“Most parents would not worry too much about their children if they knew that children belong not to their parents but to life.”
“Kebanyakan orang tua tidak akan menjadi terlalu khawatir terhadap anak-anak mereka jika mereka memahami bahwa anak-anak bukanlah milik orang tua mereka tetapi milik kehidupan.”
~ Mokokoma Mokhonoana ~
Barangkali satu-satunya masa yang tanpa atau hanya sedikit memerlukan perjuangan dalam kehidupan kita adalah sewaktu berada dalam rahim ibu. Dengan berdiam diri saja kita bisa tumbuh sebagai janin. Saat proses persalinan, mulailah kita berjuang bersama-sama dengan ibu kita untuk kehidupan kita. Perjuangan merupakan ciri hakiki dari kemanusiaan. Seorang manusia belumlah lengkap kehidupannya tanpa perjuangan. Carilah di semua biografi orang sukses, takkan ada yang tidak melibatkan perjuangan keras bahkan sangat keras untuk bisa meraih kesuksesan.
Ketika orang tua mencoba menyingkirkan semua rintangan guna memuluskan perjalanan hidup anaknya, sesungguhnya orang tua menggali lubang kejatuhan anaknya sendiri. Jika anak memperoleh hasil secara mudah, atau langsung diberikan dan disediakan oleh orang tua tanpa perlu berjuang, anak akan terlena sehingga tidak terbiasa berjuang untuk kehidupannya. Padahal orang tua takkan mungkin mendampingi dan tersedia sepanjang waktu untuk anaknya.
Rumah dapat menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana anak tidak perlu berjuang. Anak yang selalu didukung dan dibantu oleh orang tuanya, tidak akan pernah belajar menghargai perjuangan. Anak seperti itu tidak akan pernah sungguh-sungguh bisa meninggalkan rumah untuk menjalani kehidupannya sendiri. Anak demikian akan kesulitan untuk hidup mandiri di luar rumah, jauh dari orang tua yang biasa mendukung dan membantunya.
Sangat sulit bagi anak seperti itu untuk meninggalkan rumah meskipun usianya sudah dewasa atau bahkan sudah menikah. Jikapun dia meninggalkan rumah secara fisik, dia tidak akan menjadi dewasa seutuhnya dan secara emosional tetap terikat ke rumah. Memang baik jika anak selalu ingat orang tua dan rutin menjenguk orang tua di rumah. Namun seiring bertumbuhnya kedewasaan, anak akan punya kehidupannya sendiri dan sebagian dari mereka akan memiliki keluarganya sendiri.
Kesan yang tampak di permukaan bisa menyesatkan, yakni anak terlihat baik karena selalu pulang ke rumah dibanding menempuh kehidupannya sendiri. Padahal jauh di lubuk hatinya, anak merasa kurang mampu menjalani kehidupannya tanpa dukungan dan bantuan orang tuanya, sebagaimana yang sudah biasa orang tua lakukan untuknya. Kondisi ini tentu memprihatinkan dan mengecewakan. Orang tua harus cukup peka untuk menyadari kenyataan tersebut. Yang terbaik adalah orang tua mengambil langkah-langkah pencegahan sejak awal sehingga hal buruk tersebut dapat dihindari.
Orang tua tidak perlu terlalu kuatir bahwa anaknya akan menderita apalagi hancur jika dilatih berjuang sejak kecil. Mulailah dari hal-hal kecil secara bertahap, misalnya merapikan sendiri lemari buku, lemari baju, tempat tidur, mengikat tali sepatu, mengambil alat makan dan meletakkan alat makan kotor, sampai kepada mengerjakan pekerjaan rumah (PR) sekolah yang sulit, menyeberang jalan, dan lain-lain. Perjuangan membuahkan kekuatan. Tanpa perjuangan, anak tidak akan memiliki kekuatan dalam mengarungi ombak kehidupan.
Ingatlah wahai orang tua, anak perlu dilatih sejak dini secara pas untuk berjuang. Orang tua jangan terlalu kuatir atau merasa menderita sewaktu melihat anaknya berjuang. Latihan berjuang sejak dini akan mempersiapkan anak untuk dapat bertumbuh kembang dengan baik dan benar, hingga akhirnya bisa menjadi manusia seutuhnya.
“Orang tua tidak perlu kuatir anaknya akan menderita jika dilatih berjuang sejak kecil. Tanpa perjuangan, anak tidak akan memiliki kekuatan dalam mengarungi ombak kehidupan. Latihan berjuang sejak dini adalah persiapan anak untuk menjadi manusia seutuhnya.”
(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

















