“It’s a long haul bringing up our children to be good; you have to keep doing that – bring them up – and that means bringing things up with them: asking, telling, sounding them out, sounding off yourself – finding, through experience, your own words, your own way of putting them together. You have to learn where you stand, and make sure your kids learn [where you stand], understand why, and soon, you hope, they’ll be standing there beside you, with you.”
“Butuh waktu lama untuk mendidik anak-anak kita menjadi baik; Anda harus terus melakukan itu – mengangkat mereka – dan itu berarti mengangkat hal-hal bersama mereka: menanyakan, menceritakan, menyuarakannya, menyuarakan diri Anda sendiri – menemukan, melalui pengalaman, dengan kata-kata Anda sendiri, cara Anda sendiri untuk menyatukan mereka. Anda harus belajar apa yang Anda pegang dalam kehidupan, dan memastikan anak-anak Anda belajar [apa yang Anda pegang dalam kehidupan], memahami mengapa, dan segera, Anda boleh berharap, mereka akan bersama dengan Anda.”
~ Erik Erikson ~
Sejak anak-anak kecil, kami selalu mencoba memasukkan pelajaran-pelajaran kehidupan melalui berbagai kejadian sehari-hari. Tentu saja teknik penyampaiannya seringkali kami lakukan tidak secara tradisional dengan menjejali anak-anak berbagai nasihat. Dibutuhkan kreativitas dan latihan secara berulang-ulang untuk bisa melakukannya dengan baik.
Salah satu teknik yang cukup sering kami gunakan dalam menumbuhkembangkan anak adalah PEMBELAJARAN MELALUI PENGALAMAN LANGSUNG (experiential learning), dengan cara menghubungkan kejadian sehari-hari, yang meskipun terlihat sederhana, namun seringkali mengandung pelajaran hidup yang dalam dan berharga. Kejadian sehari-hari tersebut seumpama kertas foto dan pelajaran hidupnya seumpama bingkai dari foto tersebut.
Seorang profesor dari UCLA (Amerika Serikat) beberapa puluh tahun yang lalu pernah menyimpulkan dari hasil penelitiannya bahwa keberhasilan berkomunikasi di depan publik tergantung kepada tiga “V”, yakni: (1) Verbal (apa yang disampaikan), (2) Vokal (bagaimana suara sewaktu menyampaikan), dan (3) Visual (keseluruhan penampilan fisik).
Dipercaya bahwa V yang ketiga (visual atau keseluruhan penampilan fisik) memegang peranan terbesar dalam keberhasilan berkomunikasi di depan publik. Menjaga penampilan rambut termasuk ke dalam V yang ketiga ini. Konsep ini sering kami ingatkan kepada anak-anak agar mereka selalu memperhatikan penampilan, salah satunya potongan rambut untuk mendapatkan persepsi positif dari orang lain.
Oleh karenanya, sejak kecil anak-anak sudah kami ajarkan dan biasakan untuk menjaga penampilan rambutnya. Secara rutin kami mengajak mereka ke tempat gunting rambut, seringkali hanya ke salon biasa atau ke barber shop saja. Potongan rambut merekapun tidak harus yang standar, boleh yang modis, namun harus yang masih pantas dan diperbolehkan oleh sekolahnya.
Anak-anak selalu kami ajarkan dan ingatkan untuk tidak ragu-ragu menyampaikan sendiri secara jelas dan tegas kepada tukang gunting rambutnya, model rambut seperti apa persisnya yang diinginkan. Kami biasa mengingatkan mereka bahwa jika sungkan, ragu, atau malu menyampaikan permintaan maka konsekuensinya rambut bisa salah potongan dan harus menunggu waktu potong berikutnya (bisa beberapa minggu hingga bulan) untuk bisa diperbaiki.
Tentu saja di awalnya pernah terjadi kesalahan potongan rambut karena mereka kurang jelas atau salah menyampaikan permintaan ke tukang gunting rambutnya. Atau tukang gunting rambutnya salah dalam menangkap permintaan mereka dan mereka biarkan saja kesalahan tersebut karena malu atau tidak enak hati untuk menyampaikannya. Alhasil, mereka harus menanggung konsekuensinya. Rambut menjadi salah potongan dan mereka merasa malu dengan orang lain karena menganggap potongan rambutnya jelek atau tidak sesuai.
Pelajaran sederhana ini sangat membekas dalam diri anak-anak kami. Ini membantu mereka bertumbuh kembang menjadi pribadi yang berani menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya secara tepat. Mereka menyadari bahwa komunikasi yang jelas itu diperlukan untuk menghindari terjadinya salah persepsi yang dapat membuat hasil komunikasi yang diinginkan tidak tercapai.
Ingatlah wahai orang tua, sangat penting bagi anak untuk menjaga keseluruhan penampilan fisiknya. Yang terpenting adalah dari sejak kecil, anak sudah harus diajarkan agar berani menyampaikan apa yang ada di pikirannya secara tepat kepada orang lain yang berkaitan dengannya.
“Sejak anak kecil, orang tua dapat memasukkan berbagai pelajaran kehidupan melalui kejadian sehari-hari (experiential learning), dibanding menjejali anak dengan berbagai nasihat secara satu arah. Anak harus diajarkan agar berani menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya secara tepat sehingga orang lain tidak salah dalam mengerti dan menindaklanjutinya.”
(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

















