Top 10 Penulis

Padam, Tidak Dapat Ditunjuk

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

man performing fire dance

Ada atau Tidak Ada?

Sang Begawan secara umum tidak akan menjawab ketika ditanya mengenai keberadaan atau ketidakberadaan Tathāgata setelah mangkat. Bersebab, pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul dari pandangan keliru yang tidak menunjang berlangsungnya kehidupan luhur (M i 427–431).

Jika Tathāgata dijuluki sebagai ada setelah mangkat, riskan untuk munculnya pandangan kekekalan, yang dalam Pāḷi disebut bhavadiṭṭhi atau sassatadiṭṭhi. Sebaliknya, kalau Tathāgata dinyatakan sebagai tidak ada setelah mangkat, muncul pandangan kemusnahan, yang dinamakan vibhavadiṭṭhi atau ucchedadiṭṭhi. Keduanya adalah pandangan ekstrem yang tidak membawa kepada manfaat tertinggi.

Apakah yang Padam?

Akan tetapi, dalam uraian Empat Kebenaran Arya, dikatakan bahwa kepadaman dukkha adalah seyogianya diwujudkan (S v 422). Lantas, apakah yang sesungguhnya padam di sana? Secara ringkas bisa disebutkan bahwa yang dinyatakan sebagai padam adalah keserakahan, kejengkelan, serta kesesatan (S iv 360).

Dalam sudut pandang lain, disebut juga sebagai padam dari segala perihal batiniah yang mengotori, mencemar, menghanyutkan, membuat gerah, atau apa pun julukannya yang mengacu kepada segala macam buaian karena menggenggam yang bukan pengetahuan, sehingga tidak sesuai dengan kenyataan. Kekeliruan inilah yang dipahami sebagai padam dan memang semestinya dipadamkan (S v 422).

Mengapa Tidak Bisa Ditunjuk?

Bisa dibayangkan sebuah kobaran api yang padam terhempaskan tiupan angin, tidak bisa ditunjuk apakah ke utara, selatan, timur, atau barat (SnA ii 594). Demikianlah Tathāgata beserta para arahanta tidak bisa ditunjuk secara harfiah, bahkan saat masih hidup (S iii 112). Mengapa demikian?

Kelima gugusan yang menjadi tempat munculnya kemelekatan memiliki ciri tidak kekal, sukar bertahan, dan bukan diri. Pemahaman akan hal tersebut membawa kepada terwujudnya kepadaman dukkha.

Seseorang yang memahami prinsip ini, tidak akan melihat Tathāgata sebagai kelima gugusan; tidak juga melihat-Nya di dalam kelima gugusan; tidak juga melihat-Nya terpisah dari kelima gugusan; tidak juga melihat-Nya sebagai pemilik kelima gugusan; tetapi tidak juga melihat-Nya tanpa kelima gugusan (S iii 111–112). Inilah alasannya para suciwan tidak bisa ditunjuk, bahkan sebelum menghadapi kematian.

Daftar Rujukan:

Rujukan Utama:

Andersen, D., & Smith, H. (Eds.). (1913). Sutta-Nipāta. Oxford: Oxford University Press.
Feer, M. L. (Ed.). (1975). Saṃyutta-Nikāya: Khandha-Vagga (Vol. III). London: The Pali Text Society.
Feer, M. L. (Ed.). (1976). Saṃyutta-Nikāya: Mahā-Vagga (Vol. V). London: The Pali Text Society.
Feer, M. L. (Ed.). (1990). Saṃyutta-Nikāya: Saḷāyatana-Vagga (Vol. IV). Oxford: Pali Text Society.
Trenckner, V. (Ed.). (1979). Majjhima-Nikāya (Vol. I). London: The Pali Text Society.

Rujukan Pengulas:

Buddhaghosa. (n.d.). Sutta-Nipāta Commentary being Paramatthajotikā II (Vol. II). London: Luzac & Company, Ltd.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

pile of scarecrow
Apakah itu tenggeran? Bagaimana caranya mewaspadai tenggeran? Apakah yang dimaksud dengan keluar dari rajutan penderitaan? Apakah hubungannya mewaspadai tenggeran dengan keluar dari rajutan penderitaan?
brown and green round area rug
Apakah yang dimaksud dengan keramat? Bagaimana cara menuju keramat?

Tulisan Terkait