kesucian Arahat, beliau meminta semua muridnya untuk menyebar, ke segala arah, tidak boleh satu arah dua orang. Mengapa tidak boleh berdua di satu arah, supaya penyebarannya benar-benar mencakup daerah yang luas. 

“Pergilah, wahai para Bhikkhu, berjalanlah untuk kesejahteraan dan kebahagiaan banyak orang, demi cinta kasih kepada dunia, untuk kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia. Janganlah dua orang pergi menuju arah yang sama. Ajarkanlah Dhamma yang indah di awal, indah di tengah, dan indah di akhir.” 

Sang Buddha mengajarkan ajarannya untuk: kesejahteraan dan kebahagiaan banyak orang demi cinta kasih kepada dunia, untuk kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia.

Sang Buddha dan para anggota Sangha sejak awal mengajarkan mengajarkan ajarannya dengan tujuan yang jelas demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia.

***

Ketika Pangeran Siddharta lahir, yang merupakan kelahirannya terakhir yang akan mencapai Sammāsambuddha, bukanlah kelahiran biasa. Karena untuk mencapai Sammāsambuddha perlu tekad yang sangat kuat, perjuangan yang sangat-sangat panjang, untuk dapat menjadi seorang Sammāsambuddha.

Sammāsambuddha adalah seorang Buddha yang mencapai penerangan sempurna dengan usahanya sendiri, tanpa bantuan guru, dan kemudian mampu mengajarkan jalan yang ditemukan-Nya kepada makhluk lain.

Usaha untuk mencapai pencerahan tanpa guru butuh waktu yang sangat panjang, triliun-triliun kehidupan yang harus dilewati, selama kehidupan itu tak terhingga nyawa dikorbankan, demi tercapainya cita-cita demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia.

***

Kisah ini dimulai 4 Asankheyya kappa + 100.000 kappa yang lampau sebelum kelahiran Pangeran Sidharta. Jika dihitung dalam tahun, lama dari 4 Asankheyya kappa + 100.000 kappa adalah 1 diikuti lebih dari 140 nol dibelakangnya. Waktu yang sangat-sangat lama.

Saat itu beliau lahir dengan nama Sumedha yang menjadi seorang petapa. Sumedha sebenarnya adalah keluarga Brahmana yang kaya, setelah orang tuanya wafat, beliau melepaskan semua warisannya dan menjadi petapa. 

Ketika menjadi petapa, beliau sudah mencapai 4 rupa jhana dan 4 arupa jhana dan juga memiliki kekuatan batin (abhiññā) termasuk terbang di angkasa. Saat terbang di angkasa melintasi kota Rammavati, beliau melihat para penduduk sibuk memperbaiki & mempersiapkan jalan yang akan dilalui oleh Buddha Dipankara. 

Begitu mendengar kata “Buddha” beliau merasa bersuka-cita dan turut membantu penduduk memperbaiki dan mempersiapkan jalan. Sayangnya ketika Buddha Dipankara tiba, pekerjaan belum selesai, masih ada lumpur.

Petapa Sumedha lalu menutupi lumur dengan dirinya dan bertekad akan menjadi Sammāsambuddha, Buddha Dipankara mengatakan cita-citanya menjadi Sammāsambuddha akan tercapai.

Dalam Buddhavaṃsa dijelaskan untuk mencapai Sammāsambuddha, ada kondisi yang harus dipenuhi: seorang manusia/pria (manussatta/liṅgasampatti), tekad harus diucapkan di hadapan seorang Buddha (satthāradassana), memiliki kemampuan mencapai Arahat pada kehidupan itu (hetu), hidup sebagai petapa pada saat tekad (pabbajjā), memiliki pencapaian batin (guṇasampatti), akan berjuang menjadi Buddha tanpa memperdulikan hidupnya sendiri (adhikāra), memiliki tekad yang kuat menjadi Buddha walaupun menderita (chandatā).

Sejak saat itu Petapa Sumedha berjuang menjadi Buddha tanpa memperdulikan hidupnya sendiri walaupun menderita. Kisah pengorbanan beliau diceritakan dalam Jataka, bukan berkali-kali mengorbankan tubuh dan jiwanya demi menolong makhluk lain.

Setelah perjuangan yang sangat panjang, demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia, akhirnya beliau menyempurnakan 10 pāramī yang terdiri dari dāna (kedermawanan), sīla (moralitas), nekkhamma (pelepasan keduniawian), paññā (kebijaksanaan), viriya (usaha), khanti (kesabaran), sacca (kebenaran), adhiṭṭhāna (tekad kuat), mettā (cinta kasih), upekkhā (keseimbangan batin), terlahir sebagai Pangeran Siddharta saat bulan purnama pada bulan Waisak.

Perjuangannya masih belum berakhir, setelah berjuang terakhir kalinya selama enam tahun sengsara, demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia akhirnya beliau mencapai pencerahan sempurna, menjadi Sammāsambuddha yang akan mengajarkan ajarannya, tepat saat bulan purnama pada bulan Waisak pada usia tiga puluh lima tahun.

Setelah 45 tahun mengajar ke berbagai penjuru dan alam kehidupan, demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia akhirnya beliau mangkat, mencapai parinibbāna, tepat saat bulan purnama pada bulan Waisak.

***

Sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia,
sungguh sulit kehidupan manusia,
sungguh sulit untuk dapat mendengarkan Ajaran Benar,
begitu pula, sungguh sulit munculnya seorang Buddha.
Dhammapada 182

Lahir sebagai manusia merupakan sebuah keberuntungan, mengenal Dhamma merupakan keberuntungan luar biasa. Apalagi merenungkan bagaimana sulitnya, pengorbanan yang luar biasa, perjuangan yang sangat lama untuk mencapai Sammāsambuddha, keberuntungan ini menjadi lebih berharga, sulit menemukan kalimat untuk menggambarkan keberuntungan ini.

Sang Buddha melakukan semua ini demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia, tidak mungkin dapat membalas kebaikan beliau, satu-satunya cara untuk menunjukkan rasa terima kasih adalah dengan menjalankan dan mempraktekan apa yang telah beliau ajarkan dengan tekad dan semangat yang tidak kenal lelah.

Selamat Waisak 2570BE (31 Mei 2026)

Semoga Semua Makhluk Berbahagia

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

Setiap sesi, bisa ada jeda istirahat, tetapi kalau terlalu lama maka waktu yang tersisa untuk tidur akan habis, sehingga setiap peserta berusaha untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Setelah dikurangi waktu makan (saya hanya satu kali makan) dan mandi, umumnya peserta tidur hanya 2 atau 3 jam saja.
silhouette photo of Buddha statue
Apa pun yang dikenali oleh pikiran sebenarnya adalah hasil dari proses persepsi yang dibentuk oleh pengalaman. Karena persepsi sering kali terdistorsi oleh nafsu, kebencian, dan kebodohan, maka apa yang dikenali belum tentu sesuai dengan kenyataan.

Tulisan Terkait