Top 10 Penulis

Parenting Tip: Ajarkan Anak Agar Jangan Terbiasa Berasumsi Terlalu Cepat dan Asal Berucap

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Close-Up Photo of a Child Solving a Rubik's Cube
Photo by MART PRODUCTION

“If you are able to talk about your life and the joys and sorrows you have experienced, if you know your story, you are much more likely to be a skillful parent.”

“Jika Anda mampu berbicara tentang hidup Anda serta suka dan duka yang Anda alami, jika Anda memahami kisah Anda, kemungkinan besar Anda akan menjadi orang tua yang terampil.”

~ Desmond Tutu ~

Sejak anak-anak kecil, kami selalu mencoba memasukkan pelajaran-pelajaran kehidupan melalui berbagai kejadian sehari-hari. Tentu saja teknik penyampaiannya seringkali kami lakukan tidak secara tradisional dengan menjejali anak-anak dengan berbagai nasihat secara satu arah.

Salah satu teknik yang cukup sering kami gunakan dalam menumbuhkembangkan anak adalah pembelajaran melalui pengalaman langsung (experiential learning), dengan cara menghubungkan kejadian sehari-hari, yang meskipun terlihat sederhana, namun seringkali mengandung pelajaran hidup yang dalam dan berharga.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “ASUMSI” diartikan sebagai: (1) Dugaan yang diterima sebagai dasar, atau (2) Landasan berpikir karena dianggap benar. Berarti asumsi belum terbukti kebenarannya. Asumsi bisa benar namun tidak tertutup kemungkinan salah. Terlalu cepat berasumsi dapat berakibat buruk.

Sewaktu berwisata se keluarga di kota Bangkok (Thailand) suatu ketika, kami lebih banyak menggunakan moda transportasi MRT (Mass Rapid Transportation) alias kereta api (KA) untuk menghindari kemacetan. Berbeda dengan MRT di Singapura, Hong Kong, atau KA di kota-kota besar lainnya yang banyak dinaiki oleh pekerja kantoran, kami hanya sekali bertemu pria berpakaian jas sewaktu naik MRT di Bangkok.

Anak kami yang paling kecil berucap secara spontan, “Koq pakai jas di dalam MRT” sambil melirik kepada seorang pria berjas di samping kami. Kami segera memberikan tanda kepada anak kami agar tidak berucap lebih lanjut. Lalu kami menasihati tidak hanya anak terkecil tetapi juga kepada kedua anak kami yang lain agar selalu menjaga ucapan. Agar tidak membiasakan diri asal berucap terutama yang negatif kepada orang lain.

Kami juga mengingatkan ketiga anak kami agar tidak mudah berasumsi bahwa pria berjas tersebut tidak mengerti bahasa Indonesia. Meskipun dia tidak terlihat seperti orang Indonesia, tidak lantas dia tidak mengerti bahasa Indonesia.

Kami kemudian membagikan satu kisah dari seorang teman yang pernah mengalami kejadian memalukan sewaktu naik MRT di Singapura. Teman tersebut dengan beberapa temannya berdiri di dalam MRT, berdekatan dengan seorang pria bule. Lalu teman kami tersebut asal berucap dalam bahasa Indonesia kepada teman-temannya, “Koq bulu-bulunya lebat sekali ya seperti monyet.” Tidak berapa lama, MRT berhenti di stasiun berikutnya. Pria bule yang dikomentari sebelumnya, sambil sedikit membungkuk meminta jalan untuk keluar dengan berkata halus dan sopan, “Permisi, monyet mau lewat.”

Teman saya tersebut langsung terdiam menahan malu tak terhingga. Beruntung pria bule tersebut meskipun ternyata mengerti bahasa Indonesia, tidak merespon dengan emosional sewaktu dikomentari secara negatif. Meskipun tidak terjadi insiden, namun kejadian itu membuat teman kami tersebut selanjutnya tidak pernah lagi asal berucap dan berasumsi terlalu cepat.

Ingatlah wahai orang tua, ajarkan anak agar jangan terbiasa asal berucap dan berasumsi terlalu cepat supaya terhindar dari akibat buruk yang tidak diinginkan. Berhati-hati dalam berasumsi dan berucap adalah tindakan bijaksana sebagai cerminan tingkat kedewasaan dan kematangan anak.

“Orang bisa berasumsi berdasarkan pengalaman, situasi, dan kondisi yang dihadapi, namun belum tentu benar. Terlalu cepat berasumsi dan bertindak berdasarkan asumsi tersebut bisa berakibat buruk. Orang tua harus mengajarkan anak agar jangan terlalu cepat berasumsi dan terbiasa langsung bertindak berdasarkan asumsinya. Hal ini untuk mencegah diri mendapatkan akibat buruk yang tidak diinginkan.”

(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

persons hand forming heart
Kisah berikut memberikan teladan bagi kita tentang seseorang yang mampu bertransformasi dari sebelumnya sebagai orang yang hanya mementingkan diri sendiri menjadi orang yang mau memperhatikan dan menolong orang lain.
a close-up of a hand
Pernahkah Anda kenal dengan orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan hidupnya benar-benar bahagia?

Tulisan Terkait