“My father gave me the greatest gift anyone could give another person, he believed in me.”
“Ayahku memberiku hadiah terbesar yang bisa diberikan siapa pun kepada orang lain, dia percaya padaku.”
~ Jim Valvano ~
“Narsis” adalah satu kata obrolan yang cukup populer terutama di kalangan anak muda. Banyak yang sering mengucapkannya, namun tidak banyak yang tahu arti persisnya dan bagaimana sejarah munculnya kata tersebut.
Kata “Narsis” berasal dari mitologi Yunani, tentang seorang pemuda bernama Narcissus. Mitologi artinya cerita yang berasal dari mitos, sesuatu yang tidak jelas asal atau sumbernya. Meskipun demikian, kadang kala mitologi mengandung pelajaran berharga yang relevan untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik.
Narcissus sangat ganteng. Dia sudah menolak cinta banyak gadis. Sampai suatu ketika Narcissus menolak cinta Echo, yang menyebabkan Echo patah hati. Echo lalu mengutuk Narcissus sehingga jatuh cinta pada bayangannya sendiri di air kolam.
Suatu Ketika, saat mencoba menyentuh bayangan dirinya di air kolam, Narcissus malah jatuh dan tenggelam, lalu tumbuh bunga yang sampai sekarang disebut bunga Narsis. Istilah “Narsisme” (dengan mengambil kisah Narcissus) pertama kali digunakan dalam psikologi oleh Sigmund Freud (1856 – 1939), seorang psikiater Austria.
“Narsis” atau “Narsisme” adalah perasaan senang terhadap diri sendiri atau mengagumi diri sendiri atau cinta diri yang berlebihan. Tidak semua orang yang narsis pasti percaya diri di depan umum. Sebagian orang yang narsis adalah figur publik yang menarik. Karena sering mendapat pujian, membuat mereka menyukai diri sendiri secara berlebihan. Olok-oloknya, salah satu ciri orang narsis adalah suka memfoto diri sendiri.
Sesungguhnya, narsisme yang terkontrol dan tidak berlebihan adalah baik karena menandakan adanya penerimaan diri, yang dapat dijadikan langkah awal untuk meningkatkan diri menjadi lebih baik. Demikian pula dengan anak, perlu memiliki penerimaan diri dan menyukai dirinya sendiri secara wajar dan pantas.
Orang tua harus memberikan dan menanamkan pengertian kepada anak bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas dirinya dengan cara terus belajar dan terus berusaha menggapai tujuan hidupnya dengan penuh semangat.
Orang tua juga dapat berbagi cerita dan mendorong anaknya untuk mempelajari kisah tentang orang-orang besar dunia yang seringkali memulai hidupnya dari banyak keterbatasan. Jika anak bisa menerima dan menyukai dirinya sendiri, dapat menjadi dasar pijakan yang kokoh untuk menapak ke masa depan yang lebih cerah.
Sebaliknya, jika seorang anak tidak bisa menerima dan menyukai dirinya sendiri, takkan ada damai di dalam dirinya. Akan selalu ada perang berkecamuk di hati dan pikirannya karena penolakan atas dirinya sendiri. Jika demikian adanya, bisakah dia memenangkan perang dalam lingkungannya alias bersaing atau berkolaborasi dengan orang lain? Akan sangat sulit memenangkan dua perang sekaligus, di luar dan di dalam diri.
Ingatlah wahai orang tua, berikan pengertian, ajarkan, dan tanamkan sejak dini kepada anak agar mau menerima dan menyukai dirinya sendiri. Banyak cara yang bisa dilakukan oleh orang tua dalam membantu anak menerima dan menyukai dirinya sendiri. Yang terpenting adalah orang tua tidak boleh putus asa dengan keterbatasan yang mungkin dimiliki oleh anaknya.
“Orang tua harus memberikan pengertian dan mengajarkan serta menanamkan sejak dini kepada anak agar mampu menerima dan menyukai dirinya sendiri. Anak yang tidak bisa menerima dan menyukai dirinya sendiri, takkan ada damai di dalam dirinya. Akan selalu ada perang berkecamuk di hati dan pikirannya sehingga akan sulit memenangkan ‘perang’ kehidupan.”
(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

















