CERMINDIRI–Sudahkah Anda omong kosong hari ini?
Apakah sudah ada rencana?
Adakah yang memungkiri bahwa dunia adalah panggung omong kosong?
Dahulu melalui tokoh Jaques dalam karyanya berjudul As You Like It William Shakespeare mengatakan bahwa dunia ini panggung sandiwara.
Apakah omong kosong bagian dari sandiwara? Anggap saja demikian.
Oleh sebab itu manusia hidup dalam omong kosong pun tak perlu merasa bersalah. Semua hanya sandiwara. Yang hidup tidak mengikuti omong kosong malah dianggap ibarat tokoh antagonis. Yang harus dimusuhi.
Jadi, omong kosong ada di mana-mana. Karena orang-orang takut dianggap berbeda dan menjadi musuh bersama.
Tak heran omong kosong yang ada pun mendapat penerimaan. Ini semacam kebersamaan hidup dalam omong kosong.
Misalnya seorang murid dengan seragam lusuh yang mungkin lupa disetrika datang terlambat ke sekolah dengan santai.
Ketika ditanya kenapa terlambat?
Dengan ekspresi setenang mungkin si murid akan menjawab, “Parah macetnya, Pak. Habis hujan banyak genangan air. Jadi, angkotnya mutar-mutar”
Alasan yang sepertinya bisa mendapat toleransi. Karena semua orang tahu jalanan macet. Apalagi di Jakarta dan sekitarnya.
Padahal keterlambatan karena bangun kesiangan. Tersebab malamnya keasyikan main gim daring sampai tengah malam. Terlambat bangun. Macet jadi alasan sakti. Ternyata sukses.
Pak guru juga tak hendak banyak cakap atau mempertanyakan alasan si murid i yang tak pernah berubah. Mungkin pak guru sudah paham karena ia pernah melakukan hal yang sama.
Bisa jadi sekarang zaman semua sepakat bahwa kemacetan adalah biang kerok keterlambatan. Bukan hanya anak-anak sekolah, tetapi juga bagi para pekerja.
Sebagai contoh dalam keseharian bukankah ada terjadi seperti ini?
“Kenapa terlambat kamu?” tanya atasan.
Pura-pura dengan wajah memelas si pekerja menjawab, “Aduh, Pak. Jalanan macet banget. Padahal pagi-pagi saya udah berangkat.”
“Kamu kan bawa motor, kok masih bisa kena macet.” Sang atasan masih berusaha menyelidiki.
“Biasa Senin, Pak. Macetnya padat. Jangankan motor, orang yang jalan kaki aja sudah lewat.” Si pekerja pun berusaha meyakinkan.
Kenyataannya semalam keasyikan berbalas pesan dengan cewek yang baru dikenalnya di media sosial. Kayak pengalaman sendiri saja.
Terlambat. Katakan macet. Akan hadir anggukan kepala atau paling sedikit tanya. Entah takpercaya atau sekadar basa-basi. Solusi atas segala kemacetan adalah terlambat sepertinya sudah menjadi gaya hidup.
Entah sudah berapa banyak petisi dan orasi soal kemacetan di ibu kota negara. Namun, sampai hari ini kemacetan tak pernah reda. Kemacetan tetap menjadi bahan omong kosong semata.
Pada musim kampanye akan bermunculan pula panggung omong kosong. Tatkala matahari sudah mulai sedikit meninggi terdengar inggar binggar suara massa di depan panggung. Suara musik dangdut dengan irama asyik membuat massa bergoyang.
Kemudian akan tampil sosok gagah dengan kacamata hitam sebagai penunjang penampilan agar tampak berwibawa. Di sekitar panggung.akan dipenuhi baliho dan poster tokoh yang sedang berorasi.
“Pilihlah saya, maka saya akan perjuangkan kepentingan kalian. Kalau saya terpilih sebagai wakil rakyat, maka saya akan berjuang untuk rakyat. Kalian sebagai rakyat harus hidup senang dan tenang. Itu akan kalian peroleh kalau saya menang.”
Suara di panggung menggelegar. Riuh suara massa ikut menggelegar. Mungkin sebelumnya sudah melalap nasi bungkus yang telah disediakan panitia. Kurang lebih seperti demikian kejadiannya.
Lalu massa di bawa panggung akan meneriakkan nama si tokoh itu.
Seperti ada koordinasi suara yang sedemikian rapi. Tampak ada sosok yang berkeliling membagikan amplop putih. Entah apa isinya. Sementara ketika si tokoh turun panggung lantas membuang secarik kertas yang berisi kata-kata untuk dihafal saat berorasi.
Di panggung lain di gang sempit seorang penagih utang mengetuk pintu berkali-kali. Sekian lama takada yang menampakkan batang hidung. Sementara yang punya rumah berusaha menyembunyikan diri.
“Bilang Ibu gak ada. Bilang aja lagi pergi arisan.”
Kira-kira demikian pesan yang ada umumnya.
Tanpa sadar sebagai orangtua pun mengajarkan omong kosong pada anak-anaknya. Tak heran menjadi warisan pula omong kosong ini dalam panggung kehidupan.
Di media sosial bertebaran kata-kata bijak bak seorang mahaguru yang mengatakan. Nasihat-nasihat baik bertebaran pula. Ajak-ajakan untuk berbuat kebaikan menghiasi status. Kata-kata motivasi dahsyat pun layaknya seorang motivator.
Penulis bijak nan religius itu menulis:
“Berbuat baiklah, maka pahala akan melimpah.”
“Bersabarlah terhadap segala masalah dan persoalan hidup, maka kemenangan dan keridaan akan menyertai.”
“Berusahalah, jangan berhenti langkah sampai tujuan telah di depan mata.”
Takada yang salah dengan semua kata yang terpampang. Sungguh menginspirasi para pembaca. Tentu membawa berkah pula.
Sayang semua itu omong kosong. Kata-kata bijak tak serupa dengan perilakunya. Semua hanya kata-kata indah kutipan entah dari mana yang jadi hafalan saja.
Karena tersiar kabar sang guru nan bijak merangkap motivator itu terlibat melakukan hal yang memalukan. Tak sesuai dengan kata-kata bijaknya.
Selain itu banyak pula kata-kata caci-maki yang keluar semudah membuang ludah. Segala macam nama binatang keluar dari kandangnya.
“Dasar babi lu!”
Dibalas,”Lu bapaknya babi!”
Perang kata penuh nyali. Bikin risih dan ngeri.
Menghina di sana-sini. Bahkan kepala negara pun tak ragu dihina.
Ada yang berujar,”Presiden gak benar. Turunkan.”
“Presiden gak bisa apa-apa, takada prestasi.” Seakan dirinya paling pintar dan berprestasi seluruh negeri.
Ketika polisi bertindak. Penjara sudah menanti. Mereka yang tadinya beringas jadi sesak napas di layar kaca sambil terisak meminta maaf dan ampun. Air mata mengalir tiada tertampung.
Artinya semua keberanian dan nyali yang hadir di media sosial selama ini sekadar omong kosong belaka. Akal sehat entah di mana.
Ada pula pedagang yang mempermainkan harga dan timbangan. Sebelum membuka toko sudah bersembah sujud minta ampunan. Ketika berjualan malah mengurangi takaran.
Kalau ketahuan akan bilang khilaf. Bukan unsur kesengajaan. Minta maaf. Begitu mudah perkara selesai. Namun,. keuntungan sudah didapatkan.
Begitu gelapkah dunia ini dengan segala panggung omong kosong?
Dalam kegelapan sekalipun, pasti ada seberkas cahaya. Di atas panggung boleh ada.omong kosong. Di sela-sela kehidupan masih ada kejujuran.
Ada gambaran seperti ini dalam kehidupan. Di antara kegelapan malam dua bocah berlarian mencari tempat berteduh di bawah jalan layang karena kehujanan.
Sebelum itu salah satunya menemukan sesuatu yang terjatuh dari pengendara motor di persimpangan jalan ketika lampu merah sedang menyala.
Tanpa pikir panjang bocah itu mengembalikan kepada pemiliknya. Saat itu si pemilik malah curiga. Kenapa si bocah memberikan sesuatu padanya.
Sesaat lampu hijau menyala ia baru sadar ketika melihat sesuatu itu adalah dompet miliknya.
Ia hanya bisa melihat si bocah berlarian sementara bunyi klason di belakang saling bersautan.
“Kenapa kamu kembalikan dompet itu? Kamu yang menemukan itu sudah rezekimu.” Temannya mengingatkan masih dengan napas terengah-engah.
“Tidak. Itu bukan milikku. Bukan rezekiku. Rezeki itu mesti halal dari usaha.” Si bocah jujur yakin dengan apa yang ia lakukan.
“Mbahku selalu berpesan jangan mengambil sesuatu yang bukan milikmu. Walaupun kamu tidak punya apa-apa. Aku selalu ingat itu.”
Inilah dunia. Si bocah yang hanya bisa berteduh di bawah jalan layang masih merasa malu mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Sementara itu mereka yang sudah berkelimpahan uang tanpa malu-malu mencuri uang rakyatnya.
Mereka yang mengerti ilmu agama dan berpendidikan pamer omong kosong di media sosial, sementara bocah-bocah yang masih menjaga kejujuran tersembunyi dari kehidupan. Jadi berita hanya ketika ada yang mati kelaparan.

















